Pedagang dan Wisatawan Pangandaran Tolak Sistem Parkir Baru

Protes Pedagang dan Pelaku Wisata Atas Kebijakan Parkir Baru di Pangandaran

Pemerintah Kabupaten Pangandaran baru-baru ini mengambil langkah signifikan dalam upaya menata ulang sistem parkir di kawasan pantai. Inisiatif ini, yang bertujuan utama untuk memberantas praktik pungutan liar (pungli) dan mengatasi kemacetan lalu lintas yang kerap melanda area wisata, justru memicu gelombang protes keras dari kalangan pedagang dan pelaku pariwisata. Mereka merasa kebijakan baru ini berpotensi merugikan secara ekonomi dan mengancam kelangsungan usaha yang telah mereka rintis.

Menanggapi keresahan yang berkembang, Bupati Pangandaran, Citra Pitriyami, turun langsung ke lapangan untuk berdialog dengan massa yang berkumpul di kawasan Pantai Pangandaran. Pertemuan yang berlangsung di tepi jalan ini menjadi forum terbuka bagi masyarakat untuk menyuarakan berbagai keluhan dan aspirasi mereka terkait penataan pariwisata berbasis lalu lintas yang baru diterapkan.

Bacaan Lainnya

Keluhan Pedagang: Ancaman Penurunan Pendapatan

Sejumlah pedagang yang menggantungkan hidupnya pada ramainya kunjungan wisatawan, secara gamblang menyampaikan keberatan mereka kepada orang nomor satu di Pangandaran. Salah satu poin utama yang dikeluhkan adalah aturan parkir yang dinilai terlalu ketat dan memberatkan. Lokasi parkir yang kini diarahkan cukup jauh dari titik-titik tempat mereka berjualan menimbulkan kekhawatiran besar. Para pedagang berpendapat bahwa jarak yang jauh ini dapat membuat calon wisatawan enggan untuk singgah dan berbelanja, yang pada akhirnya berujung pada anjloknya pendapatan harian mereka.

“Nasib ekonomi warga lokal yang menggantungkan hidup dari kunjungan wisatawan di sepanjang pantai harus dipertimbangkan. Pemerintah jangan hanya fokus pada kelancaran lalu lintas,” ujar salah seorang perwakilan warga saat dialog berlangsung. Pernyataan ini mencerminkan keprihatinan mendalam terhadap dampak ekonomi yang mungkin ditimbulkan oleh kebijakan tersebut, menyoroti bahwa kelancaran lalu lintas seharusnya tidak mengorbankan mata pencaharian masyarakat setempat.

Tuntutan Pelaku Wisata: Fasilitas Pendukung dan Keadilan Usaha

Para pelaku wisata pun turut menyuarakan aspirasi mereka. Mereka mendesak Pemerintah Kabupaten Pangandaran untuk menyediakan fasilitas pendukung yang memadai atau menciptakan akses yang lebih mudah bagi wisatawan untuk menjangkau area perdagangan, apabila sistem parkir tersentralisasi tetap diberlakukan. Harapan mereka adalah agar ada kebijakan yang lebih berkeadilan dan mempertimbangkan kelangsungan usaha kecil yang menjadi tulang punggung industri pariwisata di kawasan tersebut.

Mereka menyadari pentingnya penataan, namun meminta agar implementasinya tidak sampai mematikan geliat ekonomi lokal. Ketersediaan transportasi alternatif dari titik parkir ke area wisata, papan informasi yang jelas, atau bahkan penyesuaian radius jarak parkir bisa menjadi solusi yang diusulkan.

Penegasan Bupati: Pemberantasan Pungli dan Perbaikan Citra

Di sisi lain, Bupati Citra Pitriyami menegaskan bahwa pembenahan sistem parkir ini merupakan langkah krusial untuk memperbaiki citra pariwisata Pangandaran yang selama ini kerap tercoreng oleh praktik pungli. Menurut pandangannya, titik-titik parkir yang tidak teratur dan sporadis menjadi celah empuk bagi oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab untuk menarik biaya ilegal dari wisatawan.

“Masalah yang paling krusial adalah pungli. Dengan adanya penataan, kita mempersempit ruang gerak oknum,” ujar Bupati Citra. Ia menambahkan bahwa dengan memusatkan titik parkir, pengawasan dan kontrol dari pemerintah daerah serta aparat terkait akan menjadi lebih mudah dan efektif. Hal ini diharapkan dapat menciptakan lingkungan pariwisata yang lebih bersih dan terpercaya bagi para pengunjung.

Evaluasi dan Harapan Solusi Terbaik

Menyikapi protes dan masukan yang diterima dari para pelaku usaha, Bupati Citra memastikan bahwa kebijakan penataan parkir ini masih berada dalam tahap percobaan. Pemerintah daerah berkomitmen untuk terus melakukan evaluasi dan kajian ulang secara berkala guna mencari titik temu yang terbaik bagi semua pihak.

“Kebijakan ini akan terus dikaji agar menemukan solusi terbaik yang tidak merugikan pihak mana pun,” tegasnya. Ia berharap agar kolaborasi dan keterlibatan aktif dari masyarakat serta pelaku usaha lokal tetap terjaga. Sinergi ini, menurutnya, sangat penting demi mewujudkan Pangandaran sebagai destinasi wisata kelas dunia yang tidak hanya indah, tetapi juga tertib, aman, dan bebas dari praktik pungutan liar. Upaya bersama ini diharapkan dapat membawa Pangandaran menuju masa depan pariwisata yang lebih cerah dan berkelanjutan.

Pos terkait