Mahkamah Agung Tiongkok Batalkan Vonis Mati Warga Kanada, Robert Lloyd Schellenberg
Mahkamah Agung Rakyat Tiongkok pada Jumat (6/2/2026) mengumumkan keputusan bersejarah dengan membatalkan vonis hukuman mati yang dijatuhkan kepada warga negara Kanada, Robert Lloyd Schellenberg. Keputusan ini diambil di tengah membaiknya hubungan diplomatik antara Tiongkok dan Kanada, sebuah perkembangan yang disambut baik oleh berbagai pihak.
Schellenberg, yang ditahan oleh otoritas Tiongkok sejak tahun 2014 atas tuduhan penyelundupan narkoba, kini akan menjalani persidangan ulang. Kasus ini akan dikembalikan ke Pengadilan Tinggi Rakyat Liaoning untuk diproses kembali. Pembatalan vonis ini terjadi dalam kurun waktu yang relatif singkat setelah Perdana Menteri Kanada, Mark Carney, menyepakati kemitraan strategis baru dengan Presiden Tiongkok, Xi Jinping, dalam pertemuan di Beijing bulan lalu.
Konfirmasi Pengacara dan Respons Keluarga
Zhang Dongshuo, pengacara yang mendampingi Robert Lloyd Schellenberg, secara resmi mengonfirmasi bahwa kliennya telah menerima pemberitahuan dari pengadilan tertinggi Tiongkok mengenai pembatalan vonis hukuman mati. Zhang menjelaskan bahwa proses hukum selanjutnya akan kembali ke pengadilan tingkat provinsi, meskipun jadwal pasti untuk sidang ulang belum ditentukan.
Dalam pertemuan tatap muka yang berlangsung di Dalian pada Jumat, Zhang menggambarkan kondisi kliennya tampak cukup tenang dan lega setelah mendengar kabar baik tersebut. Schellenberg telah mendekam di penjara di kota pelabuhan di timur laut Tiongkok itu selama lebih dari satu dekade sejak penangkapan awalnya.
Pihak keluarga Schellenberg menyambut positif perkembangan hukum ini setelah bertahun-tahun diliputi ketidakpastian. Mereka mengungkapkan harapan besar agar persidangan ulang nanti dapat menghasilkan putusan yang lebih adil dan menguntungkan bagi Robert.
“Perlu waktu untuk mencerna berita ini dan memahami dampaknya pada kasus Bob. Namun, jelas ini adalah perkembangan yang sangat menggembirakan,” ujar Anna Marie White, yang mewakili pihak keluarga.
Kronologi Kasus Robert Lloyd Schellenberg

Robert Lloyd Schellenberg, yang berasal dari British Columbia, Kanada, awalnya divonis hukuman penjara selama 15 tahun pada tahun 2018. Ia dinyatakan bersalah atas kasus penyelundupan sebanyak 222 kilogram metamfetamin. Schellenberg sempat mengajukan banding atas vonis awal tersebut, bersikeras menyatakan ketidakbersalahannya.
Namun, situasi hukumnya berubah secara dramatis setelah penangkapan Meng Wanzhou, Chief Financial Officer (CFO) Huawei, di Vancouver pada Desember 2018. Penangkapan ini memicu kemarahan besar dari pemerintah Tiongkok. Tak lama setelah itu, pengadilan di Dalian menggelar sidang ulang kilat hanya dalam satu hari pada Januari 2019. Dalam sidang ulang tersebut, hukuman Schellenberg diperberat secara drastis menjadi vonis mati, dengan alasan bahwa vonis awal dianggap terlalu ringan.
Amnesty International mengecam keras sidang ulang yang hanya berlangsung sehari itu, menyebutnya sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional. Insiden ini turut memperburuk hubungan bilateral antara kedua negara, yang kemudian diperparah dengan penahanan dua warga Kanada lainnya, Michael Spavor dan Michael Kovrig, atas tuduhan spionase.
Berbeda dengan Schellenberg yang masih berjuang melalui jalur hukum, nasib Meng Wanzhou akhirnya membaik. Ia dibebaskan pada September 2021 setelah mencapai kesepakatan dengan Amerika Serikat. Pada bulan yang sama, Spavor dan Kovrig juga dibebaskan dan kembali ke tanah air mereka di Kanada.
Diplomasi Dagang di Tengah Ketegangan Tarif AS

Perubahan sikap peradilan Tiongkok dalam kasus Schellenberg ini dinilai banyak pihak terkait erat dengan upaya pemulihan hubungan dagang yang sedang digalakkan oleh pemerintahan Perdana Menteri Mark Carney. Kanada diketahui tengah berupaya keras untuk mendiversifikasi pasar ekspornya, guna mengurangi ketergantungan yang terlalu besar terhadap Amerika Serikat, terutama di tengah ancaman tarif perdagangan yang dilancarkan oleh pemerintahan AS saat itu.
Sektor-sektor ekonomi Kanada yang vital telah mengalami pukulan telak akibat kebijakan tarif perdagangan yang agresif dari Presiden AS saat itu, Donald Trump. Mark Carney sendiri telah menegaskan bahwa Kanada tidak dapat lagi hanya mengandalkan Washington sebagai satu-satunya mitra dagang utama demi masa depan perekonomian negara.
Global Affairs Canada (GAC), melalui juru bicaranya, Thida Ith, menyatakan bahwa mereka telah mengetahui putusan pengadilan dan memastikan layanan konsuler tetap diberikan kepada Robert Lloyd Schellenberg. Pemerintah Kanada tetap teguh pada pendiriannya untuk menolak penerapan hukuman mati bagi warga negaranya yang berada di luar negeri.
“Kanada telah secara konsisten mengadvokasi pemberian grasi dalam kasus ini, sebagaimana yang kami lakukan terhadap semua warga Kanada yang dijatuhi hukuman mati di negara lain,” ujar juru bicara GAC.







