Warga Pohuwato Jadi Korban Arisan Bodong dengan Kerugian Lebih dari Rp200 Juta
Puluhan warga di Kabupaten Pohuwato, Provinsi Gorontalo, mengaku menjadi korban dugaan penipuan berkedok arisan uang yang dikelola oleh seorang perempuan berinisial MH. Total kerugian para peserta ditaksir mencapai lebih dari Rp200 juta. Kasus ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat, terutama karena pengelola dinilai tidak memiliki itikad baik dan kini sudah meninggalkan tempat tinggalnya.
Pengalaman Peserta Arisan
Salah satu peserta arisan, Grasela Suleman, mengungkapkan bahwa dirinya bergabung dalam kelompok arisan yang terdiri dari 30 orang. Setiap anggota diwajibkan menyetor uang secara berkala, dengan nilai pencairan sebesar Rp10 juta per peserta. Awalnya, sistem arisan berjalan normal, tetapi saat tiba giliran pencairan, nominal yang diterima sering kali tidak sesuai dengan kesepakatan.
Grasela menjelaskan bahwa setiap peserta menyetor sekitar Rp350 ribu setiap 10 hari, yang dihitung dari kewajiban harian sebesar Rp35 ribu. Dana kemudian dikumpulkan dan dijadwalkan cair bergiliran sesuai nomor urut. Namun, dalam praktiknya, pencairan dana sering kali tidak utuh. “Kadang yang seharusnya Rp10 juta, yang ditransfer hanya Rp5 juta atau Rp6 juta,” katanya.
Kerugian yang Dialami
Grasela sendiri mengaku mengalami kerugian pribadi sebesar Rp3 juta dari hak pencairan Rp10 juta yang seharusnya ia terima. Ia menyatakan baru memperoleh Rp6 juta, kemudian sempat dijanjikan tambahan Rp3 juta saat suaminya datang menagih dua bulan lalu. Namun hingga kini, sisa uang tersebut belum dibayarkan.
“Yang Rp3 juta itu sampai sekarang belum ada,” ujarnya. Grasela juga menyebutkan bahwa bukan hanya dirinya yang merugi. Dari sekitar 20 orang dalam grup yang aktif menyuarakan persoalan ini, terdapat peserta lain yang mengaku kehilangan dana jauh lebih besar. “Ada yang ikut arisan Rp20 juta, tetapi belum terima sama sekali,” tambahnya.
Berdasarkan perhitungan para korban, total kerugian seluruh anggota diperkirakan telah menembus angka Rp200 juta lebih.
Penyebab Kepercayaan Masyarakat
Menurut Grasela, banyak warga tertarik mengikuti arisan tersebut karena pengelolanya dikenal luas dan dianggap memiliki kemampuan finansial yang mapan. “Orang percaya karena melihat dia seperti mampu. Dia juga dikenal baik dan sering bergaul dengan banyak orang,” tuturnya.
Arisan itu mulai berjalan sekitar Maret 2025. Bagi Grasela, ini merupakan pengalaman pertamanya mengikuti arisan yang dikelola terlapor. Ia menegaskan tidak ada iming-iming keuntungan berlipat seperti investasi bodong pada umumnya. “Tidak ada janji uang dilipatgandakan. Ini cuma arisan biasa,” jelasnya.
Tindakan Hukum yang Diambil
Saat persoalan mulai mencuat, para peserta mencoba mendatangi pengelola untuk meminta pertanggungjawaban. Namun, menurut Grasela, itikad baik dari terlapor dinilai sangat minim. “Kadang dihubungi tidak merespons. Kadang menjawab, tetapi hanya janji mau membayar sedikit-sedikit setiap gajian suaminya. Sampai sekarang tidak ada realisasi,” ungkapnya.
Belakangan, terlapor bersama suaminya diketahui sudah tidak lagi berada di kediaman yang biasa mereka tempati. “Sekarang mereka sudah tidak ada di rumah. Kalau dihubungi, jawabannya cuma janji,” lanjutnya. Grasela menyebut pengelola arisan berinisial MH, seorang ibu rumah tangga, sementara suaminya bekerja di salah satu perusahaan sektor pertambangan.
Kasus ini telah dilaporkan ke Polres Pohuwato oleh sejumlah korban. Grasela mengaku dirinya baru sekali membuat laporan, sementara korban lain ada yang sudah dua kali melapor ke pihak kepolisian. “Sudah lapor ke polisi sebelum puasa kemarin. Katanya pernah dipanggil, tetapi setelah itu belum ada perkembangan lagi,” tuturnya.
Harapan Korban
Grasela berharap aparat penegak hukum segera menindaklanjuti laporan tersebut agar terdapat kepastian hukum bagi para korban. “Harapan kami ada kejelasan, karena ini menyangkut uang banyak orang,” ujarnya. Para peserta arisan diketahui berasal dari berbagai kecamatan di Pohuwato. Grasela sendiri merupakan warga Desa Duhiadaa, Kecamatan Duhiadaa. “Anggotanya ada yang dari Randangan, ada juga dari wilayah kota,” pungkasnya.
Hingga berita ini diterbitkan, masih berupaya menghubungi pihak terlapor maupun pihak Polres Pohuwato terkait tindak lanjut laporan para korban.







