Laksamana TNI Muhammad Ali Lepas Pelayaran Muhibah Diplomasi dan Latihan Kartika Jala Krida 2026
JAKARTA – Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali secara resmi melepas keberangkatan Pelayaran Muhibah Diplomasi Duta Bangsa, yang juga mencakup pelaksanaan latihan praktik pelayaran Kartika Jala Krida (KJK) 2026. Kegiatan ini diikuti oleh Taruna Akademi Angkatan Laut (AAL) Angkatan ke-73, serta delegasi dari berbagai negara. Acara pelepasan berlangsung khidmat di Dermaga Markas Komando Kolinlamil, Jakarta Utara, pada Kamis, 02 April 2026.
Sebanyak 79 taruna AAL, didampingi oleh perwira pendamping dan kru kapal, akan berlayar menggunakan kapal latih tiang tinggi TNI AL, KRI Bima Suci. Kehadiran mereka dalam pelayaran ini merupakan bagian integral dari kurikulum pendidikan yang dirancang untuk memberikan pengalaman langsung dalam pelayaran maritim dan diplomasi internasional.
Lebih dari sekadar ajang pelatihan bagi taruna TNI AL, pelayaran ini juga menjadi platform diplomasi yang melibatkan partisipasi internasional. Sebanyak 52 peserta delegasi dari program ASEAN Plus Cadet Sail (APCS) turut serta. Delegasi ini berasal dari 24 negara, baik anggota ASEAN maupun negara non-ASEAN, yang mencakup perwakilan dari Australia, Tiongkok, Kanada, Afrika, serta berbagai negara Eropa. Dengan demikian, total peserta yang berlayar di atas KRI Bima Suci mencapai 131 orang, menciptakan sebuah lingkungan multikultural dan kolaboratif di laut.
Rute Pelayaran Strategis dan Durasi yang Menantang
Pelayaran muhibah ini dirancang untuk menempuh jarak yang signifikan, yaitu sejauh 16.877 Nautical Mile (NM), dengan perkiraan durasi selama 124 hari. Perjalanan panjang ini akan melintasi delapan negara, memberikan kesempatan luas bagi para peserta untuk berinteraksi dengan budaya dan masyarakat yang berbeda.
Rute pelayaran yang telah ditetapkan meliputi:
* Surabaya
* Jakarta
* Belawan
* Sri Lanka
* Singapura
* Vietnam
* Tiongkok
* Korea Selatan
* Rusia
* Jepang
* Filipina
* Bitung
* Dan kembali ke Surabaya
Rute ini tidak hanya strategis dari segi geografis, tetapi juga mempertimbangkan aspek keamanan dan tujuan diplomasi.
Fokus Ganda: Navigasi dan Diplomasi
Dalam sambutannya, KSAL Laksamana TNI Muhammad Ali menekankan bahwa pelayaran ini memiliki dua fokus utama yang saling melengkapi. Pertama, para peserta akan mendapatkan pelatihan mendalam mengenai ilmu dan navigasi lingkaran besar. Ini merupakan keterampilan fundamental bagi setiap pelaut, terutama bagi para taruna yang sedang menempuh pendidikan di Akademi Angkatan Laut. Pengalaman langsung di laut lepas akan mengasah kemampuan mereka dalam membaca peta, menentukan posisi, dan merencanakan rute pelayaran yang aman dan efisien.
Kedua, pelayaran ini juga merupakan ajang penting untuk belajar mengenai diplomasi. Para peserta diharapkan dapat berperan sebagai duta bangsa, menjalin hubungan baik dengan negara-negara yang disinggahi, serta mempromosikan citra positif Indonesia di kancah internasional. Interaksi dengan perwakilan negara lain, masyarakat lokal, dan pejabat pemerintahan di setiap pelabuhan akan menjadi pembelajaran berharga dalam memahami dinamika hubungan internasional.
Keamanan Menjadi Prioritas Utama
Mengingat situasi geopolitik global yang terkadang tidak menentu, Laksamana Ali menjelaskan bahwa rute pelayaran telah dirancang dengan cermat untuk melintasi wilayah-wilayah yang dianggap aman. Perencanaan ini dilakukan dengan mempertimbangkan potensi risiko, terutama di tengah konflik yang masih berlangsung di beberapa belahan dunia.
“Memang sudah kita rencanakan ke negara-negara yang memang dianggap aman,” ujar Laksamana Ali. Beliau menambahkan bahwa koordinasi intensif telah dilakukan dengan berbagai pihak, termasuk Kementerian Luar Negeri, serta Duta Besar dan Atase Pertahanan/Militer/Angkatan Laut Indonesia di negara-negara tujuan. “Dan dipastikan mereka aman,” tegasnya, menunjukkan komitmen untuk menjaga keselamatan seluruh peserta.
Misi Promosi Produk UMKM Indonesia
Selain aspek militer dan diplomasi, pelayaran ini juga membawa misi ekonomi yang penting. TNI Angkatan Laut berkolaborasi dengan Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta Kementerian Perdagangan Republik Indonesia. Kolaborasi ini bertujuan untuk memperkenalkan dan mempromosikan produk-produk unggulan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Indonesia kepada negara-negara yang disinggahi.
Wakil Menteri UMKM, Helvi Yuni Moraza, yang turut hadir dalam acara pelepasan, menyampaikan apresiasinya atas fasilitas yang diberikan oleh TNI AL. “Kami mengucapkan terima kasih Bapak Kasal beserta jajaran memberikan fasilitas itu, di mana beberapa produk UMKM akan diperkenalkan kepada negara-negara yang disinggahi,” ungkapnya. Beliau berharap inisiatif ini dapat membuka peluang pasar baru bagi produk-produk UMKM Indonesia di luar negeri.
Senada dengan itu, Wakil Menteri Perdagangan RI, Dyah Roro Esti Widya Putri, menyatakan harapannya agar kolaborasi lintas kementerian dan lembaga ini dapat berjalan sesuai target. “Mudah-mudahan wujud kita bersama selain dari kita dapat memberdayakan UMKM yang kita tahu berkontribusi lebih dari 60 persen dari PDB kita, tapi di sisi lain juga kita bisa memperkenalkan produk-produk kebanggaan Indonesia ke pasar internasional dan dunia,” pungkasnya.
Melalui misi ganda ini, KRI Bima Suci tidak hanya menjadi sarana pendidikan dan diplomasi bagi para taruna dan delegasi internasional, tetapi juga menjadi duta ekonomi yang membawa potensi kekayaan produk UMKM Indonesia ke kancah global. Pelayaran ini diharapkan dapat mempererat persahabatan antarnegara, meningkatkan kapabilitas maritim, serta membuka jalan bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia.







