Cap Go Meh: 4 Fakta Unik di Balik Perayaan Imlek ke-15

Perayaan Tahun Baru Imlek akan mencapai puncaknya dengan kemeriahan festival Cap Go Meh. Momen yang selalu dinantikan ini jatuh pada hari ke-15 setelah perayaan Imlek, menandai akhir dari rangkaian perayaan musim semi bagi komunitas Tionghoa. Meskipun suasana perayaan Cap Go Meh mungkin terasa sedikit berbeda dibandingkan dengan hari pertama Imlek, festival ini sarat akan filosofi dan tradisi mendalam yang patut untuk dipahami.

Makna di Balik Nama “Cap Go Meh”

Istilah “Cap Go Meh” lebih akrab terdengar di kalangan masyarakat Tionghoa di Indonesia, Malaysia, dan Singapura, yang menggunakan dialek Hokkien. Secara harfiah, istilah ini merupakan gabungan dari tiga kata: “Cap” yang berarti sepuluh, “Go” yang berarti lima, dan “Meh” yang berarti malam. Jadi, Cap Go Meh secara sederhana diartikan sebagai perayaan malam ke-15.

Bacaan Lainnya

Namun, jika kita menengok ke Tiongkok, negara asal tradisi ini, festival ini dikenal dengan nama yang berbeda. Penduduk setempat menyebutnya sebagai Festival Yuanxiao atau Festival Shangyuan. Di Tiongkok kuno, malam ini bahkan seringkali disamakan dengan Hari Kasih Sayang. Perbedaan penamaan ini menunjukkan bagaimana tradisi dapat berkembang dan beradaptasi dengan budaya lokal di berbagai wilayah.

Kelezatan Kuliner Sebagai Simbol Keberuntungan

Perayaan apapun rasanya tidak akan lengkap tanpa kehadiran hidangan lezat. Di Indonesia, perpaduan budaya yang kaya telah melahirkan sebuah hidangan ikonik yang identik dengan Cap Go Meh, yaitu Lontong Cap Go Meh. Berbeda dengan kue keranjang yang menjadi ciri khas perayaan Imlek, lontong dalam hidangan ini memiliki bentuk bulat panjang yang melambangkan harapan akan umur panjang.

Lontong Cap Go Meh disajikan dengan kuah santan opor ayam yang gurih dan kaya rasa. Pelengkap lainnya seperti sambal goreng ati ampela, taburan bubuk koya yang renyah, serta kerupuk yang menggugah selera, menambah kenikmatan hidangan ini. Warna kuah yang keemasan dipercaya membawa makna rezeki dan keberuntungan bagi siapa pun yang menyantapnya. Hidangan ini menjadi bukti nyata akulturasi budaya Tionghoa dan Indonesia yang menghasilkan cita rasa unik dan sarat makna.

Kebebasan dari Pantangan Imlek

Bagi sebagian orang, aturan dan pantangan yang berlaku selama perayaan Imlek terkadang terasa membatasi. Namun, kabar baiknya adalah pada hari ke-15 Imlek, yaitu saat Cap Go Meh, sebagian besar pantangan tersebut tidak lagi berlaku. Ini adalah momen kebebasan di mana masyarakat Tionghoa dapat menikmati perayaan tanpa kekhawatiran.

Berbagai aktivitas yang sebelumnya dilarang saat Imlek, seperti mengenakan pakaian berwarna hitam atau putih, melakukan kegiatan yang berpotensi menyebabkan barang pecah belah, hingga menangis, kini diperbolehkan. Cap Go Meh menjadi waktu untuk melepaskan segala kekhawatiran dan bersuka cita sepenuhnya, merayakan kebersamaan dan awal yang baru.

Keberagaman Warna Busana dalam Perayaan

Warna merah seringkali mendominasi perayaan Imlek, terlihat pada dekorasi lampion hingga busana yang dikenakan. Namun, dalam perayaan Cap Go Meh, terdapat fakta menarik terkait busana yang dikenakan. Meskipun warna merah tetap populer di Tiongkok, masyarakat keturunan Tionghoa-Indonesia atau peranakan memiliki preferensi warna yang berbeda.

Menurut Peneliti Batik Peranakan China, Notty J. Mahdi, masyarakat peranakan justru tidak selalu mengenakan pakaian berwarna merah saat Cap Go Meh. Sebaliknya, mereka cenderung memilih warna-warna seperti oranye, merah muda, biru, dan coklat tua. Hal ini menambah kekayaan visual dalam perayaan, di mana kita dapat menyaksikan variasi warna pastel yang lembut hingga warna bumi yang hangat, mencerminkan keragaman budaya dan gaya pribadi.

Pesta Rakyat Menyambut Imlek dan Cap Go Meh di Lapangan Banteng

Kabar gembira juga datang dari Ibu Kota Jakarta, di mana Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tengah mempersiapkan agenda perayaan yang spektakuler untuk menyambut rangkaian Imlek dan Cap Go Meh di tahun mendatang. Koordinasi yang matang telah terjalin antara pemerintah pusat dan daerah sejak beberapa waktu lalu, dengan tujuan utama menciptakan pesta budaya yang inklusif dan dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat.

Lapangan Banteng akan menjadi lokasi utama untuk acara puncak perayaan. Kawasan bersejarah ini akan disulap menjadi pusat keramaian yang menampilkan berbagai atraksi budaya yang memukau. Selain itu, kawasan legendaris Glodok di Jakarta Barat akan tetap menjadi jantung perayaan Imlek dan Cap Go Meh, mempertahankan nuansa Pecinan yang kental. Pengunjung dapat menikmati festival lampion yang memukau, atraksi barongsai kelas dunia, dan berbagai hiburan menarik lainnya yang tersebar di titik-titik strategis di seluruh Jakarta. Persiapan ini menjanjikan perayaan yang meriah dan berkesan bagi seluruh warga Jakarta.

Pos terkait