Kondisi JPO di Terminal Kampung Rambutan yang Rusak Berat Mengundang Kritik
Koalisi Pejalan Kaki mengkritik kondisi Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) di Terminal Kampung Rambutan, Ciracas, Jakarta Timur yang telah rusak berat selama tiga tahun. Kondisi ini dinilai membahayakan dan tidak ramah bagi kelompok rentan seperti penyandang disabilitas, ibu hamil, serta lansia.
Kerusakan fasilitas pejalan kaki dianggap sebagai cerminan kegagalan Pemprov DKI dalam memenuhi indikator “walkability city” yang menjadi syarat utama untuk menjadi kota global. Diperkirakan sekitar 30 JPO di Jakarta mengalami kerusakan berat, sehingga dianjurkan untuk dibangun ulang atau diganti dengan fasilitas seperti zebra cross atau pelican crossing sesuai kebutuhan lokasi.
Koalisi Pejalan Kaki menyoroti peran Pemprov DKI Jakarta dalam penanganan JPO di Terminal Kampung Rambutan. Sudah tiga tahun terakhir, kondisi JPO tersebut terlihat sangat memprihatinkan. Hampir seluruh badan jembatan berkarat, lantai ringkih saat dipijak, serta lampu penerangan dan bagian atap rusak. Hal ini membuat para pejalan kaki merasa waswas saat melintasi jembatan tersebut.
Ketua Koalisi Pejalan Kaki, Alfred Sitorus, menyatakan bahwa pembiaran kondisi JPO yang rusak menunjukkan bahwa Jakarta gagal memenuhi syarat sebagai kota global. Ia menegaskan bahwa indikator kota global bukan hanya sebatas sisi ekonomi, tetapi juga ketersediaan fasilitas publik yang mendukung mobilitas masyarakat pejalan kaki dan pengguna transportasi umum.

“Jakarta yang digadang-gadang sebagai kota global sebenarnya indikator kota globalnya itu gagal. Indikatornya ya, bukan sebutan kota globalnya,” ujar Alfred di Jakarta Timur, Sabtu (4/3/2026).
Menurut Alfred, kondisi JPO di Terminal Kampung Rambutan yang rusak dan tidak ramah bagi kelompok rentan menjadi catatan penting. Koalisi Pejalan Kaki membandingkan kondisi JPO di Jakarta dengan di Bangkok, di mana pejalan kaki dapat nyaman dan aman melintas meski membawa barang besar seperti koper.
“Indikator pendukung kota globalnya itu gagal. karena salah satunya Jakarta itu harus terpenuhi terkait dengan walkability city-nya, memfasilitasi ruang pejalan kaki dengan aman dan nyaman,” ujarnya.
Alfred menjelaskan bahwa berdasarkan data dari Koalisi Pejalan Kaki, setidaknya ada 30 JPO dengan kondisi rusak berat atau disebut JPO aborsi. JPO aborsi adalah JPO yang harus dirobohkan, lalu dibangun ulang dengan konstruksi lebih baik atau bahkan ditiadakan dan diganti dengan zebra cross atau pelican crossing.

Pilihan membangun ulang JPO atau menggantinya dengan pelican crossing tergantung pada analisis yang dilakukan dengan memperhatikan mobilitas kendaraan dan kebutuhan lokasi. “Masa sih mereka (Pemprov) enggak punya jago-jagoan di Jakarta yang bisa membuahkan konsep dan ide untuk memudahkan pergerakan manusia. Salah satunya dengan JPO ini,” tuturnya.
Sebelumnya, kondisi Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) di Terminal Kampung Rambutan, Ciracas, Jakarta Timur dikeluhkan warga karena kondisinya rusak berat dan tak terawat. Hampir seluruh anak tangga hingga lantai JPO dipenuhi karat, bahkan beberapa titik lantai tampak sangat ringkih. Lampu yang terpasang pada JPO juga tampak rusak atau tidak lagi berfungsi.
Padahal, JPO yang berada di area antar kota dalam provinsi (AKDP) Terminal Kampung Rambutan menghubungkan antara halte Transjakarta dengan area park and ride di terminal. Dikonfirmasi terkait kondisi JPO, pihak Terminal Kampung Rambutan menyatakan bahwa JPO di area AKDP yang rusak merupakan aset Dinas Bina Marga DKI Jakarta.
Kepala Terminal Kampung Rambutan, Revi Zulkarnain, mengatakan bahwa JPO pada area AKDP itu rencananya akan dibongkar oleh Badan Pengelola Aset Daerah (BPAD). “Info terakhir itu (JPO aset) milik Bina Marga, dan juga ada info mau di bongkar oleh BPAD,” kata Revi.
Awak media juga sudah berupaya mengonfirmasi Kepala Sudin Bina Marga Jakarta Timur, Benhard Hutajulu, tapi hingga berita ditulis, Benhard belum memberikan respons.







