Pada awal pekan ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan tren yang kurang menggembirakan dengan bergerak di zona merah hampir sepanjang sesi perdagangan. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) yang diakses melalui RTI, IHSG akhirnya ditutup dengan pelemahan tipis sebesar 0,08%, setara dengan 5,38 poin, pada level 7.091,67 pada hari Senin (30/3/2026).
Meskipun tren IHSG secara keseluruhan menunjukkan pelemahan, para analis pasar modal tetap memberikan pandangan dan rekomendasi teknikal untuk sejumlah saham yang dinilai memiliki potensi menarik untuk perdagangan di hari berikutnya, Kamis (31/3/2026). Analisis mendalam terhadap pergerakan harga, volume perdagangan, serta indikator teknikal menjadi dasar dari rekomendasi yang diberikan.
Berikut adalah ulasan lengkap mengenai rekomendasi saham pilihan dari para analis:
Saham AMMN menunjukkan performa positif pada penutupan perdagangan Senin (30/3), dengan kenaikan sebesar 0,62% secara harian, mencapai harga Rp 4.880. Analisis teknikal menunjukkan bahwa saham ini sedang berada dalam fase limited downside, yang mengindikasikan adanya potensi untuk rebound atau pemulihan harga.
Faktor pendukung potensi rebound ini adalah adanya akumulasi volume perdagangan yang signifikan. Jika tren ini berlanjut, AMMN berpeluang untuk menguji level resistance pada Moving Average 20 (MA20) sekaligus resistance bearish channel-nya. Dari sisi indikator teknikal, Relative Strength Index (RSI) berada di angka 24, sementara indikator MACD menunjukkan histogram sebesar -85.
Rekomendasi ini disampaikan oleh Muhammad Wafi dari Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI).
Saham GOTO saat ini masih tertahan dalam fase downtrend atau tren menurun. Namun demikian, dalam dua hari terakhir, terlihat adanya dominasi volume pembelian yang masuk ke saham ini. Meskipun indikator MACD masih berada di area negatif, stochastic menunjukkan sinyal positif dengan peluang menguat menuju area netral. Pada penutupan perdagangan Senin (30/3), GOTO berhasil menguat 1,96% secara harian, ditutup pada harga Rp 52.
Pandangan ini dikemukakan oleh Herditya Wicaksana dari MNC Sekuritas.
Saham INDF mengalami koreksi tipis pada penutupan perdagangan Senin (30/3), turun sebesar 0,42% secara harian ke level Rp 5.950. Analisis teknikal menunjukkan adanya pola inverted hammer candle, yang seringkali menjadi sinyal pembalikan arah harga. Selain itu, indikator MACD memperlihatkan adanya golden cross, yang menandakan potensi kenaikan, dan volume perdagangan juga terpantau meningkat.
Namun, perlu dicatat bahwa indikator stochastic justru menunjukkan sinyal dead cross, yang perlu diwaspadai. Kondisi ini mengindikasikan bahwa saham INDF berpotensi rentan terhadap sell on strength atau penjualan saat terjadi penguatan harga, terutama jika gagal menembus area resistance di kisaran Rp 6.000 hingga Rp 6.200.
Rekomendasi ini disampaikan oleh Achmad Yaki dari BCA Sekuritas.
Para pelaku pasar disarankan untuk mencermati pergerakan saham-saham tersebut dan mempertimbangkan rekomendasi dari para analis ini sebagai salah satu referensi dalam pengambilan keputusan investasi. Penting untuk diingat bahwa pasar saham selalu memiliki risiko, dan keputusan investasi harus didasarkan pada analisis yang cermat serta toleransi risiko masing-masing investor.
Pemerintah Akan Bangun Rumah Susun di Tanah Abang, Jakarta Pusat Pemerintah Indonesia berencana membangun rumah…
Denada Akhirnya Bertemu Putra Kandung Setelah 24 Tahun Terpisah: Momen Penuh Haru dan Klarifikasi Setelah…
Pendekatan Orang Tua yang Berbeda dalam Menghadapi Perubahan Anak Keputusan Sienna untuk melepas hijab belakangan…
JAKARTA – Transformasi digital bukan lagi sekadar tren, melainkan kebutuhan utama di hampir semua sektor…
Alvaro Carpe, pembalap Red Bull KTM Ajo, kembali mengungkap perjuangannya dalam meraih podium secara dramatis…
Lima Fakta Mencengangkan Persib Bandung yang Mengalahkan Semen Padang Pertandingan antara Persib Bandung dan Semen…