Bank MEGA Umumkan Pendorong Kenaikan Kredit Awal Tahun

Pertumbuhan Kredit Bank Mega pada Awal Tahun 2026

PT Bank Mega Tbk. (MEGA) melaporkan adanya pertumbuhan kredit yang cukup positif pada awal tahun ini. Hal ini didorong oleh pencairan fasilitas kredit yang telah disiapkan sebelumnya. Meskipun pertumbuhan tersebut menunjukkan perkembangan yang baik, belum sepenuhnya mencerminkan lonjukan permintaan baru di tahun berjalan.

Direktur Wholesale Banking Bank Mega, Madi Darmadi Lazuardi, menjelaskan bahwa bank sedang “memanen” kredit yang telah disepakati sejak 2025, baik melalui skema sindikasi maupun bilateral. Selain itu, kredit baru yang telah diproses sejak tahun lalu juga mulai dibukukan pada awal 2026.

Bacaan Lainnya

“Pada kuartal I ini, kita melihat pertumbuhan yang cukup positif. Kita sudah menunjukkan peningkatan yang signifikan dibanding tahun lalu,” ujar Madi saat ditemui di Menara Bank Mega, Jakarta Selatan.

Di balik pertumbuhan kredit, perbankan menghadapi tantangan besar dari sisi profitabilitas. Persaingan suku bunga kredit semakin ketat, terutama bagi bank swasta seperti Bank Mega yang harus bersaing dengan bank besar seperti Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) dan bank swasta lainnya.

Madi mengungkapkan bahwa bank berada dalam dilema. Untuk tetap tumbuh, mereka harus menawarkan bunga kredit yang kompetitif. Namun, langkah ini berisiko menekan net interest margin (NIM). Di sisi lain, biaya dana belum turun signifikan karena persaingan penghimpunan dana masih tinggi. Akibatnya, spread bunga semakin menyempit.

“Kita akhirnya harus pintar-pintar dalam memilih kredit-kredit yang feasible, tetapi dengan suku bunga yang bisa diterima oleh Bank Mega. Itu menurut saya tantangan terbesar,” jelasnya.

Perkembangan Kredit Secara Nasional

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat hingga Februari 2026, kredit perbankan masih tumbuh sebesar 9,37% secara tahunan (year-on-year/YoY) menjadi Rp8.559 triliun. Meski tetap positif, angka ini sedikit melambat dibandingkan Januari yang mencapai 9,96% YoY.

Meski likuiditas terlihat memadai, tidak semua dana tersebut mengalir ke sektor riil. Pengamat Perbankan & Praktisi Sistem Pembayaran Arianto Muditomo melihat adanya kecenderungan perbankan lebih berhati-hati dalam menyalurkan kredit.

Menurutnya, pertumbuhan kredit kuartal I/2026 cenderung “pincang”. Kredit korporasi besar masih tumbuh stabil, tetapi belum mampu menutup lemahnya kontribusi dari sektor UMKM.

Dia juga menyoroti preferensi bank yang mulai mengalihkan likuiditas ke instrumen yang lebih aman seperti Surat Berharga Negara (SBN) atau Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), dibandingkan menyalurkannya ke kredit yang lebih berisiko.

“Secara kualitatif, perbankan terlihat lebih menempatkan likuiditasnya pada instrumen bebas risiko seperti SBN atau SRBI daripada menyalurkannya ke sektor riil yang masih fluktuatif, sehingga pertumbuhan kredit total diprediksi akan berada di bawah target optimis awal tahun,” tutur Arianto.

Tantangan Struktural dalam Penyaluran Kredit

Di sisi lain, tantangan struktural juga masih membayangi, terutama dalam penyaluran kredit ke sektor UMKM. Masalah ini menunjukkan bahwa meskipun ada pertumbuhan kredit, masih banyak hal yang perlu diperbaiki agar pertumbuhan dapat lebih merata dan berkelanjutan.

Dengan kondisi yang demikian, Bank Mega dan perbankan secara umum terus berupaya untuk menyeimbangkan antara pertumbuhan kredit dan stabilitas keuangan. Tantangan-tantangan yang dihadapi menjadi pelajaran penting untuk meningkatkan efisiensi dan keberlanjutan operasional perbankan di masa depan.

Pos terkait