Proyek Rabat Beton Rp11 Miliar Mangkrak, Muncul Dugaan Korupsi di Flores Timur
Flores Timur – Proyek rabat beton senilai Rp11 miliar di ruas Basira-Latonliwo, Kecamatan Tanjung Bunga, Kabupaten Flores Timur, kini menjadi sorotan tajam publik. Harapan warga akan perbaikan infrastruktur jalan justru pupus lantaran proyek tersebut dilaporkan mangkrak. Kondisi ini memunculkan berbagai pertanyaan serius, mulai dari proses lelang hingga pelaksanaan di lapangan, yang diduga kuat mengarah pada tindak pidana korupsi.
Dugaan ini semakin menguat seiring dengan laporan masyarakat yang mendesak jajaran Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Tipikor) Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk segera mengusut tuntas kasus ini. Dukungan dari berbagai elemen masyarakat, termasuk tokoh adat, akademisi, dan organisasi sipil, terus mengalir, menunjukkan keresahan mendalam terhadap pengelolaan anggaran publik yang diduga diselewengkan.
Kronologi dan Kejanggalan Tender
Kasus ini mulai mencuat ketika CV. Valentine, perusahaan yang menempati peringkat keempat dalam proses tender dengan penawaran Rp10,92 miliar, ditetapkan sebagai pemenang oleh Plt. Kepala Unit Lelang Pengadaan Barang dan Jasa (ULP) Kabupaten Flores Timur, Adrianus Bengaama Lamabelawa, S.H. Keputusan ini sontak menimbulkan tanda tanya besar.
Biasanya, dalam proses tender, penawaran terendah seringkali menjadi pertimbangan utama. Namun, dalam kasus ini, CV. Valentine yang mengajukan penawaran cukup tinggi justru menjadi pemenang. Situasi ini semakin diperparah dengan hasil pekerjaan di lapangan yang jauh dari harapan.
Proyek Mangkrak, Kerugian Negara dan Masyarakat
Proyek rabat beton yang membentang sepanjang enam kilometer di ruas Basira-Latonliwo ini memiliki nilai kontrak sebesar Rp11 miliar. Namun, hingga masa kontrak yang seharusnya berlangsung selama 170 hari berakhir, pekerjaan yang terealisasi hanya sepanjang 1,62 kilometer. Angka ini setara dengan sekitar 27,80 persen dari total target pekerjaan.
Kondisi mangkrak ini menimbulkan spekulasi kuat adanya rekayasa, baik dalam proses lelang maupun pelaksanaan proyek itu sendiri. CV. Valentine, sebagai pemenang tender, dinilai tidak memiliki kapasitas yang memadai untuk menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan kontrak yang disepakati. Padahal, selisih antara nilai penawaran perusahaan tersebut dengan pagu anggaran proyek hanya sekitar Rp72 juta. Dengan nilai penawaran yang terbilang tinggi, seharusnya perusahaan tersebut memiliki sumber daya dan kapabilitas untuk menyelesaikan proyek secara berkualitas dan tepat waktu. Namun, kenyataannya justru sebaliknya, proyek terbengkalai dan masyarakat kembali dirugikan.
Pertanyaan Serius Terkait Dokumen Penawaran
Muncul pertanyaan mendasar mengenai keabsahan dokumen penawaran yang diajukan oleh CV. Valentine. Apakah dokumen tersebut benar-benar disusun berdasarkan kajian teknis yang sesuai dengan standar harga yang berlaku, atau justru merupakan hasil rekayasa oleh pihak-pihak tertentu? Bahkan, beredar dugaan bahwa dokumen penawaran tersebut tidak disusun oleh tim teknis internal perusahaan, melainkan oleh pihak eksternal yang memiliki kepentingan tersembunyi.
Desakan untuk Tindakan Tegas
Atas dasar berbagai kejanggalan dan dugaan kuat adanya praktik korupsi, masyarakat Flores Timur secara tegas mendesak agar Tipikor Polda NTT dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Republik Indonesia segera turun tangan. Mereka menuntut agar seluruh dokumen lelang proyek senilai Rp11 miliar ini disita. Dokumen-dokumen krusial tersebut diketahui berada di tangan beberapa pihak, termasuk:
- Kepala Unit Lelang Pengadaan (ULP) Flotim, Adrianus Bengaama Lamabelawa, S.H.
- Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) sekaligus Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), Paulus Lagadoni Hekin, S.T.
- Kontraktor pelaksana, CV. Valentine.
Pandangan Pakar Hukum Tata Negara
Menanggapi persoalan ini, Pakar Hukum Tata Negara dari Universitas Nusa Cendana (Undana), John Tuba Helan, memberikan pandangannya. Ia menjelaskan bahwa regulasi tender memang tidak selalu memprioritaskan penawaran terendah sebagai satu-satunya kriteria pemenang. Pertimbangan kualitas proyek juga menjadi faktor penting. Namun, ia menegaskan, ketika pemenang tender adalah dengan penawaran tertinggi, maka tanggung jawab untuk menyelesaikan proyek secara berkualitas dan tepat waktu menjadi sebuah keharusan mutlak.
“Pengawas proyek, PPK, DPRD, dan Inspektorat seharusnya menjalankan fungsi pengawasan secara rutin. Dengan begitu, proyek gagal bisa dicegah. Saya yakin kasus ini terjadi karena ada pembiaran atau faktor lain yang belum terungkap,” ujar John Tuba Helan.
Ia juga menekankan pentingnya dukungan masyarakat terhadap Polda NTT untuk mengusut tuntas kasus ini. Apabila terbukti adanya unsur korupsi, maka proses hukum harus dijalankan hingga ke akar-akarnya tanpa pandang bulu.
Pola Kegagalan Proyek yang Berulang
Kasus proyek rabat beton Basira-Latonliwo ini bukanlah insiden pertama yang merugikan masyarakat Flores Timur. Sebelumnya, masyarakat juga pernah mengalami kekecewaan akibat proyek air di Ile Boleng dan proyek air desa Helanlangowuyo yang tidak berjalan sesuai harapan. Pola kegagalan proyek yang berulang ini secara jelas menunjukkan adanya kelemahan fundamental dalam sistem pengawasan dan minimnya transparansi dalam pengelolaan anggaran publik di wilayah tersebut.
Pentingnya Transparansi dan Partisipasi Masyarakat
John Tuba Helan lebih lanjut menekankan perlunya pengawasan yang lebih efektif di masa mendatang. Pengawasan ini tidak hanya menjadi tanggung jawab lembaga formal pemerintah, tetapi juga peran aktif dari masyarakat sipil. Di era demokrasi, transparansi dan akuntabilitas adalah kunci. Masyarakat berhak mendapatkan informasi yang jelas mengenai volume proyek, biaya yang dialokasikan, serta seluruh tahapan prosesnya. Dengan demikian, masyarakat dapat menjalankan fungsi kontrolnya secara optimal.
“Kita tidak bisa sepenuhnya berharap pada pengawas formal dalam pemerintahan, karena terkadang mereka justru bagian dari proyek gagal. Demokrasi mengajarkan bahwa kedaulatan ada di tangan rakyat. Maka rakyat harus ikut berpartisipasi dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan pembangunan. Tanpa partisipasi, demokrasi akan mati,” tegasnya.
Harapan Masyarakat pada Penegak Hukum
Saat ini, seluruh harapan masyarakat Flores Timur tertuju pada aparat penegak hukum. Dukungan terhadap Tipikor Polda NTT terus mengalir dari berbagai kalangan. Mereka menuntut agar kasus proyek rabat beton Basira-Latonliwo ini diusut tuntas hingga ke akarnya, sehingga praktik proyek mangkrak yang merugikan rakyat tidak terulang lagi.
Kasus ini menjadi cerminan betapa krusialnya transparansi dalam setiap proses lelang dan pelaksanaan proyek pemerintah. Jika dugaan rekayasa dan penyelewengan terbukti, maka hal ini bukan sekadar pelanggaran administratif, melainkan tindak pidana korupsi yang harus ditindak dengan tegas sesuai hukum yang berlaku. Dengan sorotan publik yang semakin luas, diharapkan Tipikor Polda NTT segera mengambil langkah konkret demi menegakkan keadilan dan memberantas praktik korupsi di Nusa Tenggara Timur.







