Pencarian 7 Hari Korban Hanyut Sungai Lebar Dihentikan

Operasi SAR Korban Hanyut di Sungai Pulau Lebar Dihentikan Setelah Tujuh Hari Tanpa Hasil

Solok Selatan, Sumatera Barat – Upaya pencarian dan pertolongan (SAR) terhadap Asmadi (45), seorang warga yang dilaporkan hanyut di Sungai Pulau Lebar, Kecamatan Sangir, Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat, telah resmi dihentikan pada Minggu, 8 Februari 2026. Setelah tujuh hari pencarian intensif yang melibatkan berbagai unsur gabungan, tim SAR belum berhasil menemukan keberadaan korban.

Kepala Kantor SAR Kelas A Padang, Abdul Malik, dalam keterangan resminya pada Senin, 9 Februari 2026, menyatakan bahwa penghentian operasi dilakukan setelah seluruh prosedur pencarian dilaksanakan secara maksimal dan menyeluruh, namun tanpa membuahkan hasil yang diharapkan.

Bacaan Lainnya

“Operasi SAR telah dilaksanakan selama tujuh hari dengan melibatkan berbagai unsur dan penyisiran di sepanjang aliran sungai. Namun hingga Minggu sore, korban belum ditemukan sehingga operasi dinilai tidak lagi efektif,” ujar Abdul Malik.

Kronologi Kejadian Hilangnya Asmadi

Peristiwa nahas yang menimpa Asmadi, seorang laki-laki berusia 45 tahun yang berdomisili di Desa Lubuk Pauh, Gunung Tujuh, Kabupaten Kerinci, terjadi pada Senin, 2 Februari 2026, sekitar pukul 09.00 WIB. Saat itu, korban tengah asyik memancing ikan bersama empat orang rekannya di Sungai Pulau Lebar.

Menurut keterangan saksi di lokasi kejadian, tragedi bermula ketika korban diduga tergelincir saat hendak berpindah posisi memancing. Akibatnya, Asmadi jatuh ke dalam sungai dan seketika terseret oleh arus yang cukup deras. Upaya pertolongan awal sempat dilakukan oleh rekan-rekannya serta warga setempat, namun sayangnya tidak berhasil menemukan korban.

Pelaksanaan Operasi SAR Gabungan yang Intensif

Sejak laporan diterima dari Polres Solok Selatan, Kantor SAR Padang melalui Unit Siaga SAR Solok Selatan segera mengerahkan personel dan peralatan ke lokasi kejadian. Operasi pencarian dilakukan secara intensif dengan melibatkan tim SAR gabungan dari berbagai unsur, menunjukkan komitmen kuat untuk menemukan korban.

Pada hari ketujuh pelaksanaan operasi, tim SAR kembali melanjutkan pencarian dengan membagi personel menjadi dua Search and Rescue Unit (SRU) sesuai dengan rencana operasi yang telah disusun. Total area pencarian yang berhasil disisir mencapai sekitar tujuh kilometer di sepanjang aliran Sungai Pulau Lebar, menunjukkan jangkauan luas upaya pencarian.

  • SRU Pertama: Melakukan penyisiran di jalur darat dan sungai, menyisir sisi kiri dan kanan sungai sejauh 2,8 kilometer dari lokasi kejadian awal. Pendekatan ini dilakukan untuk memastikan tidak ada jejak yang terlewatkan di area terdekat.
  • SRU Kedua: Melanjutkan penyisiran sejauh 4,2 kilometer ke arah hilir. Metode yang digunakan adalah kombinasi antara jalur darat, sungai, dan penggunaan perahu rafting untuk menjangkau area yang lebih luas dan sulit diakses.

Selain penyisiran manual yang dilakukan oleh tim, sejumlah peralatan canggih dan vital juga dikerahkan untuk mendukung operasi. Peralatan tersebut meliputi:

  • Rescue car carrier
  • Perahu rafting
  • Peralatan evakuasi
  • Peralatan medis
  • Perangkat komunikasi
  • Telepon satelit, yang sangat krusial untuk mengatasi keterbatasan jaringan di lokasi pencarian yang berada di area blank spot.

Namun, hingga pukul 18.30 WIB pada hari ketujuh, seluruh upaya yang telah dilakukan belum membuahkan hasil positif. Berdasarkan hasil evaluasi di lapangan yang dilakukan secara menyeluruh, serta adanya kesepakatan bersama antara pihak keluarga korban, perangkat nagari, dan seluruh unsur SAR gabungan, diputuskan bahwa operasi SAR dinyatakan dihentikan dan diusulkan untuk ditutup.

Kendala dan Pertimbangan Penghentian Operasi

Keputusan penghentian operasi diambil setelah mempertimbangkan berbagai faktor yang sangat memengaruhi efektivitas pencarian. Abdul Malik menjelaskan beberapa kendala utama yang dihadapi tim di lapangan:

  • Kondisi Medan yang Sulit: Wilayah di sekitar Sungai Pulau Lebar memiliki karakteristik medan yang curam dan sempit, menyulitkan pergerakan tim SAR dan akses peralatan.
  • Keterbatasan Komunikasi: Lokasi kejadian berada di area blank spot, yang berarti sinyal komunikasi sangat terbatas atau bahkan tidak ada sama sekali. Hal ini menghambat koordinasi antar tim dan pelaporan situasi secara real-time.

Meskipun operasi SAR resmi dihentikan, Abdul Malik menegaskan bahwa pihaknya tetap melakukan pemantauan di sekitar lokasi kejadian. Kantor SAR Padang tetap siaga dan berkoordinasi dengan pihak terkait. Apabila di kemudian hari ditemukan tanda-tanda atau informasi baru yang mengarah pada keberadaan korban, operasi SAR akan segera dibuka kembali.

“Kami tetap melakukan pemantauan dan berkoordinasi dengan pihak terkait. Operasi SAR siap dibuka kembali apabila ada petunjuk baru yang mengarah pada keberadaan korban,” tegasnya, menunjukkan komitmen berkelanjutan meskipun operasi utama telah dihentikan.

Partisipasi dan Apresiasi dari Berbagai Unsur

Operasi SAR ini melibatkan sedikitnya 72 personel dari berbagai unsur yang menunjukkan solidaritas dan kerja sama yang luar biasa. Unsur-unsur yang terlibat antara lain:

  • Unit Siaga SAR Solok Selatan
  • Polres Solok Selatan
  • Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Solok Selatan
  • BPBD Kerinci
  • Tentara Nasional Indonesia (TNI)
  • Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI)
  • Perangkat desa setempat
  • Masyarakat sekitar

Kantor SAR Padang juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh unsur yang telah terlibat serta masyarakat setempat yang telah memberikan bantuan dan dukungan selama proses pencarian berlangsung. Kolaborasi ini menjadi bukti nyata kekuatan gotong royong dalam menghadapi situasi darurat.

Pos terkait