Polisi vs Remaja Water Jelly: Kronologi Versi Polda

Tragedi Tawuran Senapan Water Jelly di Makassar: Remaja Tewas Akibat Tembakan Tak Sengaja

Insiden memilukan terjadi di Makassar, Sulawesi Selatan, pada Minggu (1/3/2026) pagi, merenggut nyawa seorang remaja bernama Bertrand Eka Prasetyo (18). Peristiwa tragis ini diduga dipicu oleh tawuran antar-remaja yang menggunakan senapan water jelly, dan berujung pada tembakan tak disengaja oleh seorang anggota polisi. Kejadian yang berlangsung di Jalan Toddopuli Raya, Kecamatan Panakkukang, ini menyisakan duka mendalam dan pertanyaan mengenai penanganan aksi kriminalitas remaja.

Kronologi Awal: Laporan Warga Hingga Kedatangan Polisi

Semua bermula dari laporan warga yang resah terhadap aksi sekelompok remaja yang terlibat tawuran di Jalan Toddopuli Raya, sekitar pukul 07.00 WITA. Kelompok ini tidak hanya saling serang, tetapi juga dilaporkan mengganggu pengguna jalan. Menurut keterangan Kombes Pol Arya Perdana, Kapolrestabes Makassar, aksi para remaja tersebut sangat meresahkan.

Bacaan Lainnya

“Ada laporan bahwa ada anak-anak muda yang sedang bermain senapan omega, di situ mereka mencegat orang-orang yang jalan, lalu mendorong orang yang jalan juga,” ujar Kombes Pol Arya Perdana.

Menanggapi laporan tersebut, Unit Reskrim Polsek Panakkukang, yang diwakili oleh seorang perwira berinisial Iptu N, segera mendatangi lokasi kejadian untuk melakukan pembubaran. Setibanya di tempat, petugas mendapati kelompok remaja tersebut sedang melakukan tindakan represif terhadap seorang pengendara sepeda motor.

Detik-Detik Mencekam: Pergulatan dan Tembakan Tak Disengaja

Saat Iptu N turun dari mobil dan berupaya mengamankan para remaja yang terlibat tawuran, situasi semakin memanas. Para remaja tersebut berusaha melarikan diri. Dalam upaya penangkapan, Iptu N dilaporkan melepaskan tembakan peringatan ke udara.

Namun, saat hendak diamankan, Bertrand Eka Prasetyo disebut memberikan perlawanan. Ia mencoba melepaskan diri dari pegangan petugas. Dalam kondisi pergulatan fisik yang intens inilah, senjata api yang dipegang oleh Iptu N dilaporkan meletus secara tidak sengaja.

“Ketika meronta, pistol yang masih dipegang oleh Iptu N itu meletus dengan tidak sengaja terkena bagian tubuh belakang (korban),” jelas Kombes Pol Arya Perdana. Tembakan tersebut akhirnya merenggut nyawa Bertrand Eka Prasetyo.

Kesaksian Mata: Perkelahian Sengit Sebelum Insiden

Seorang saksi kunci berinisial DN (21) memberikan gambaran yang lebih rinci mengenai detik-detik sebelum insiden penembakan terjadi. Menurut kesaksiannya, peristiwa dimulai sekitar pukul 07.00 WITA di depan Cafe Ur Mine (UM). Terdapat rombongan remaja yang melintas dari arah Toddopuli 4 menuju Toddopuli 2.

DN menjelaskan bahwa sempat terjadi insiden tabrakan di lokasi tersebut, namun ia menegaskan bahwa tabrakan itu terjadi di antara kelompok yang ia sebut sebagai “pihak penyerang”.

“Kejadiannya itu, dia pertama mengarah lawan, dia dari Toddopuli 4 terus keluar lagi di Toddopuli 2. Di situ mulai kejadian tabrakan, tabrakan sesama yang menyerang. Terus anak-anak tembaki dia, tembak mainan (senapan water jelly),” ungkap DN.

Situasi kemudian meningkat menjadi perkelahian fisik. DN mendengar suara pihak lawan yang sedang “mengokang senjata” (menyiapkan senjata).

“Pas tidak lama itu, katanya ini lawan makkokang (mengokang senjata). Terus korban bilang ‘saya dikena, dipukul’ sama itu yang lawan. Sudah itu, langsung korban ini pukul lawan. Iya berkelahi dia,” jelas DN.

Di tengah perkelahian yang semakin memanas itulah, sebuah mobil sipil tiba-tiba datang dari arah Jalan Hertasning. Mobil tersebut ternyata berisi anggota kepolisian dari Polsek Panakkukang.

“Tidak lama itu, ada datang polisi dari Hertasning. Pakai mobil biasa. Terus tidak lama itu, dia turun, angkat senjata tembak mi satu kali, terus saya lari masuk,” tutur DN, yang ketakutan segera menyelamatkan diri ke dalam sebuah bangunan.

Dari kejauhan, DN hanya dapat melihat tubuh Bertrand sudah diangkat oleh orang-orang di sekitar lokasi kejadian. Meskipun ia tidak melihat langsung ceceran darah karena jarak yang cukup jauh, saksi-saksi lain di Tempat Kejadian Perkara (TKP) mengonfirmasi adanya pendarahan pada korban.

Dampak dan Tindakan Lanjutan

Peristiwa ini menimbulkan pertanyaan serius mengenai peredaran dan penggunaan senapan airsoft gun atau senapan water jelly di kalangan remaja, serta bagaimana penegakan hukum dapat dilakukan secara efektif untuk mencegah tawuran yang berujung pada tragedi. Pihak kepolisian dilaporkan sedang melakukan investigasi lebih lanjut untuk mengungkap semua fakta terkait insiden ini dan menentukan langkah hukum yang akan diambil. Keluarga korban tentu saja berduka dan berharap keadilan.

Pos terkait