Fenomena Benda Langit Misterius di OKI dan Sekitar
Pada Sabtu malam, masyarakat Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) dan sekitarnya dihebohkan oleh munculnya benda langit misterius yang melintasi langit. Kejadian ini terjadi pada pukul 20.30 WIB dan menarik perhatian warga dari berbagai wilayah seperti Kecamatan Cengal, Tulung Selapan, Mesuji, Lempuing, serta daerah lainnya. Benda tersebut juga terlihat oleh warga di Provinsi Lampung sekitar pukul 19.55–20.00 WIB.
Pengalaman Warga yang Terkejut
Salah satu warga Cengal, Misbah, mengaku sangat terkejut saat sedang berada di luar rumah bersama keluarganya. Ia melihat puluhan api yang terbang saling berdampingan di langit. “Saya panik karena ada api yang terbang dari arah bawah menuju ke atas langit. Saya langsung istigfar menyebut nama Allah,” ujarnya dengan suara gemetar.
Menurut Misbah, fenomena ini adalah pertama kalinya ia melihat hal semacam itu. Ia segera menyalakan kamera handphone untuk merekam peristiwa langka tersebut. “Tidak hanya terlihat mata, bola api juga sangat jelas saat direkam. Kami sangat khawatir kalau itu rudal yang lewat di atas rumah. Tapi semoga saja itu bukan dan jangan sampai ada korban,” tambahnya.
Banyak warga lainnya juga keluar rumah untuk menyaksikan langsung fenomena ini. Bahkan, isu tentang kejadian ini menjadi pembicaraan hangat di desa tetangga dan membuat heboh seluruh masyarakat.
Persepsi Warga Mesuji Raya
Asma, warga Mesuji Raya, juga mengakui melihat sinar api panjang melintasi perkebunan sawit saat dalam perjalanan. “Melihat bentuknya sangat besar dan seperti meteor atau rudal yang lewat. Saya dengar juga daerah lain banyak yang melihat di Sumatera,” katanya.
Dugaan Peneliti ITERA
Peneliti Laboran Observatorium Astronomi Institut Teknologi Sumatera (ITERA), Adhitya Oktaviandra, menyatakan bahwa benda yang terlihat bersinar tersebut bukanlah meteor atau komet. Ia menduga benda misterius tersebut merupakan sampah antariksa yang berasal dari sisa roket asal China yang masuk kembali ke orbit Bumi.
Mahasiswa Program Studi Sains Atmosfer dan Keplanetan ITERA, Irsyad Al Akbar, mengonfirmasi dugaan Adhitya. Menurutnya, fenomena tersebut lebih mengarah pada sampah antariksa (space debris) yang masuk kembali ke atmosfer Bumi.
“Memang sempat beredar informasi mengenai komet C/2026 A1 (MAPS) yang berada pada posisi relatif dekat dengan Bumi pada 4 April. Namun, ukuran komet tidak sebesar seperti yang divisualisasikan dalam video yang beredar di media sosial,” ujar Irsyad.
Irsyad juga menyebut bahwa awalnya sempat muncul hipotesis bahwa benda bercahaya tersebut berkaitan dengan peluncuran misi Artemis 2. Namun, setelah ditelaah lebih lanjut, kemungkinan tersebut dinilai kecil.
Peluncuran Roket yang Relevan
Irsyad menjelaskan bahwa beberapa peluncuran roket dalam beberapa hari terakhir lebih relevan untuk dikaitkan dengan fenomena ini. Di antaranya peluncuran roket Falcon 9 dan Atlas oleh Amerika Serikat yang berpotensi menghasilkan puing antariksa yang kemudian masuk ke atmosfer.
Selain itu, data dari laboran Observatorium Astronomi ITERA menunjukkan adanya objek sisa roket asal China yang kembali memasuki orbit Bumi. Data ini diperkuat oleh informasi pelacakan objek antariksa yang dapat diakses secara publik melalui situs pemantauan orbit satelit dan debris.
Penjelasan Ilmiah dan Imbauan
Dari berbagai sumber dan analisis yang telah dihimpun, Irsyad menyimpulkan bahwa fenomena cahaya tersebut sangat kecil kemungkinannya merupakan meteor atau komet. “Untuk sementara, data yang ada mengarah kuat bahwa benda itu adalah sampah antariksa. Bahkan, ada indikasi spesifik bahwa objek tersebut merupakan bagian dari badan roket CZ-3B R/B milik China,” tambahnya.
Fenomena masuknya sampah antariksa ke atmosfer sebenarnya bukan hal yang jarang terjadi. Ketika memasuki lapisan atmosfer, gesekan dengan udara menyebabkan objek terbakar dan menimbulkan cahaya terang yang sering disalahartikan sebagai meteor oleh masyarakat.
Irsyad pun mengimbau masyarakat untuk tidak mudah percaya pada informasi visual yang belum terverifikasi di media sosial, serta menunggu penjelasan resmi dari lembaga terkait.
[Foto: ]
[Foto: ]







