Categories: Ekonomi

Melambungnya Harga Pangan dan Energi Akibat Perang di Iran

Dampak Perang di Timur Tengah terhadap Harga Pangan dan Energi Global



Eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran mulai menunjukkan dampak luas terhadap berbagai sektor ekonomi global. Salah satu efek yang terlihat adalah kenaikan harga pangan dunia pada Maret 2026, yang dipicu oleh lonjakan harga energi serta meningkatnya biaya pengiriman.

Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) mencatat bahwa indeks harga pangan global pada bulan tersebut mencapai rata-rata 128,5 poin, naik 3 poin dibandingkan Februari. Kenaikan ini menjadi bulan kedua berturut-turut harga pangan dunia mengalami peningkatan setelah sebelumnya sempat naik pada Februari untuk pertama kalinya dalam lima bulan terakhir.

Secara bulanan, indeks harga pangan global tercatat meningkat sebesar 2,4 persen. Indeks ini mencerminkan pergerakan harga dari sejumlah komoditas utama seperti biji-bijian, gula, daging, produk susu, hingga minyak nabati. Kenaikan tersebut dipicu oleh gangguan rantai pasok akibat perang di Timur Tengah. Perang ini menyebabkan lonjakan harga energi dan pupuk, serta menghambat arus distribusi biji-bijian dan bahan baku penting yang melintasi Selat Hormuz.

Di sisi lain, harga minyak dunia juga mengalami lonjakan signifikan. Harga minyak tercatat menembus level USD 110 per barel setelah Presiden AS Donald Trump mengisyaratkan eskalasi perang Iran akan berlangsung dalam beberapa pekan ke depan. Kondisi ini berpotensi memperpanjang gangguan terhadap jalur distribusi energi global, khususnya di Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur vital.

Harga West Texas Intermediate (WTI) melonjak 11 persen, sementara harga minyak Brent sebagai acuan global bertahan di kisaran USD 109 per barel. Bahkan, kontrak berjangka solar di Eropa tercatat melampaui USD 200 per barel untuk pertama kalinya sejak 2022.



Lonjakan harga energi pun merembet ke komoditas lain, termasuk minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO). Laporan Outlook Sawit Kuartal II 2026 dari Indonesia Palm Oil Strategic Studies (IPOSS) memproyeksikan harga CPO global akan terus meningkat sepanjang periode tersebut, seiring kenaikan harga energi di tengah eskalasi konflik geopolitik.

Dalam proyeksinya, harga CPO diperkirakan naik dari sekitar USD 1.165 per ton pada Maret 2026 menjadi USD 1.440 per ton pada April, kemudian meningkat lagi menjadi USD 1.701 per ton pada Mei, dan mencapai USD 1.783 per ton pada Juni 2026. IPOSS menilai tren kenaikan ini tidak hanya dipengaruhi langsung oleh ketegangan geopolitik, tetapi juga mencerminkan keterkaitan yang semakin erat antara pasar minyak sawit dan energi global.

Dampak Perang terhadap Harga Plastik

Dampak perang juga mulai terasa pada sektor industri, khususnya pada harga plastik. Kenaikan harga plastik terjadi akibat terganggunya pasokan bahan baku utama, yakni nafta, yang terdampak oleh gangguan rantai pasok global.

Yusuf Rendy Manilet, peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, menjelaskan bahwa plastik memiliki peran penting sebagai komoditas antara yang digunakan di berbagai sektor industri. Ia menilai bahwa ketika pasokan nafta terganggu akibat tensi geopolitik, efeknya bersifat multiplier, tekanan biaya di hulu akan langsung menjalar ke berbagai lini produksi di hilir.

Menurut Yusuf, kompleksitas persoalan ini semakin meningkat karena Indonesia masih bergantung pada impor bahan baku plastik, termasuk dari Korea Selatan dan Jepang. Ketika negara pemasok tersebut turut terdampak, pilihan alternatif bagi industri dalam negeri menjadi terbatas, setidaknya dalam jangka pendek.

Ia juga mengingatkan kondisi ini berpotensi memicu tekanan inflasi dari sisi penawaran atau cost push inflation, yang relatif sulit dikendalikan karena bukan berasal dari peningkatan permintaan domestik. Meski demikian, secara makro dampaknya belum tentu langsung mengguncang perekonomian secara signifikan.

Telisa Aulia Falianty, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI), menyampaikan pandangan serupa. Ia menjelaskan bahwa komoditas yang berkaitan dengan energi, termasuk plastik berbasis nafta, akan mengalami kenaikan harga secara bertahap dan berdampak pada sektor industri.

“Harga plastik ini ternyata tergantung dari pasokan nafta, terus petrochemical itu juga dari migas, jadi migas ini relate juga dengan plastik dan produk-produk turunan petrochemical, nah ini pasti akan berdampak,” ucap Telisa.

Telisa berharap konflik di Timur Tengah tidak berlangsung lama agar dampaknya terhadap ekonomi nasional hanya bersifat sementara. Namun, ia mengingatkan jika konflik berkepanjangan, maka tekanan terhadap daya beli masyarakat berpotensi meningkat.

Redaksi

Share
Published by
Redaksi

Recent Posts

Jenazah Kopda Farizal Tiba di Kulon Progo, Disambut Isak Tangis dan Puluhan Pelayat

jogja. Kulon Progo – Kedatangan jenazah Kopda Anumerta Farizal Rhomadhon di Sidorejo, Lendah, Kulon Progo…

27 menit ago

DPRD Minta Pemkab Bangka Barat Cari Pajak Baru

Kondisi Keuangan Daerah yang Mengkhawatirkan Wakil Ketua II DPRD Kabupaten Bangka Barat, Samsir, menyatakan bahwa…

39 menit ago

Kronologi Kepala DPC Golkar Maluku Tenggara Tewas Ditikam di Bandara

JAKARTA - Polda Maluku telah merinci rangkaian kejadian yang menyebabkan kematian Ketua DPC Partai Golkar…

2 jam ago

Lowongan Kerja Sari Roti 2026: Banyak Posisi, Cek Syaratnya!

Peluang Karier di PT Nippon Indosari Corpindo Tbk PT Nippon Indosari Corpindo Tbk, perusahaan yang…

2 jam ago

Peneliti BRIN: Cahaya Langit Lampung Bukan Bahaya, Hanya Sisa Roket Tiongkok

Pada malam hari tanggal 4 April, langit Provinsi Lampung digemparkan oleh penampakan benda bercahaya yang…

3 jam ago

Prediksi Skor Strasbourg vs Rennes: Statistik Head-to-Head Ligue 1 2026

Ringkasan Berita Strasbourg sedang dalam tren positif dengan catatan tak terkalahkan dalam 7 laga Ligue…

3 jam ago