Mengubah Hobi Menjadi Bisnis Kulit Bernilai Sejarah, Kisah Sukses Fahru Gunadi

Bagi sebagian orang, hobi mungkin hanya sekadar pengisi waktu luang. Namun, bagi Fahru Gunadi, hobi membuat produk kulit justru menjadi batu loncatan untuk membangun sebuah bisnis yang kini telah berjalan selama sembilan tahun. Berawal dari testimoni positif seorang teman, Fahru memberanikan diri untuk mengembangkan usahanya, yang kian bertumbuh pesat berkat promosi dari mulut ke mulut.
Bisnis Fahru berfokus pada produk kulit yang mencakup berbagai aksesori dan fesyen. Melalui perjalanan bisnisnya, Fahru menemukan fakta menarik bahwa industri kulit di Kota Padang memiliki nilai historis yang mendalam. Penelusuran lebih lanjut kepada para sesepuh di Kota Padang mengungkap bahwa produk kulit di sana dulunya sangat terkenal dan telah eksis sejak lama. Namun, sayangnya, banyak usaha-usaha tersebut yang tidak mampu bertahan atau tidak diteruskan oleh generasi berikutnya, sehingga kini hanya tersisa segelintir pengusaha kulit di Padang.
Perjalanan dari Pekerja Kantoran Menuju Pengusaha Sukses
Keinginan Fahru untuk menjadi seorang wirausahawan sejatinya sudah tertanam sejak ia masih berstatus sebagai pekerja kantoran. Rutinitas harian yang padat, mulai dari pagi hingga malam, bahkan seringkali hingga larut malam, justru memicu tekad kuat dalam dirinya untuk merintis sebuah usaha mandiri. Ia pun mulai mencoba menawarkan dompet dan produk kulit hasil buatannya kepada teman-teman terdekatnya.
“Kebetulan ini juga hobi saya. Saya memang penikmat dompet kulit dan produk kulit lainnya. Akhirnya saya coba saja, dan ternyata keterusan menjadi satu sumber penghasilan. Itu pun setelah mendapatkan respons positif dari teman-teman, bukan langsung tiba-tiba ingin punya usaha dompet kulit,” kenangnya.
Dalam beberapa tahun terakhir, strategi pemasaran produk kulit Fahru telah mengalami evolusi. Ia aktif memanfaatkan platform digital dan turut serta dalam berbagai pameran untuk menjangkau pasar yang lebih luas. Seiring dengan pertumbuhan bisnisnya, Fahru juga dihadapkan pada berbagai tantangan, terutama dalam hal peningkatan kapasitas produksi dan pemenuhan kebutuhan modal kerja.
Pemerintah daerah memberikan dukungan yang cukup berarti berupa bantuan peralatan produksi, yang sangat membantu Fahru dalam menjaga kapasitas usahanya. Namun, ketika ia mencoba mencari tambahan modal melalui lembaga jasa keuangan, Fahru kerap terkendala oleh persyaratan administratif. Profil usahanya yang belum sepenuhnya memenuhi kriteria debitur menjadi hambatan utama.
“Jujur, kami sangat terbantu dengan adanya layanan seperti SPinjam dan SPayLater. Mengingat bahan baku utama kami banyak dibeli secara online, hal ini sangat berpengaruh terhadap arus kas. Pinjaman online ini sebenarnya kami gunakan murni untuk menjaga perputaran kas. Oleh karena itu, kami sangat disiplin, begitu ada keuntungan langsung kami sisihkan untuk membayar cicilan,” ungkap Fahru. Ia menceritakan bagaimana bisnisnya yang awalnya hanya mampu meraih omzet ratusan ribu rupiah, kini telah berkembang hingga mampu mencapai omzet hingga Rp 10 juta per bulannya.
Keputusan Fahru untuk memanfaatkan layanan keuangan digital ini didasari oleh pertimbangan yang matang. Ia menyadari bahwa perputaran penjualan produk kulit untuk aksesori dan fesyen memang tidak secepat barang-barang kebutuhan sehari-hari. Dengan adanya risiko yang terukur, Fahru dapat merencanakan inovasi produk secara bertahap tanpa mengganggu kelancaran operasional usahanya.
Pertumbuhan Layanan “Buy Now Pay Later” dan Dampaknya pada UMKM
Data yang dihimpun menunjukkan tren positif dalam pertumbuhan layanan beli sekarang bayar nanti atau yang dikenal dengan istilah buy now pay later (BNPL). Diperkirakan, peningkatan signifikan akan terus terjadi hingga tahun 2025. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat bahwa pembiayaan BNPL selama tahun 2025 mengalami peningkatan sebesar 75,05% secara tahunan (year-on-year), mencapai angka Rp 11,94 triliun. Data yang sama juga menunjukkan bahwa rasio kredit bermasalah (Non-Performing Financing atau NPF gross paylater) pada layanan BNPL ini masih terjaga pada level yang aman, yaitu sebesar 2,73%.
Menjaga Produksi dan Memutar Modal dalam Bisnis Fesyen Muslim
Rize Rizana, atau yang akrab disapa Cece, memiliki pengalaman yang tidak jauh berbeda dengan Fahru. Sebagai seorang pengusaha fesyen muslim, Cece berfokus pada produksi hijab dengan motif khas suku Minangkabau. Dalam industri fesyen yang dinamis, tantangan utama yang dihadapi adalah pengelolaan stok barang dan siklus produksi yang efisien.
“Dulu, produksi kami masih berkisar antara 50 hingga 100 pieces setiap bulannya, dan penjualan hanya dilakukan melalui media sosial. Sekarang, alhamdulillah, penjualan kami sudah meluas ke berbagai platform e-commerce, dan kami mampu memproduksi hingga 300 pieces dalam sebulan,” ungkap Cece dengan rasa syukur.
Peningkatan volume produksi ini tentu saja menuntut pengelolaan arus kas yang lebih disiplin. Cece kini secara rutin mencatat setiap transaksi penjualan dan pengeluaran. Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi produk mana yang memiliki perputaran paling cepat dan memberikan margin keuntungan yang optimal.
Dengan pencatatan yang cermat, Cece kini dapat membuat keputusan produksi yang berbasis data, bukan semata-mata berdasarkan intuisi belaka. Perhitungan yang lebih matang ini menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan usahanya dan sekaligus meningkatkan daya saingnya di tengah persaingan industri fesyen yang semakin ketat.







