Inspirasi Kasih: Pondok Pesantren dan Panti Asuhan Nurul Sholihin, Pelabuhan Jiwa bagi Anak-anak Terlupakan
Di jantung Kota Palangka Raya, berdiri sebuah lembaga yang bukan sekadar tempat bernaung, melainkan sebuah bukti nyata tentang kekuatan kasih sayang dan pengabdian tanpa batas. Pondok Pesantren dan Panti Asuhan Nurul Sholihin, di bawah kepemimpinan Ibu Siti Nursiati, telah menjadi mercusuar harapan bagi anak-anak yang membutuhkan uluran tangan, tempat di mana pendidikan bukan hanya tentang akademis, melainkan tentang penanaman nilai, pembentukan akhlak mulia, dan penyaluran kasih sayang tulus.
Ibu Siti Nursiati, seorang perempuan kelahiran 9 Juli 1967, menapaki jalan hidupnya dengan keyakinan teguh bahwa mendidik anak adalah sebuah misi ilahi. Baginya, esensi pendidikan jauh melampaui sekadar mengajarkan baca tulis atau hafalan kitab suci. Ini adalah tentang menanamkan fondasi moral yang kuat, membentuk karakter yang berintegritas, dan memberikan rasa aman serta cinta kepada mereka yang mungkin tak lagi memiliki keluarga atau tempat untuk kembali. Prinsip inilah yang mendorong berdirinya Pondok Pesantren dan Panti Asuhan Nurul Sholihin.
Keputusan Ibu Siti untuk mendedikasikan hidupnya dalam mengelola pondok pesantren sekaligus panti asuhan bukanlah sekadar bentuk kerja sosial biasa. Ini adalah wujud nyata dari dakwah melalui tindakan, sebuah upaya mulia untuk mendidik, mengasuh, dan merawat anak-anak secara langsung dalam keseharian mereka. Ia menyadari sepenuhnya bahwa setiap ucapan, tindakan, dan sikapnya akan menjadi cerminan dan teladan bagi anak-anak yang berada di bawah asuhannya.
Perjalanan spiritual dan pengabdian Ibu Siti dimulai pada awal tahun 2013. Pada masa itu, Nurul Sholihin belum dikenal luas sebagai sebuah pondok pesantren atau panti asuhan. Yang ada hanyalah sebuah rumah tahfiz sederhana yang berlokasi di kediamannya di Jalan G Obos XXIII, Kelurahan Menteng, Kecamatan Jekan Raya. Anak-anak mulai berdatangan, sebagian didorong oleh orang tua mereka, sebagian lagi karena rasa penasaran, untuk belajar mengaji.
Kegiatan belajar mengaji ini perlahan berkembang, merambah ke jenjang Taman Kanak-kanak (TK) dan Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA). Puncaknya adalah berdirinya Masjid Mini Nurul Sholihin. Peresmian peletakan batu pertama untuk pembangunan masjid dan fasilitas TK/TPA oleh Wali Kota Palangka Raya saat itu, H Muhammad Riban Satia, menjadi penanda monumental tumbuhnya pusat kegiatan keagamaan dan pendidikan yang strategis di kawasan tersebut.
Seiring berjalannya waktu, jumlah anak yang datang semakin bertambah. Mereka tidak hanya datang untuk belajar, tetapi juga membawa serta cerita kehidupan yang tidak ringan. Banyak di antara mereka berasal dari keluarga yang kurang mampu, anak yatim piatu, anak yatim, anak piatu, hingga anak-anak dari kalangan dhuafa.
“Ketika anak-anak itu semakin banyak berkumpul dengan latar belakang yang berat, saya merasa harus ada lembaga yang lebih spesifik agar pengasuhan dan pendidikannya benar-benar sampai,” ungkap Ibu Siti Nursiati dengan penuh haru, membagikan alasannya mendirikan panti asuhan.
Niat mulia tersebut akhirnya terwujud dengan pendirian Panti Asuhan Nurul Sholihin pada tahun 2017. Sejak saat itu, anak-anak yang tinggal di panti tidak hanya mendapatkan tempat bernaung dan diasuh, tetapi juga menjadi santri dan santriwati pondok pesantren. Mereka dibimbing, dididik, dan dibina secara menyeluruh, baik lahir maupun batin, dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai jantung dan ruh utama dari seluruh proses pendidikan.
Mengelola panti asuhan, terlebih di tengah dominasi sosok laki-laki sebagai pimpinan lembaga serupa, bukanlah perkara yang mudah bagi Ibu Siti. Namun, ia teguh pada jalurnya, meyakini bahwa tanggung jawabnya bukan hanya sebatas mendidik secara akademis dan spiritual, melainkan juga menjadi teladan hidup yang tak tergoyahkan bagi anak-anak asuhnya.
Berdasarkan data Profil Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Panti Asuhan Nurul Sholihin Tahun 2022, tercatat sebanyak 257 anak binaan. Rinciannya adalah 220 anak yang tinggal di dalam panti dan 37 anak yang merupakan binaan luar panti. Keragaman latar belakang sosial anak-anak ini sangat mencolok, mencakup yatim piatu, yatim, piatu, dhuafa atau keluarga kurang mampu, hingga anak-anak mualaf. Prestasi membanggakan juga diraih LKSA ini dengan status akreditasi B yang telah disandangnya sejak tahun 2019.
Perkembangan jumlah santri dan anak asuh terus menunjukkan tren positif. Hingga Februari 2026, total mencapai 289 orang. Dinamika pengasuhan pun semakin kompleks, terutama sejak penghujung tahun 2025, ketika Nurul Sholihin mulai menerima titipan bayi dan balita dalam jumlah yang terus meningkat.
Saat ini, tercatat 41 bayi dan balita yang berada di bawah perawatan panti. Bayi termuda berusia sekitar enam bulan, sementara sebagian lainnya datang saat usia satu bulan, bahkan ada yang baru berumur nol hari ketika pertama kali diantarkan. Awalnya, jumlah bayi yang dititipkan hanya tujuh orang, kemudian berangsur naik menjadi 15 hingga 20 anak, dan terus bertambah seiring waktu.
Beberapa bayi bahkan datang dari luar daerah, termasuk dari wilayah Barito. Kondisi mereka pun sangat beragam. Ada yang diantarkan dalam balutan kain seadanya, ada yang digendong menggunakan kain jarit tanpa perlengkapan yang memadai, bahkan ada yang masih membawa sisa tali pusat saat pertama kali diterima.
“Awalnya saya sempat berpikir, ini bisa atau tidak diterima. Tapi akhirnya saya terima. Kalau tidak diterima, bagaimana nasib bayinya?” tutur Ibu Siti Nursiati, menggambarkan dilema dan keputusannya.
Beliau dengan tegas menyatakan bahwa latar belakang orang tua bayi-bayi tersebut tidak pernah menjadi persoalan baginya. Baginya, urusan administrasi atau asal-usul tidak boleh mengalahkan nilai kemanusiaan yang paling mendasar.
“Saya tidak peduli latar belakang orang tuanya. Jangan sampai hal seperti ini terjadi di keluarga siapa pun. Yang terpenting bagi saya, jiwanya selamat,” tegasnya, menunjukkan keteguhan hatinya.
Ironisnya, mengasuh bayi-bayi itu justru memberikan ketenangan tersendiri baginya. Beliau menyebut bayi-bayi tersebut sebagai makhluk suci dan bersih, tanpa beban masa lalu. Kehadiran mereka menjadi pengingat abadi akan makna pengabdian yang tulus dan keikhlasan yang mendalam.
Di lingkungan pondok dan panti asuhan ini, pendidikan benar-benar menjadi napas utama kehidupan sehari-hari. Anak-anak dibiasakan untuk menjalankan salat lima waktu secara rutin, membaca dan menghafal Al-Qur’an, belajar menulis serta mengkaji berbagai ilmu agama, sekaligus menanamkan nilai-nilai akhlak terpuji dan sopan santun dalam keseharian mereka.
Meskipun pendidikan formal anak-anak masih ditempuh di sekolah-sekolah umum di luar lingkungan panti, pihak pengelola terus berupaya keras untuk mendirikan sekolah sendiri yang memiliki izin operasional resmi. Hal ini menunjukkan komitmen jangka panjang untuk memberikan pendidikan yang holistik dan terintegrasi.
“Pendidikan tanpa ilmu itu seperti mobil tanpa setir. Walaupun ilmunya sedikit, kalau diamalkan, insya Allah akan bermanfaat,” ujar Ibu Siti, menekankan pentingnya aplikasi ilmu dalam kehidupan.
Kehadiran Pondok Pesantren dan Panti Asuhan Nurul Sholihin tidak hanya memberikan dampak positif bagi anak-anak asuhnya, tetapi juga merambah ke lingkungan sekitar. Berbagai kegiatan keagamaan dan sosial tumbuh subur bersama masyarakat. Mulai dari pengajian rutin, majelis taklim bagi ibu-ibu, hingga berbagai kegiatan kemasyarakatan lainnya. Lingkungan yang dulunya mungkin terasa sepi, kini bertransformasi menjadi lebih hidup, dinamis, dan harmonis.
Bagi Ibu Siti Nursiati, setiap tantangan yang muncul dalam mengelola pondok pesantren dan panti asuhan dianggap sebagai bagian tak terpisahkan dari proses dakwah dan pembelajaran hidup. Beliau selalu memegang teguh prinsip kesungguhan, kesabaran, dan keikhlasan dalam setiap langkah yang diambilnya.
Ke depan, Ibu Siti memiliki visi agar Nurul Sholihin dapat berkembang menjadi pusat pendidikan dan pengasuhan yang tidak hanya unggul secara akademis dan spiritual, tetapi juga mampu menumbuhkan kedamaian dan ketenangan jiwa bagi setiap individu yang berada di dalamnya. Ia berharap, dalam kurun waktu 10 hingga 30 tahun mendatang, anak-anak yang kini berada di bawah asuhannya, termasuk bayi-bayi yang pernah datang tanpa siapa-siapa, mampu tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, berakhlak mulia, dan siap berkontribusi secara positif sebagai imam, dai, dan pemimpin di tengah masyarakat.
“Kalau hari ini mereka masih kecil, suatu saat merekalah yang akan memimpin. Mudah-mudahan semua yang kami lakukan ini menjadi amal jariah,” tutupnya dengan senyum penuh harapan.







