Kemenko PM: Kasus Amsal Jadi Peringatan Keras bagi Ekraf Masa Depan

Perkara Hukum Videografer Amsal Christy Sitepu Mengancam Industri Kreatif

Kasus hukum yang menimpa videografer Amsal Christy Sitepu menjadi perhatian serius dari Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Kemenko PM). Pemerintah melihat bahwa perkara ini memiliki potensi untuk mengganggu keberlangsungan industri kreatif, terutama dalam hal perlindungan profesi konten kreator di Indonesia.

Deputi Bidang Koordinasi Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat dan Pelindungan Pekerja Migran Kemenko PM, Leontinus Alpha Edison, menyebut kasus ini sebagai peringatan penting bagi ekosistem ekonomi kreatif. Ia menilai bahwa Amsal mewakili jutaan pelaku kreatif yang berkontribusi membangun narasi bangsa melalui karya visual. Namun, sayangnya, Amsal justru tersandung masalah hukum akibat perbedaan penilaian atas jasa profesional.

Bacaan Lainnya

Leontinus menyoroti bahwa tuduhan korupsi dalam kasus ini hanya karena perbedaan persepsi nilai jasa profesional, merupakan bentuk kriminalisasi yang dapat mematikan inovasi di tingkat akar rumput. Ia menegaskan bahwa pengakuan terhadap nilai jasa profesional sangat penting dalam industri kreatif.

Penilaian Audit yang Memicu Kontroversi

Ia juga mempertanyakan hasil audit administratif yang menilai sejumlah komponen pekerjaan—seperti konsep, editing, hingga dubbing—bernilai nol rupiah, meski kualitasnya diakui oleh pengguna jasa, dalam hal ini para kepala desa. Menurut Leontinus, dalam industri kreatif, proses pascaproduksi menjadi sumber utama nilai tambah sebuah karya. Jika biaya jasa tersebut diabaikan, sama saja dengan tidak menghargai profesi kreator.

Amsal, menurut Leontinus, hanya bertindak sebagai penyedia jasa profesional yang mengajukan proposal secara terbuka sesuai keahliannya. Ia juga menekankan bahwa Amsal bukan pihak yang memiliki kewenangan dalam menentukan besaran anggaran negara. Hal ini menunjukkan bahwa tindakan Amsal dilakukan dalam batas profesionalisme dan keahlian yang dimilikinya.

Perlindungan Profesi Kreatif Sebagai Prioritas

Sebagai institusi yang membina sektor ekonomi kreatif, Kemenko PM menegaskan perlindungan terhadap pelaku industri merupakan hal yang tidak bisa ditawar demi menjaga keberlanjutan ekonomi nasional. Leontinus mengingatkan, jika pekerja kreatif bisa dipidana hanya karena penilaian birokrasi yang kaku terhadap aspek estetika, hal itu berpotensi merusak kepercayaan publik terhadap kerja sama antara pemerintah dan komunitas kreatif.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada pimpinan Komisi III DPR RI, Habiburokhman dan Kawendra, yang dinilai telah memberi perhatian khusus pada kasus Amsal Sitepu serta menjadi dorongan moral bagi pelaku ekonomi kreatif untuk tetap berkarya tanpa rasa takut selama berada di jalur yang benar.

Tantangan dan Harapan di Masa Depan

Perkara ini menunjukkan betapa pentingnya pengakuan terhadap nilai jasa profesional dalam industri kreatif. Diperlukan kesadaran dari pihak-pihak terkait, termasuk pemerintah dan lembaga pengawasan, untuk memastikan bahwa setiap profesi diberi ruang dan perlindungan yang layak.

Selain itu, diperlukan pendekatan yang lebih fleksibel dalam menilai karya kreatif, terutama dalam konteks kerja sama antara pemerintah dan komunitas kreatif. Dengan demikian, inovasi dan karya-karya kreatif dapat terus berkembang tanpa adanya ancaman hukum yang tidak proporsional.

Kasus Amsal Christy Sitepu menjadi contoh penting tentang bagaimana sistem hukum harus mampu menyeimbangkan antara penegakan hukum dan perlindungan terhadap kreativitas serta profesi kreatif. Dengan langkah-langkah yang tepat, diharapkan industri kreatif di Indonesia dapat terus berkembang dan menjadi salah satu sektor unggulan dalam perekonomian nasional.

Pos terkait