Perjuangan Mikayla Melawan Jantung Bocor dan Penyempitan Pembuluh Darah
Di usianya yang baru menginjak empat bulan, Mikayla harus menghadapi kenyataan pahit. Gadis kecil asal Desa Jeriji, Kecamatan Toboali, Kabupaten Bangka Selatan, ini divonis menderita penyakit jantung bawaan. Gejala awal yang muncul berupa muntah berulang hingga tujuh kali dalam sehari membuat keluarganya menduga ia mengalami gangguan pencernaan. Namun, pemeriksaan lebih lanjut mengungkap fakta yang lebih mengkhawatirkan: kelainan jantung bawaan berupa kebocoran jantung disertai penyempitan pembuluh darah menuju paru-paru.
Perjuangan Mikayla tidak berhenti di situ. Operasi jantung baru dapat dilakukan saat ia berusia enam tahun. Kini, meskipun harus bergantung pada alat pacu jantung permanen, Mikayla tumbuh menjadi anak yang ceria dan aktif, seolah tak terbebani oleh alat medis yang membantunya bertahan hidup. Jejak sayatan di dadanya menjadi saksi bisu perjalanan panjang yang telah ia lalui, sebuah tanda kehidupan yang berhasil ia genggam kembali.
Di halaman rumahnya, Mikayla yang kini berusia delapan tahun tampak bersemangat mengenakan seragam sekolahnya. Senyum lebar menghiasi wajahnya saat ia bersiap berangkat ke Sekolah Dasar. Tangannya cekatan mengikat tali sepatu, sementara panggilan “Mak… ayo berangkat” terdengar penuh antusias. Keceriaan yang ia tunjukkan pagi itu menjadi kontras dengan masa lalu yang nyaris merenggut kebahagiaannya. Bekas luka di dadanya, tanda operasi pemasangan alat pacu jantung permanen (pacemaker/PPM), menjadi pengingat akan perjuangan berat yang telah ia lalui.
Ayahnya, Hendi, memandang putrinya dengan penuh kehangatan. “Sekarang dia sudah kelas 2 SD. Sudah bisa bermain seperti anak-anak lainnya,” ujarnya. Namun, ia tak lupa akan rentetan cobaan yang harus dihadapi keluarganya demi kesehatan Mikayla.
Gejala Awal dan Diagnosis yang Mengejutkan
Semua berawal ketika Mikayla berusia empat bulan. Muntah berulang yang dialaminya awalnya dianggap sebagai masalah pencernaan biasa. Namun, perubahan warna muntah menjadi biru, diikuti dengan kebiruan pada badan dan bibirnya, membuat keluarga panik. Mereka segera membawanya ke fasilitas kesehatan terdekat di Toboali. Dari pemeriksaan klinis awal, dokter mencurigai adanya kelainan pada jantung Mikayla.
Rujukan pun dilakukan secara berjenjang, dari RSUD setempat ke RS Bakti Timah Pangkalpinang. Hasil pemeriksaan ekokardiografi akhirnya mengungkap diagnosis yang mengejutkan: Tetralogy of Fallot (TOF), sebuah kelainan jantung bawaan yang ditandai dengan kebocoran jantung dan penyempitan pembuluh darah ke paru-paru. Pada saat itu, Provinsi Bangka Belitung belum memiliki dokter spesialis jantung anak.
“Obat hanya untuk menahan jantung supaya tidak berdebar. Tapi dokter bilang penyakit ini tidak ada obatnya. Satu-satunya jalan operasi,” jelas Hendi. Keluarga kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita di Jakarta. Mikayla baru berusia kurang dari lima bulan ketika ia pertama kali dibawa ke ibu kota.
Setelah menjalani pemeriksaan CT scan dan ekokardiografi lebih lanjut, dokter menegaskan bahwa operasi tidak dapat ditunda. Namun, mereka harus menghadapi kenyataan bahwa ada daftar antrean pasien dari seluruh Indonesia yang harus dilalui.
Menanti Antrean dan Cobaan Baru
Selama masa penantian jadwal operasi, Mikayla harus menjalani pengawasan ketat. Tangisan kecil saja dapat memicu bibir, lidah, dan jari-jarinya membiru akibat kekurangan oksigen. Pertumbuhan dan perkembangannya pun terhambat; ia baru bisa berjalan mendekati usia dua tahun.
Cobaan yang lebih berat kembali menghampiri ketika Mikayla berusia sekitar lima tahun. Ia tiba-tiba pingsan dan tak sadarkan diri selama hampir dua jam. Setelah berpindah dari beberapa rumah sakit di Bangka, dokter mencurigai adanya infeksi serius di otak dan merujuknya ke RSUP Mohammad Hoesin Palembang.
“Hasil CT scan menunjukkan ada abses di otak. Dokter bilang harus segera operasi,” ungkap Hendi. Operasi pengangkatan abses dilakukan setelah kondisi darah Mikayla stabil. Pemulihan pascaoperasi memakan waktu hampir dua bulan. Dokter menjelaskan bahwa abses otak tersebut berkaitan erat dengan kelainan jantung yang belum tertangani. Kekurangan oksigen dalam jangka panjang diduga menjadi pemicu infeksi berat tersebut. Sejak saat itu, operasi jantung menjadi prioritas utama yang harus segera dilakukan.
Operasi Jantung, Komplikasi, dan Alat Pacu Jantung Permanen
Pada usia enam tahun, Mikayla kembali dibawa ke Jakarta melalui rujukan BPJS Kesehatan. Awal tahun 2023, operasi jantung terbuka yang telah lama dinanti akhirnya dapat dilaksanakan. Selama sembilan jam, tim dokter berupaya menutup kebocoran pada jantung Mikayla sekaligus memperbaiki penyempitan pembuluh darahnya. Ia menjalani perawatan intensif selama hampir satu bulan, termasuk di ruang Unit Perawatan Intensif (ICU). Seluruh biaya prosedur ini ditanggung oleh BPJS Kesehatan.
Namun, pascaoperasi, muncul komplikasi baru yang tak terduga: aritmia atau gangguan irama jantung. Meskipun telah diberikan obat-obatan, kondisi Mikayla tidak menunjukkan perbaikan yang signifikan. Dokter akhirnya menyarankan pemasangan alat pacu jantung permanen sebagai satu-satunya solusi.
Prosedur pemasangan alat pacu jantung permanen dilakukan melalui kateterisasi dan memakan waktu kurang dari dua jam. Dokter memilih tipe single chamber, yang disesuaikan dengan usia dan kondisi jantung Mikayla. Sebagaimana informasi yang diperoleh Hendi, harga alat tersebut mencapai sekitar Rp85 juta, dan kembali ditanggung sepenuhnya oleh BPJS Kesehatan.
Kini, setiap detak jantung Mikayla dibantu oleh sebuah alat kecil yang tertanam di dalam tubuhnya. “Kalau bahasa kami seperti baterai. Untuk kelistrikan jantung,” jelas Hendi.
Pagi itu, Mikayla berangkat sekolah ditemani ibu dan adik kecilnya. Tas berwarna pink tersampir di punggungnya saat ia duduk di belakang motor, memegang jok dengan tegak. Tawa riangnya terdengar sepanjang perjalanan.
“Yang jelas kami sangat terbantu BPJS. Dari operasi jantung, operasi otak, sampai pasang PPM semuanya ditanggung. Kalau tanpa BPJS, mungkin biayanya bisa ratusan juta,” tutup Hendi, yang sehari-harinya bekerja serabutan mengelola kebun sawit milik orang lain dan berbagai pekerjaan lainnya.
BPJS Kesehatan: Pilar Utama Penanganan Penyakit Jantung di Bangka Belitung
Kepala BPJS Kesehatan Cabang Pangkalpinang, Apt. Aswalmi Gusmita, MSM., AAK., mengungkapkan bahwa penyakit jantung kronis menjadi penyerap anggaran terbesar bagi BPJS Kesehatan di Bangka Belitung. Total biaya yang dialokasikan untuk penyakit ini mencapai lebih dari Rp53 miliar, atau lebih dari separuh dari total dana Rp96,075 miliar yang dialokasikan untuk penyakit kronis pada tahun 2025.
Dominasi anggaran ini mengindikasikan bahwa penyakit jantung tidak hanya menjadi masalah kesehatan, tetapi juga tantangan finansial terbesar bagi program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) di wilayah tersebut. Posisi kedua ditempati oleh stroke dengan anggaran sekitar Rp14,9 miliar, diikuti oleh kanker sebesar Rp14,4 miliar, sementara gagal ginjal dan thalassemia masing-masing menelan biaya Rp5-6 miliar.
“Penyakit jantung menempati anggaran terbesar karena pasien membutuhkan layanan rutin dan tindakan lanjutan yang tidak murah. Stroke dan kanker juga menjadi beban utama, tapi totalnya masih jauh di bawah jantung. Sementara penyakit langka seperti hemofilia atau thalassemia, jumlah pasien lebih sedikit sehingga total anggarannya lebih rendah,” ujar Aswalmi.
Ia menambahkan, besarnya anggaran untuk penanganan penyakit jantung menunjukkan bahwa layanan ini harus dijalankan secara berkelanjutan, mengingat pasien kronis memerlukan perawatan seumur hidup. Melalui kombinasi pembiayaan kuratif, promotif, dan preventif, serta dukungan gotong royong dari masyarakat, BPJS Kesehatan Bangka Belitung berupaya memastikan pasien penyakit jantung kronis tetap mendapatkan layanan optimal tanpa terhambat oleh biaya.
“Program JKN hadir untuk seluruh masyarakat Indonesia, baik yang sakit maupun yang sehat. Dengan gotong royong, kita pastikan layanan kesehatan berkualitas tetap tersedia, terutama bagi pasien penyakit jantung kronis yang paling besar menyerap anggaran,” tegas Aswalmi.
Konsep gotong royong merupakan pilar utama program JKN. “Pasien yang membutuhkan perawatan mahal tentu tidak bisa membiayai sendiri. Dukungan masyarakat yang sehat melalui iuran memastikan layanan tetap tersedia bagi pasien yang membutuhkan, terutama pasien jantung kronis,” jelasnya. Peserta yang sehat memiliki peran krusial dalam menjaga keberlangsungan program, karena iuran yang mereka bayarkan menjadi penopang bagi peserta yang sedang sakit dan memerlukan biaya besar.
“Tidak tepat jika ada narasi ‘saya tidak sakit jadi tidak perlu bayar iuran’ atau ‘saya belum sakit jadi tidak perlu mendaftar’. JKN justru dibangun agar semua saling membantu. Yang sehat membantu yang sakit, dan ketika yang sehat itu sakit, sistem akan bekerja sebaliknya,” pungkas Aswalmi.







