Kemenangan Tipis Real Madrid di Kandang Benfica, Diwarnai Insiden Rasial
Dalam sebuah pertandingan leg pertama playoff fase gugur yang sengit di Estadio da Luz, Portugal, Real Madrid berhasil mengamankan kemenangan tipis 1-0 atas tuan rumah Benfica. Gol tunggal yang menentukan kemenangan tim asuhan Alvaro Arbeloa itu dicetak oleh bintang asal Brasil, Vinicius Junior, pada menit ke-50. Pertandingan yang digelar pada Rabu (18/2) ini menunjukkan dominasi Real Madrid sejak awal, namun juga diwarnai oleh insiden yang mencoreng sportivitas.
Babak Pertama yang Ketat dan Solidnya Pertahanan Benfica
Sejak peluit dibunyikan, Real Madrid langsung mengambil inisiatif serangan. Kylian Mbappe dan Arda Guler berulang kali menciptakan ancaman di area pertahanan Benfica. Namun, penampilan gemilang kiper Benfica, Anatoliy Trubin, menjadi tembok kokoh yang sulit ditembus. Trubin tercatat melakukan serangkaian penyelamatan krusial, termasuk menahan tendangan jarak dekat dari Mbappe menjelang akhir babak pertama, tepatnya pada menit ke-44.
Benfica, meskipun lebih banyak bertahan, tidak tinggal diam. Tim tuan rumah mencoba memanfaatkan serangan balik untuk mengejutkan Thibaut Courtois. Salah satu peluang emas datang pada menit ke-24 ketika Fredrik Aursnes melepaskan tendangan keras dari luar kotak penalti yang nyaris berbuah gol. Sayangnya, skor kacamata tetap bertahan hingga kedua tim memasuki ruang ganti.
Gol Vinicius Junior dan Kartu Kuning Kontroversial
Memasuki paruh kedua, kebuntuan akhirnya terpecahkan pada menit ke-50. Melalui pergerakan apik di sisi kiri, Kylian Mbappe berhasil melepaskan umpan matang yang disambut sempurna oleh Vinicius Junior. Tendangan kaki kanan Vinicius meluncur deras ke pojok kanan atas gawang Benfica, mengubah papan skor menjadi 1-0.
Namun, momen bersejarah tersebut segera diwarnai kontroversi. Tepat setelah mencetak gol, Vinicius Junior langsung diganjar kartu kuning oleh wasit akibat selebrasi yang dianggap berlebihan. Keputusan ini menuai perdebatan, mengingat emosi yang terkandung dalam gol tersebut.
Tertinggal satu gol, pelatih Benfica terpaksa melakukan perubahan strategi. Pada menit ke-74, Heorhii Sudakov dan Richard Ríos dimasukkan untuk menambah daya gedor tim tuan rumah. Benfica pun meningkatkan intensitas serangan, terutama melalui aksi Sidny Cabral. Meski demikian, pertahanan Real Madrid yang tampil solid berhasil menahan setiap gempuran. Meskipun wasit memberikan waktu tambahan yang cukup panjang, skor 1-0 untuk keunggulan Real Madrid tetap tidak berubah hingga peluit panjang dibunyikan.
Insiden Dugaan Pelecehan Rasial yang Menggemparkan
Pertandingan yang seharusnya menjadi sorotan utama ini, harus rela terbagi perhatiannya dengan sebuah insiden yang sangat disayangkan. Sekitar 10 menit sebelum pertandingan berakhir, laga sempat terhenti karena Vinicius Junior melaporkan dugaan pelecehan rasial yang dilayangkan oleh pemain Benfica, Gianluca Prestianni.
Kejadian ini bermula tak lama setelah Vinicius Junior melakukan selebrasi gol dengan tarian khasnya di sudut lapangan. Prestianni terlihat mendekati Vinicius sambil menutupi mulutnya dengan jersey. Vinicius, yang tampak sangat emosional, segera melaporkan tindakan tersebut kepada wasit, Francois Letexier.
Menurut laporan yang beredar, rekan setim Vinicius, Aurelien Tchouameni, mengonfirmasi bahwa Vinicius diejek dengan sebutan yang merendahkan martabat, yaitu “monyet”. “Ini tidak boleh terjadi. Vini memberi tahu kami bahwa orang itu memanggilnya monyet. Dia (Prestianni) mengelak dan mengatakan bahwa dia tidak mengatakan apa-apa,” ujar Tchouameni dengan prihatin.
Menanggapi laporan tersebut, wasit Letexier, yang tidak secara langsung mendengar ucapan Prestianni, hanya memberikan peringatan verbal kepada pemain Benfica tersebut. Prestianni ditarik ke pinggir lapangan untuk diberi teguran, namun tidak ada kartu yang dikeluarkan.
Keputusan wasit ini mendapat sorotan tajam dari kubu Real Madrid. Gelandang Real Madrid, Federico Valverde, menyayangkan sikap wasit dan tindakan pemain lawan. “Sangat disayangkan, padahal ada begitu banyak kamera, tapi kejadian itu tidak terekam. Anda menutupi mulut Anda untuk mengatakan sesuatu. Kami bangga pada Vinicius,” ungkap Valverde, menunjukkan dukungan penuh kepada rekan setimnya.
Insiden ini kembali membuka luka lama terkait isu rasialisme dalam sepak bola, dan memunculkan desakan agar tindakan tegas diambil untuk memberantas segala bentuk diskriminasi di lapangan hijau. Dunia sepak bola menantikan respons dari otoritas terkait terhadap insiden yang sangat memprihatinkan ini.







