Tragedi Ibu Tega Bekap Anak Autisme Hingga Tewas: Kesaksian Suami yang Mengejutkan
Sebuah peristiwa pilu mengguncang sebuah rumah kontrakan di Kelurahan Sukamelang, Kecamatan Subang. Dinding yang berdampingan dengan kantor distributor rokok itu kini menjadi saksi bisu sebuah tragedi yang merenggut nyawa seorang anak laki-laki berusia enam tahun berinisial MA. Ironisnya, pelaku di balik tewasnya MA adalah ibu kandungnya sendiri, KN (28). Namun, di tengah proses hukum yang tengah berjalan, sebuah kesaksian yang tak terduga datang dari IF, suami sekaligus ayah dari korban. Alih-alih meluapkan amarah, IF justru memilih untuk membela sang istri, mengungkapkan sisi lain dari sosok KN yang jauh dari gambaran seorang pelaku kejahatan.
Kesaksian Pilu Sang Suami: “Dia Ibu yang Sabar dan Sangat Menyayangi Anak-anaknya”
Dengan mata yang berkaca-kaca, IF menceritakan bagaimana ia mengenal istrinya, KN. Baginya, KN bukanlah sosok monster kejam seperti yang mungkin dibayangkan publik. Sebaliknya, IF menggambarkan KN sebagai seorang ibu yang penuh dedikasi dan kesabaran, terutama dalam merawat MA yang merupakan anak berkebutuhan khusus dengan autisme.
“Istri saya itu sabar, sangat sayang sama anak-anak. Terutama anak yang kedua (MA),” ujar IF dengan nada lirih saat ditemui pada Selasa, 17 Februari 2026. Ia melanjutkan, KN adalah sosok yang tak kenal lelah dalam mendidik dan membimbing MA.
- Peran Aktif dalam Pendidikan MA:
IF mengungkapkan bahwa KN adalah orang yang pertama kali mengajari MA berbagai hal penting dalam hidup. Hal ini mencakup segala aspek, mulai dari mengantar MA ke sekolah, mengajarkan ibadah salat, hingga membimbing MA agar dapat mandiri dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
IF memohon agar masyarakat tidak terburu-buru menghakimi istrinya. Ia berharap agar publik dapat melihat KN dari sudut pandang yang lebih objektif. “Saya berharap jangan menjustifikasi istri saya. Di mata saya, dia orang baik,” ucapnya dengan penuh harap. Kesaksian IF ini memberikan dimensi baru pada kasus yang menggemparkan ini, menyoroti kompleksitas emosi dan hubungan keluarga di balik sebuah tragedi.
Kronologi: Pengakuan Spontan yang Mengungkap Fakta Memilukan
Peristiwa tragis ini pertama kali terungkap pada Jumat, 13 Februari 2026, siang hari. Tanpa ada paksaan dari pihak manapun, KN mendatangi Markas Kepolisian Sektor (Polsek) Subang Kota sekitar pukul 11.30 WIB. Dengan suara yang terdengar bergetar, ia secara spontan mengakui perbuatannya yang mengerikan: membekap MA menggunakan bantal hingga sang anak tidak dapat bernapas lagi.
Kapolres Subang, Dony Wicaksono, membeberkan fakta-fakta yang sangat memilukan terkait kejadian tersebut. Setelah KN memastikan bahwa MA telah tidak bernyawa, ia sempat memeluk erat tubuh mungil anaknya itu. Dalam momen penuh penyesalan itu, KN tampak merasakan beban yang luar biasa sebelum akhirnya memindahkan jasad MA ke atas tempat tidur.
Pemicu utama dari tragedi yang tak terbayangkan ini diduga kuat adalah luapan emosi yang tak terkendali. KN diduga mengalami pertengkaran hebat dengan suaminya melalui sambungan telepon sesaat sebelum kejadian. Pada saat tragedi itu terjadi, anak ketiga mereka yang masih berusia lima tahun sedang asyik menonton televisi di ruangan yang berbeda. Sang adik kecil itu tidak menyadari bahwa kakaknya tengah berjuang melawan maut di ruangan lain.
Ancaman Hukum dan Penyelidikan Mendalam yang Terus Berjalan
Saat ini, KN harus menghadapi konsekuensi hukum atas perbuatannya. Ia telah ditahan di Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Subang. Pihak kepolisian telah berhasil menyita beberapa barang bukti penting, termasuk bantal yang diduga digunakan untuk membekap MA dan pakaian korban.
KN dijerat dengan pasal berlapis yang memiliki ancaman hukuman berat. Ia didakwa berdasarkan Pasal 458 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) tentang pembunuhan, yang kemudian digabungkan dengan Pasal 44 Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Dalam Rumah Tangga (UU KDRT).
Meskipun IF telah memberikan pembelaan emosional terhadap istrinya, proses hukum tetap harus berjalan sebagaimana mestinya. Penyelidikan mendalam akan terus dilakukan untuk mengungkap secara pasti apakah ada faktor-faktor lain yang memicu tindakan nekat KN, seperti depresi berat atau tekanan psikologis lainnya yang mungkin dialaminya.
Tragedi yang terjadi di Sukamelang ini menjadi sebuah pengingat yang sangat pahit. Peristiwa ini menekankan betapa pentingnya menjaga kesehatan mental dalam lingkungan rumah tangga, terutama bagi para orang tua yang memiliki tanggung jawab besar dalam mendampingi dan merawat anak berkebutuhan khusus. Dukungan psikologis dan pemahaman yang mendalam sangat krusial untuk mencegah terjadinya kasus-kasus serupa di masa mendatang.







