Serangan Rudal Iran ke Kota-kota di Selatan Israel
Pada hari Sabtu (21/3/2026), Iran meluncurkan rudal balistik yang menargetkan dua kota di selatan Israel, yaitu Dimona dan Arad. Serangan ini menyebabkan hampir 100 orang terluka serta merusak rumah dan bangunan tempat tinggal di kedua wilayah tersebut. Peristiwa ini terjadi dalam konteks konflik berkepanjangan antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran.
Kerusakan dan Korban Jiwa
Data dari layanan darurat Israel menunjukkan bahwa di kota Dimona, setidaknya 39 orang mengalami luka, termasuk seorang anak laki-laki berusia 10 tahun dalam kondisi kritis akibat serpihan. Sementara itu, di Arad, jumlah korban luka mencapai 88 orang dengan dua anak mengalami luka serius. Kerusakan yang terjadi mencakup bangunan yang runtuh, kebakaran di beberapa titik, serta dugaan korban yang masih tertimbun di Arad. Kepala eksekutif Magen David Adom, Eli Bin, menggambarkan insiden di Arad sebagai peristiwa berskala sangat besar.
Sistem Pertahanan Israel Gagal Mencegat Rudal
Sistem pertahanan udara Israel langsung diaktifkan saat serangan berlangsung, namun setidaknya dua rudal balistik dengan hulu ledak ratusan kilogram tidak berhasil dicegat. Kedua rudal tersebut menghantam langsung Dimona dan Arad.
Juru bicara Tentara Pertahanan Israel (IDF), Brigjen Effie Defrin, menyampaikan bahwa sistem pertahanan telah bekerja tetapi gagal menghentikan rudal yang masuk. Ia memastikan akan dilakukan penyelidikan menyeluruh untuk memahami penyebab kegagalan tersebut, sekaligus menegaskan bahwa rudal yang digunakan bukan jenis baru bagi mereka. Ia juga menyampaikan simpati kepada warga terdampak.
“Hati kami bersama warga Arad dan Dimona malam ini,” ujarnya.
Angkatan Udara Israel bersama Komando Depan Dalam Negeri kemudian membuka penyelidikan terpisah guna mengungkap penyebab kegagalan intersepsi.
Iran Sebut Serangan Balasan atas Natanz
Melalui televisi negara dan kantor berita Tasnim, Iran menyatakan peluncuran rudal tersebut sebagai respons langsung atas serangan yang menargetkan kompleks pengayaan nuklir Natanz pada hari yang sama. Iran juga memastikan tidak ada kebocoran radioaktif di lokasi tersebut.

Tasnim menyatakan bahwa pihak lawan kembali menerima pelajaran yang tak terlupakan dan menegaskan tak ada wilayah yang aman dari jangkauan rudal Iran. Sementara itu, Badan Energi Atom Internasional (IAEA) memastikan Pusat Penelitian Nuklir Negev Shimon Peres di Dimona tidak mengalami kerusakan. Tingkat radiasi di sekitar lokasi tetap normal tanpa indikasi abnormal.
Direktur Jenderal IAEA, Rafael Grossi, menekankan pentingnya pengendalian militer yang ketat terutama di sekitar fasilitas nuklir. Ia juga kembali menyerukan agar semua pihak menahan diri secara militer untuk mencegah potensi kecelakaan nuklir terkait laporan serangan di Natanz.
Israel Serang Fasilitas Riset di Teheran
Militer Israel mengumumkan telah menyerang fasilitas penelitian dan pengembangan di Universitas Malek Ashtar, Teheran. Menurut keterangan Israel, lokasi tersebut digunakan untuk mengembangkan komponen senjata nuklir dan rudal balistik.

Seorang pejabat Israel yang tidak disebutkan identitasnya, seperti dikutip Associated Press, membantah keterlibatan negaranya dalam serangan ke Natanz. Hingga saat itu, militer Israel belum merilis pernyataan resmi lengkap mengenai insiden tersebut. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menggambarkan malam itu sebagai sangat sulit dalam upaya mempertahankan masa depan Israel serta menegaskan komitmen untuk terus menyerang musuh di berbagai front, termasuk melanjutkan serangan terhadap Iran.







