Senator Bernie Moreno Mengusulkan Rencana Undang-Undang Agresif untuk Menutup Pasar Otomotif Amerika Serikat dari Produsen Tiongkok
Senator Republik Bernie Moreno telah memicu ketegangan diplomatik baru dengan mengumumkan rencana undang-undang agresif yang bertujuan menutup pasar Amerika Serikat secara total bagi produsen otomotif asal Tiongkok. Dalam pernyataan resminya menjelang New York International Auto Show, Moreno secara kontroversial menyamakan kehadiran kendaraan Tiongkok dengan penyakit “kanker” yang harus segera dihentikan sebelum menginfeksi ekonomi global.
Legislasi yang akan diajukan bulan ini dirancang untuk melampaui regulasi pemerintah saat ini dengan melarang segala bentuk perangkat keras, perangkat lunak, hingga kemitraan yang terkait dengan perusahaan Tiongkok. Langkah ini mencerminkan proteksionisme yang semakin ketat di Washington, di mana kekhawatiran akan keamanan data dan dominasi pasar kendaraan listrik menjadi alasan utama di balik dorongan pemutusan hubungan dagang tersebut secara permanen.
Perbandingan Tajam dengan Larangan Huawei di Sektor Telekomunikasi
Senator Moreno menarik garis sejajar yang tegas antara sektor otomotif dan infrastruktur telekomunikasi, dengan merujuk pada pemblokiran Huawei yang telah dilakukan sebelumnya oleh Amerika Serikat. Ia menegaskan bahwa jika Amerika Serikat tidak mengizinkan Huawei masuk ke infrastruktur komunikasi, maka prinsip yang sama harus diterapkan pada industri mobil untuk mencegah risiko spionase dan pencurian data berskala besar.
“Kita akan mencegah kanker ini masuk ke pasar kita, dan kita membutuhkan negara-negara lain untuk melakukan kemoterapi,” ujar Moreno dalam forum otomotif tersebut. Pernyataan ini menunjukkan ambisinya agar sekutu Barat tidak membiarkan industri mereka “terinfeksi” oleh kendaraan Tiongkok. Ia bahkan mengkritik perusahaan domestik seperti Waymo yang menjalin kemitraan dengan Geely, menuduh langkah tersebut bertentangan dengan tujuan kepemimpinan nasional Amerika Serikat.
Upaya Menggalang Dukungan Global dari Sekutu Internasional

Selain langkah domestik, legislasi yang diusulkan Moreno bertujuan menciptakan standar global yang selaras dengan kebijakan Amerika Serikat. Ia secara eksplisit menyerukan agar wilayah Amerika Latin, Meksiko, Kanada, hingga Eropa mengadopsi standar larangan yang sama terhadap produsen otomotif Tiongkok sekarang juga. Moreno berpendapat bahwa perlindungan pasar domestik tidak akan efektif jika negara-negara tetangga masih menjadi pintu masuk bagi produk-produk tersebut.
Dorongan legislatif ini mendapat dukungan kuat dari organisasi perdagangan dan produsen mobil Amerika Serikat yang merasa terancam oleh daya saing harga kendaraan listrik Tiongkok. Mereka menekankan pentingnya mempertahankan penghalang ketat guna melindungi lapangan kerja dan investasi dalam negeri. Namun, ajakan untuk melakukan “kemoterapi” ekonomi ini dipandang oleh banyak pihak sebagai tantangan besar bagi negara-negara sekutu yang memiliki ketergantungan ekonomi cukup tinggi terhadap perdagangan dengan Tiongkok.
Reaksi Keras Tiongkok dan Kontradiksi Politik Domestik

Langkah Moreno segera memicu kecaman keras dari Kedutaan Besar Tiongkok di Washington yang menuduh Amerika Serikat sedang mempraktikkan proteksionisme perdagangan murni. Pihak Tiongkok berargumen bahwa kebijakan subsidi yang diskriminatif dan pelarangan total tersebut melanggar prinsip persaingan bebas yang selama ini diagungkan secara internasional. Situasi ini menciptakan ketidakpastian bagi para pelaku industri global yang berada di tengah pusaran perang dagang kedua negara adidaya tersebut.
Menariknya, dorongan legislatif ini muncul di saat situasi diplomatik sedang sangat halus, mengingat rencana kunjungan Presiden Donald Trump ke Tiongkok pada Mei mendatang. Terdapat kontras pendekatan yang potensial, karena sebelumnya Trump sempat menyatakan keterbukaan terhadap produsen Tiongkok untuk membangun pabrik manufaktur di Amerika Serikat asalkan mempekerjakan buruh Amerika. Perbedaan strategi antara kebijakan larangan total versi Moreno dan pendekatan transaksional versi eksekutif ini akan menjadi ujian bagi arah kebijakan industri Amerika Serikat di masa depan.






