Gubernur DIY Menyambut Jenazah Prajurit TNI yang Gugur di Libanon
Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) turut menyambut kedatangan jenazah dua prajurit TNI, Kopda Farizal dan Serka Nur Ichwan di Landasan Udara (Lanud) Adisutjipto Yogyakarta, Sabtu malam, 4 April. Raja Keraton Yogyakarta itu menyampaikan rasa duka cita mendalam atas gugurnya para prajurit TNI yang merupakan pasukan penjaga perdamaian di Libanon pada akhir Maret lalu.
Sultan menegaskan bahwa gugurnya prajurit TNI yang sedang dalam masa penugasan internasional merupakan kehilangan besar bagi Indonesia. “Saya mengucapkan belasungkawa. Tapi bagi saya jangan sampai peristiwa seperti ini terulang lagi,” kata Sultan usai mengikuti upacara penyambutan jenazah.
Sultan menyoroti konsistensi pelaksanaan kesepakatan internasional, terutama yang berkaitan dengan protokol keamanan dan perlindungan bagi personel yang menjalankan tugas di bawah bendera Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). “Komitmen terhadap aturan internasional harus ditegakkan secara ketat demi menjamin keselamatan para penjaga perdamaian yang dikirim ke berbagai wilayah konflik di dunia,” kata Sultan.
Lebih lanjut, Sultan juga mendesak PBB untuk melakukan investigasi yang menyeluruh dan transparan atas insiden yang membuat tiga prajurit TNI gugur di Libanon. Ia menekankan pentingnya identifikasi akurat untuk memastikan apakah peristiwa tersebut terjadi akibat faktor kelalaian teknis atau terdapat unsur kesengajaan dari pihak tertentu.
Tuntutan ini disampaikan agar keadilan bagi para prajurit dan keluarga yang ditinggalkan dapat terpenuhi secara jelas. “Tuntutan kita kan di situ, di PBB, agar mengidentifikasi betul insiden ini karena kealpaan atau kesengajaan,” kata Sultan.
Kronologi Kematian Kopda Farizal
Gugurnya Kopda Farizal dalam misi perdamaian PBB (UNIFIL) di Libanon meninggalkan duka mendalam bagi korps TNI. Komandan Brigade Infanteri 25/Siwah-Aceh, Kolonel Infanteri Dimar Bahtera, atasan Kopda Farizal, mengungkap kronologi peristiwa yang merenggut nyawa Farizal pada Minggu 29 Maret 2026.
“Saat itu almarhum sedang melaksanakan ibadah salat isya di sebuah masjid yang berada di dekat pos atau compound UNIFIL. Lalu sebuah mortir atau artileri jatuh tepat di samping tempat ibadah tersebut,” kata dia di Kulon Progo, Jumat, 3 April 2026.
Dimar mengenang, sebelum mengemban tugas ke Libanon sejak April 2025, Farizal telah menjalani penugasan dalam negeri di Papua. Keberhasilannya di medan operasi domestik tersebut lantas menjadi modal penting saat ia mengikuti seleksi ketat untuk misi UNIFIL.
“Untuk penugasan luar negeri itu memang salah satu cita-cita almarhum. Yang bersangkutan sebelum bisa tugas luar negeri sudah menyelesaikan tugas dalam negeri dulu, di Papua dan berhasil,” ujarnya.
Almarhum, kata Dimar, dikenal sebagai prajurit berprestasi dan sosok panutan yang memiliki dedikasi tinggi selama bertugas di satuannya. “Jadi almarhum ini (di Aceh) juga menjabat sebagai provos, provos itu personil yang memiliki dedikasi, kedisiplinan yang lebih dibandingkan dengan prajurit lainnya,” kata Dimar.
Dimar mengungkapkan Farizal merupakan sejawat yang selama ini sangat dihargai oleh para senior maupun atasan. “Almarhum ini panutan bagi adik-adiknya, termasuk juga para seniornya. Kami sering titipkan kepada almarhum bagaimana untuk selalu membimbing adik-adiknya,” kata Dimar.
Dedikasi dan Kehidupan Seorang Prajurit
Farizal dikenal sebagai sosok yang tidak hanya tangguh dalam tugas tetapi juga memiliki sikap rendah hati dan komitmen tinggi terhadap kedisiplinan. Selama bertugas di Aceh, ia sering menjadi contoh bagi rekan-rekannya, baik dalam hal profesionalisme maupun dalam kehidupan sehari-hari.
Kepeduliannya terhadap sesama prajurit membuatnya menjadi sosok yang dihormati. Dalam banyak kesempatan, para senior dan rekan kerja mengakui bahwa Farizal adalah orang yang selalu siap membantu dan memberikan nasihat yang bijak.
Selain itu, Farizal juga dikenal sebagai prajurit yang memiliki semangat tinggi dan antusiasme dalam menjalani setiap tugas. Kehadirannya di medan operasi selalu memberikan motivasi bagi timnya, baik dalam situasi yang sulit maupun dalam kondisi normal.
Dengan kepergiannya yang tragis, keluarga, rekan kerja, dan masyarakat luas merasa kehilangan seorang pahlawan yang telah berjuang tanpa pamrih untuk negara dan bangsa. Namun, semangat serta nilai-nilai yang ia tanam akan terus hidup dalam ingatan dan tindakan para penerusnya.






