Jejak Nus Kei, Ketua DPD Golkar Maluku Tenggara yang Tewas Ditikam, Terkait Kasus Blowfish

Kehilangan Ketua DPD Partai Golkar Maluku Tenggara

Ketua DPD Partai Golkar Maluku Tenggara, Agrapinus Rumatora atau dikenal dengan Nus Kei, meninggal dunia setelah ditikam oleh orang tak dikenal (OTK) saat berada di Bandara Karel Sadsuitubun, Kecamatan Kei Kecil, Kabupaten Maluku Tenggara, Maluku, pada Minggu (19/4/2026). Insiden ini mengejutkan seluruh masyarakat dan partai politik terkait.

Dave Laksono, Ketua DPP Partai Golkar, membenarkan kejadian tersebut. Ia mengungkapkan bahwa Nus Kei sempat menjalani perawatan medis di Rumah Sakit Karel Sadsuitubun sebelum akhirnya dinyatakan meninggal dunia. Menurut Dave, korban menderita empat luka tusuk akibat penikaman oleh OTK tersebut. Luka-luka tersebut terdapat di bagian dada kanan dan kiri, leher bagian kiri, serta tulang belakang.

Bacaan Lainnya

Nus Kei adalah kerabat dari salah satu pemimpin kelompok massa yang sama-sama berasal dari Pulau Kei, bagian tenggara provinsi Maluku. Pada tahun 2020 silam, terjadi perselisihan hubungan saudara akibat hasil pembagian tanah di Kota Ambon, Maluku. Buntut dari urusan tanah tersebut, rumah Nus Kei di Green Lake City, Tangerang dan Duri Kosambi, Jakarta Barat didatangi kelompok massa.

Pada sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Barat, Jalan Letjen S Parman, Rabu (24/2/2021), Nus Kei menyebut penyerangan terhadap anak buahnya, Erwin dan Frengky, terjadi sekitar pukul 12.00 WIB pada Minggu 21 Juni 2020 di Duri Kosambi, Jakarta Barat. Mendengar kabar itu, Nus Kei bergegas menuju lokasi kejadian dari rumahnya di Green Lake City, Tangerang, menaiki mobilnya bersama 4 orang. Sesampai di sana, Nus Kei melihat Erwin sudah tergeletak di tengah jalan dengan luka bacok.

Saat itu Nus Kei mengaku tidak melihat saksi Frengky. Dia kemudian bergegas mengantar Erwin ke rumah sakit. Ketika berada di rumah sakit, Nus Kei mendapat kabar dari anaknya bahwa rumahnya sudah diserang. Nus Kei langsung memastikan kondisi keluarganya setiba di rumah. Dia membeberkan rumahnya sudah dalam kondisi rusak. “Semuanya hancur, lantai 1 di bawah semua rusak, semua barang rusak,” kata Nus Kei di persidangan.

“Istri anak?” tanya hakim ketua Yulisar. “Mereka lari,” jawab Nus Kei.

Nus Kei juga pernah menjadi korban penyerangan dalam peristiwa Blowfish pada April tahun 2010 silam. Ketika itu ia menjadi korban pemukulan. Nus Kei datang ke Blowfish setelah satu hari sebelumnya terjadi keributan di lokasi tersebut. Setelah Nus Kei datang ke Blowfish, dia justru menjadi korban pemukulan oleh beberapa orang. Nus Kei dipukuli setelah sempat bertemu kepala security Blowfish.

Aksi pemukulan terhadap Nus Kei itu kemudian berkembang menjadi keributan besar di dalam tempat hiburan tersebut yang akhirnya menewaskan dua orang. Saat itu diketahui memang ada beberapa orang dari kubu lawan yang telah bersiap ketika tahu Nus Kei tiba bersama orang-orangnya. Setelah keributan itu, empat orang dari kubu lawan menjadi tersangka dan disidangkan.

Kasus itu bermula saat rebutan lahan bisnis dengan seorang tokoh dari kelompok lain. Disebutkan bahwa bisnis yang tengah diperebutkan pada waktu itu adalah jasa keamanan, dan bisnis memasok keperluan pub serta restoran, seperti minuman keras.

Persidangan kasus Blowfish di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan juga sempat rusuh. Dua kelompok massa saling menyerang di depan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, sekitar pukul 13.15 WIB pada 29 September 2010. Akibat kerusuhan tersebut, empat orang dikabarkan tewas dan belasan lainnya terluka. Salah satu korban luka adalah Kepala Kepolisian Resor Jakarta Selatan Komisaris Besar Gatot Eddy.

Keributan bermula sesaat seusai sidang kasus Susno Duadji, massa pendukung korban kasus kerusuhan Blowfish meninggalkan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan untuk makan siang di sekitar lingkungan Pengadilan Negeri. Massa tersebut makan siang di sebuah rumah makan padang yang tidak jauh dari Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Tiga Kopaja 608 dari arah Ragunan mendatangi massa pendukung korban tersebut. Sempat terjadi adu mulut, sebelum pecah kerusuhan lebih besar yang dipicu penembakan terhadap salah seorang massa pendukung korban. Kerusuhan lebih besar terjadi. Massa kedua kubu menggunakan senjata tajam, seperti golok. Sempat terjadi juga beberapa kali tembakan yang dilepaskan massa pendukung terdakwa ke arah massa pendukung korban.

Bentrokan selesai setelah polisi menerjunkan kurang lebih 500 personel, dari Polres dan Polda. Massa kedua kubu pendukung membubarkan diri.

Pos terkait