Perkembangan Penjualan Motor Listrik di Astra Motor Patimura
Sales Counter Astra Motor Patimura, Ririn (37), mengungkapkan bahwa pada tahap awal pemasaran motor listrik, perusahaan lebih fokus pada pengenalan produk kepada masyarakat. Hal ini dilakukan karena adanya persaingan harga dengan produk motor listrik lain yang relatif lebih murah.
“Di awal kita memang lebih ke promosi. Promosi habis-habisan memang agak sulit di awal-awalnya, karena melihat banyaknya pengguna motor listrik lain yang harganya lebih murah. Jadi kita lebih ke promosi, pengenalan produk, dan pengenalan fitur,” ujarnya saat diwawancarai di Dealer Astra Motor Pattimura, Jl Patimura Pontianak Kota, Sabtu 4 April 2026.
Meski demikian, penjualan mulai menunjukkan peningkatan signifikan pada tahun-tahun berikutnya. Ririn menyebutkan bahwa beberapa tipe seperti EM 1 e, Icon e, dan CUV e mulai diminati pasar.
“Di tahun selanjutnya itu lumayan banyak meningkat. Meningkat cukup pesat, baik di CUV e, Icon e, maupun EM 1 e. Kalau tidak salah, pertama kali kita rilis itu EM 1e sekitar tiga tahun lalu, lalu Icon e dan CUV e menyusul, dengan peningkatan penjualan terlihat di 2025,” jelasnya.
Faktor-Faktor yang Mendorong Minat Konsumen
Menurut Ririn, ada beberapa faktor yang mendorong minat konsumen terhadap motor listrik, di antaranya aspek ramah lingkungan dan penggunaan yang lebih cocok untuk wilayah perkotaan.
“Pertama mungkin karena lebih ramah lingkungan. Kedua, motor ini lebih cocok digunakan di dalam wilayah kota,” katanya.
Dari tiga tipe yang tersedia, CUV e menjadi model yang paling diminati masyarakat. Hal ini tidak lepas dari keunggulan fitur yang ditawarkan, seperti penggunaan dua baterai dan jarak tempuh yang lebih jauh.
“Untuk saat ini yang paling diminati tipe CUV e. Kelebihannya ada dua baterai dengan jarak tempuh lebih dari 80 kilometer dan memiliki tiga mode, yaitu standar, ikon, dan sport. Penggunaannya sudah hampir sama dengan motor bensin,” ungkap Ririn.
Tantangan dalam Pemasaran Motor Listrik
Meski demikian, penjualan motor bensin masih mendominasi dibandingkan motor listrik. Hal ini disebabkan oleh branding motor bensin yang sudah lebih lama dikenal masyarakat.
“Untuk saat ini memang motor bensin masih lebih banyak terjual karena sudah lama dikenal. Motor listrik ini kan baru beberapa tahun terakhir kita branding,” katanya.
Ririn juga menyebutkan bahwa hingga saat ini belum ada keluhan signifikan dari konsumen terkait motor listrik. Namun, keterbatasan fasilitas pengisian daya di Pontianak masih menjadi kendala.
“Di Pontianak belum ada power pack untuk tukar baterai. Jadi konsumen masih mengisi daya di rumah masing-masing menggunakan charger,” jelasnya.
Selain itu, harga dan keraguan terhadap ketahanan baterai juga menjadi tantangan tersendiri dalam pemasaran motor listrik.
“Tantangan salah satunya memang harga, karena produk lain ada yang lebih murah. Selain itu, konsumen juga masih ragu soal ketahanan baterai dan biaya penggantiannya,” ungkapnya.
Prospek Ke Depan Motor Listrik
Meski begitu, ia optimistis prospek motor listrik ke depan akan semakin meningkat, terutama jika terjadi kondisi seperti kelangkaan bahan bakar minyak (BBM).
“Prospeknya ke depan akan meningkat. Apalagi kemarin sempat terjadi antrean panjang BBM, itu membuat konsumen mulai melirik motor listrik sebagai solusi,” kata Ririn.
Ia menambahkan bahwa motor listrik menawarkan berbagai keunggulan, seperti biaya perawatan yang lebih rendah dan penggunaan yang lebih praktis.
“Motor listrik lebih ringan, tidak berisik, dan perawatannya lebih irit karena tidak perlu ganti oli dan tidak perlu sering servis,” pungkasnya.







