Kehidupan Anggi yang Ternyata Penuh Tekanan
Anggi dikenal oleh keluarganya sebagai sosok yang sangat baik, penurut, mudah mengalah, dan selalu murah senyum. Ia juga terkenal penyayang terhadap anak-anak, khususnya keponakan-keponakannya. Sifat lembutnya membuatnya dekat dengan banyak orang di sekitarnya.
Namun, di balik sifatnya yang ceria, Anggi ternyata menghadapi tekanan dalam hubungan pribadinya. Hubungannya dengan mantan suami sirinya, FD (49), menyimpan masalah yang tidak diketahui banyak orang.
Setelah ditalak pada awal Februari 2026, Anggi memilih tinggal sendiri di rumah kontrakan. Meski telah berpisah, pelaku diduga tetap memantau dan membatasi kehidupan korban. Perubahan aktivitas Anggi sejak mulai bekerja di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dipicu rasa cemburu dari pelaku.
Kakak korban, Dian Puspitasari (40), mengungkap bahwa sejak adiknya bekerja, interaksi korban dengan orang luar meningkat. Hal ini mungkin memicu kecemburuan pelaku. Dian juga menilai bahwa Anggi seolah dibatasi ruang geraknya, termasuk dalam berinteraksi dengan orang lain.
Komunikasi terakhir antara keluarga dan Anggi terjadi pada Kamis malam sekitar pukul 21.30 WIB. Setelah itu, komunikasi terputus karena kesibukan menjelang Lebaran. Dian sempat berpapasan dengan Anggi di hari yang sama saat hendak ke pasar. Belakangan ia menyadari bahwa pada momen tersebut, pelaku ternyata berada di belakang dan diduga membuntuti korban.
Lokasi Kejadian yang Sunyi
Rumah kontrakan tempat tewasnya Dwhinta di Jalan Daman I, RT 08/RW 02, Kelurahan Bambu Apus, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur, tampak sunyi usai peristiwa pembunuhan yang terjadi Sabtu (21/3/2026). Berdasarkan pantauan Kompas.com di lokasi, Minggu (22/3/2026), rumah tersebut kini telah dipasangi garis polisi yang melintang di bagian pintu dan jendela.
Suasana di sekitar lokasi terlihat sepi, tanpa aktivitas penghuni. Di bagian luar rumah, tampak sebuah handuk berwarna merah tergantung di tali jemuran yang membentang tepat di depan jendela. Di lantai teras, terdapat sepasang sandal, sebuah sapu, serta sejumlah barang pribadi yang tergeletak.
Dua jendela rumah terlihat dalam kondisi terbuka dengan posisi miring ke arah luar. Sementara itu, pintu rumah tertutup rapat, menambah kesan sunyi dan mencekam di lokasi kejadian.
Jejak Kekerasan yang Menyisakan Rasa Takut
Dari balik garis polisi, kondisi dalam rumah menyisakan jejak kekerasan yang dialami korban. Hal ini diungkapkan oleh kakak kandung korban, Dian Puspitasari (40), yang melihat langsung kondisi adiknya saat ditemukan.
“Posisinya sudah terlentang. Ada luka sayatan di leher, terus sama darah nempel di kasur dan jatuh ke ubin (lantai),” ungkap Dian saat ditemui Kompas.com di lokasi, Minggu (22/3/2026).
Sebelum penemuan tersebut, keluarga sempat tidak menaruh curiga meski korban tidak merespons pesan. “Kami WA tumben enggak nyahut. Kondisi pintunya juga kan dikunci, jadi pikiran kita ya orangnya lagi pergi,” ujarnya.
Diketahui, korban ditemukan tewas setelah ibu dan adiknya mencoba mengecek kondisi korban. Karena tidak ada respons, sang adik masuk melalui jendela yang terbuka dan mendapati korban telah meninggal dunia.
“Korban ditemukan meninggal dunia di lantai dengan kondisi di lantai dan kasur terdapat darah mengering,” ujar Kepala Subdit Resmob Polda Metro Jaya, AKBP Ressa Fiardi Marasabessy, dalam keterangannya, Sabtu.





