Birokrasi Jawa Barat Hadapi Tantangan Ketimpangan Fungsi: Dominasi Administratif, Kelemahan Teknis
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, yang akrab disapa KDM, baru-baru ini menyoroti sebuah isu krusial dalam tatanan birokrasi di provinsi yang dipimpinnya. Ia mengemukakan bahwa sistem birokrasi saat ini masih menunjukkan ketimpangan yang signifikan, di mana fungsi administratif cenderung mendominasi dibandingkan dengan kerja teknis yang seharusnya menjadi tulang punggung pelaksanaan program di lapangan.
Pernyataan ini disampaikan oleh KDM usai menghadiri sebuah acara silaturahmi yang digelar di Gedung Sate, Kota Bandung, pada hari Senin, 1 April. Dalam kesempatan tersebut, KDM menguraikan pandangannya mengenai komposisi birokrasi yang menurutnya belum mencapai titik ideal. Ia berpendapat bahwa terlalu banyak jabatan struktural yang diisi, sementara jumlah tenaga pelaksana yang memiliki keahlian teknis justru minim.

“Program dari kita ini lebih banyak jabatan struktural, lebih banyak orang yang memiliki fungsi-fungsi menyuruh dibanding yang mengerjakan,” ujar KDM pada Senin (30/3). Ia menekankan bahwa kecenderungan ini menciptakan ketidakseimbangan yang nyata dalam fungsi birokrasi, antara proses pemberian perintah dan realisasi pelaksanaan di lapangan.
Kesenjangan Antara Perintah dan Pelaksanaan di Sektor Publik
Lebih lanjut, KDM menjelaskan bahwa persoalan ini mencerminkan adanya jurang pemisah antara pekerjaan yang bersifat administratif dengan pekerjaan teknis yang seharusnya berjalan selaras dan saling melengkapi. Kesenjangan ini menjadi sorotan utama dalam evaluasi KDM terhadap kinerja birokrasi.
“Bahwa dalam sistem birokrasi kita, ini adalah kesenjangan antara pekerjaan teknis dan pekerjaan administratif,” jelasnya. Ia mengamati bahwa sebagian besar aparatur birokrasi saat ini lebih banyak terserap dalam kegiatan administratif, sementara kapasitas dan kemampuan teknis di tingkat operasional masih tergolong lemah.
“Kebanyakan birokrasi ini bekerja pada sisi administratif, dan lemah pada sisi teknis,” kata KDM. Implikasi dari kelemahan ini, menurut KDM, dapat dilihat secara nyata pada beberapa aspek pelaksanaan program pemerintah.
Dampak Nyata Kelemahan Teknis: Pengawasan dan Kualitas Pekerjaan
Kelemahan dalam sisi teknis ini, ungkap KDM, seringkali berujung pada lemahnya pengawasan terhadap kualitas pekerjaan yang dilakukan di lapangan. Ia memberikan contoh konkret mengenai kondisi infrastruktur, seperti jalan.
“Misalnya jalan tim pengawasnya lemah, pekerja-pekerjanya lemah,” ujarnya. Hal ini menunjukkan bahwa ketika tim yang bertanggung jawab untuk mengawasi kualitas pembangunan jalan tidak memiliki kompetensi teknis yang memadai, serta para pekerja yang terlibat juga kurang terampil, maka hasil akhirnya tentu tidak akan optimal. Kualitas jalan yang buruk, misalnya, bisa menjadi salah satu indikator dari masalah ini.
Fenomena ini tidak hanya terbatas pada sektor pembangunan infrastruktur, namun berpotensi merambah ke berbagai sektor pelayanan publik lainnya yang membutuhkan keahlian teknis spesifik. Kurangnya tenaga ahli di lapangan dapat menghambat inovasi, efisiensi, dan efektivitas program-program pemerintah.
Komitmen Perbaikan: Memperbanyak Tenaga Teknis Lapangan
Menanggapi permasalahan ini, KDM menyatakan komitmennya untuk melakukan perbaikan struktural dalam birokrasi Jawa Barat. Fokus utama dari perbaikan ini adalah memperbanyak jumlah tenaga kerja yang memiliki keahlian teknis dan secara langsung terlibat dalam pelaksanaan program di lapangan.

“Dan ke depan itu akan saya mencoba memperbanyak tenaga yang bekerja pada layanan-layanan yang bersifat teknis langsung,” pungkasnya. Upaya ini diharapkan dapat menciptakan keseimbangan yang lebih baik antara fungsi administratif dan teknis, sehingga roda pemerintahan dapat berjalan lebih efektif dan efisien.
Perubahan ini tidak hanya sekadar penambahan jumlah personel, tetapi juga mencakup peningkatan kompetensi dan kualifikasi tenaga teknis. Dengan demikian, diharapkan Jawa Barat dapat memiliki birokrasi yang tidak hanya mampu merencanakan, tetapi juga mampu mengeksekusi program dengan standar kualitas tertinggi di lapangan.
Langkah strategis ini diharapkan dapat menjadi fondasi bagi peningkatan kualitas pelayanan publik secara keseluruhan, mulai dari pembangunan infrastruktur yang kokoh, pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan, hingga pelayanan kesehatan dan pendidikan yang lebih baik bagi seluruh masyarakat Jawa Barat.







