Muhammadiyah Puasa Hari Ini, Pemerintah Besok: Rektor Unmuha Aceh Jelaskan

Memahami Perbedaan Awal Ramadhan: Kedewasaan Beragama dan Menghargai Perbedaan

Penetapan awal bulan suci Ramadhan kerap kali memunculkan perbedaan pandangan di tengah masyarakat Indonesia. Fenomena ini, yang kembali terjadi menjelang Ramadhan 1447 Hijriah, sejatinya bukanlah sebuah masalah krusial apabila disikapi dengan kedewasaan beragama dan rasa saling menghargai. Para tokoh agama dan akademisi menekankan pentingnya memahami bahwa setiap metode penetapan memiliki dasar dalil yang kuat, sehingga perbedaan ini tidak sepatutnya menjadi sumber perselisihan.

Rektor Universitas Muhammadiyah (Unmuha) Aceh, Aslam Nur, menyampaikan pandangannya bahwa masyarakat Indonesia, khususnya di Aceh, telah menunjukkan kedewasaan dalam menyikapi perbedaan penetapan awal Ramadhan. Menurut beliau, setiap pihak yang memiliki pandangan berbeda dalam menentukan awal puasa memiliki dasar argumen yang jelas dan kuat, yang bersumber dari ajaran agama.

Bacaan Lainnya

“Menurut saya masyarakat kita sudah dewasa, artinya memahami perbedaan ini, semua punya dasar dalil,” ujar Aslam Nur dalam sebuah wawancara usai pelaksanaan Shalat Tarawih perdana sebagai penanda dimulainya ibadah Ramadhan 1447 H. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Masjid Djakfar Hanafiah, Kampus Unmuha Aceh, pada Selasa, 17 Februari 2026.

Metode Penetapan: Hisab vs. Rukyat

Perbedaan dalam menentukan awal Ramadhan umumnya bersumber dari perbedaan metode yang digunakan. Muhammadiyah, misalnya, secara konsisten menggunakan metode hisab dalam menentukan awal Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri. Metode ini didasarkan pada perhitungan astronomis yang cermat mengenai posisi bulan dan matahari. Perhitungan ini memungkinkan penentuan awal bulan hijriah secara ilmiah, tanpa harus menunggu penampakan hilal secara langsung.

Di sisi lain, pemerintah dan sebagian besar ormas Islam di Indonesia masih mengacu pada metode rukyat, yaitu metode pengamatan hilal atau bulan sabit muda secara langsung di ufuk barat setelah matahari terbenam. Apabila hilal terlihat, maka bulan baru telah dimulai. Namun, jika hilal tidak terlihat karena berbagai faktor seperti cuaca atau posisi geografis, maka bulan sebelumnya digenapkan menjadi 30 hari.

Aslam Nur menjelaskan, “Teman-teman lain itu mereka menggunakan istilah rukyat, melihat bulan dulu. Jadi kalau tidak terlihat, mereka genapkan jadi 30 hari bulan Syakban.” Perbedaan mendasar inilah yang kadang kala berujung pada perbedaan tanggal dimulainya ibadah puasa Ramadhan dan perayaan Idul Fitri.

Menghargai Perbedaan: Kunci Kedamaian Umat

Meskipun metode yang digunakan berbeda, esensi dari ibadah puasa dan perayaan Idul Fitri tetaplah sama. Oleh karena itu, Aslam Nur menekankan bahwa perbedaan ini tidak perlu lagi dipersoalkan secara berlebihan. Sebaliknya, hal ini harus disikapi dengan semangat saling menghargai dan menghormati antarumat beragama.

“Saya pikir di Indonesia ini bukan persoalan lagi terjadi perbedaan dalam 1 Ramadhan dan Idul Fitri,” tegasnya. Pernyataan ini mencerminkan harapan agar masyarakat dapat melihat perbedaan ini sebagai bagian dari kekayaan dalam beragama, bukan sebagai celah untuk menimbulkan perpecahan. Kedewasaan dalam beragama berarti mampu menerima perbedaan pandangan tanpa harus merasa paling benar sendiri atau merendahkan pandangan orang lain.

Jadwal Muhammadiyah untuk Ramadhan 1447 H

Berdasarkan instruksi dari Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, seluruh warga Muhammadiyah di Indonesia telah melaksanakan Shalat Tarawih perdana pada malam Selasa, 17 Februari 2026. Dengan demikian, ibadah puasa pertama bagi warga Muhammadiyah dimulai pada hari Rabu, 18 Februari 2026.

Hal ini ditegaskan dalam Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 2/MLM/1.0/E/2025 yang dikeluarkan pada 22 September 2025. Maklumat tersebut secara resmi menetapkan bahwa awal Ramadhan 1447 Hijriah jatuh pada hari Rabu, 18 Februari 2026.

Lebih lanjut, PP Muhammadiyah juga telah menetapkan Hari Raya Idul Fitri atau 1 Syawal 1447 Hijriah akan jatuh pada hari Jumat, 20 Maret 2026. Penetapan ini juga didasarkan pada metode hisab yang menjadi pedoman organisasi tersebut.

Di Banda Aceh sendiri, warga Muhammadiyah melaksanakan Shalat Tarawih di beberapa titik yang terorganisir. Menurut Rektor Unmuha Aceh, terdapat empat lokasi utama pelaksanaan Shalat Tarawih yang dikelola oleh Muhammadiyah di Banda Aceh. Keempat titik tersebut meliputi:

  • Kampus Universitas Muhammadiyah (Unmuha) Aceh
  • Masjid At-Taqwa Muhammadiyah
  • Panti Asuhan Punge Blang Cut
  • Musalla Aisyiyah Sukaramai

Keberadaan titik-titik pelaksanaan ibadah ini menunjukkan komitmen Muhammadiyah dalam melayani dan memfasilitasi warganya dalam menjalankan ibadah Ramadhan. Dengan adanya berbagai pilihan lokasi, diharapkan warga Muhammadiyah dapat menjalankan ibadah dengan khusyuk dan nyaman.

Refleksi Menjelang Bulan Suci

Perbedaan dalam penetapan awal Ramadhan dan Idul Fitri bukanlah fenomena baru di Indonesia. Sejak lama, perbedaan ini telah menjadi bagian dari dinamika keagamaan di tanah air. Namun, yang terpenting adalah bagaimana masyarakat menyikapi perbedaan tersebut. Alih-alih menjadikannya sebagai sumber perdebatan yang tiada akhir, perbedaan ini seharusnya menjadi momentum untuk merenungkan kembali esensi beragama, yaitu ketakwaan, keikhlasan, dan kasih sayang.

Para tokoh agama dan cendekiawan terus berupaya untuk memberikan pemahaman yang komprehensif kepada masyarakat. Tujuannya adalah agar umat Islam dapat menjalani bulan Ramadhan dengan penuh kedamaian, fokus pada ibadah, dan mempererat tali silaturahmi. Menghargai perbedaan metode penetapan adalah salah satu wujud nyata dari kedewasaan beragama yang perlu terus ditanamkan dalam diri setiap individu. Dengan demikian, Ramadhan dapat dijalani sebagai bulan penuh berkah dan rahmat bagi seluruh umat.

Pos terkait