Ketua BEM UGM Dilaporkan Mengalami Teror Pasca Kritik Kebijakan Pemerintah
Tiyo Ardianto, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM), kini menjadi sorotan publik setelah ia secara vokal menyuarakan kritik terhadap sejumlah kebijakan pemerintah. Kritik tajam ini dilayangkan menyusul sebuah tragedi memilukan yang menimpa seorang siswa Sekolah Dasar di Ngada, Nusa Tenggara Timur. Siswa tersebut dikabarkan mengakhiri hidupnya karena tidak mampu membeli perlengkapan sekolah dasar seperti buku dan pena.
Peristiwa tragis ini memicu kemarahan Tiyo Ardianto, yang kemudian mengarahkan kritiknya kepada berbagai kebijakan di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Beberapa poin yang disorot termasuk partisipasi Indonesia dalam Board of Peace (BoP) dan program andalannya, Makan Bergizi Gratis (MBG).
Namun, keberanian Tiyo dalam menyuarakan pendapatnya ini justru berujung pada serangkaian aksi teror. Teror tersebut tidak hanya mengancam dirinya secara pribadi, tetapi juga mulai merambah dan mengganggu ketenangan keluarganya.
Anies Baswedan Angkat Bicara dan Menegaskan Kewajiban Negara
Menanggapi situasi yang menimpa Ketua BEM UGM, Anies Baswedan, yang juga pernah menjabat sebagai Ketua Senat Mahasiswa UGM periode 1992-1993, angkat bicara. Ia menekankan bahwa kebebasan berpendapat adalah hak fundamental yang seharusnya dilindungi oleh negara.
“Karena itu adalah perintah konstitusi. Jadi berikan ruang (kebebasan berpendapat), lindungi, dan kalau ada teror negara berkewajiban melakukan investigasi,” ujar Anies usai mengikuti Diskusi Intelektual Muslim di Masjid Ulil Albab Universitas Islam Indonesia (UII) pada Jumat (20/2/2026).
Menurut pandangannya, investigasi yang dilakukan oleh negara akan mampu menciptakan rasa aman. Perlindungan ini tidak hanya krusial bagi mahasiswa yang mengalami teror, tetapi juga bagi seluruh masyarakat yang berani menyampaikan pandangan mereka.
Rincian Teror yang Dialami Tiyo Ardianto
Teror yang dialami Tiyo Ardianto bermula setelah BEM UGM mengirimkan surat kepada United Nations Children’s Fund (UNICEF) pada Jumat, 6 Februari 2026. Sejak saat itu, Tiyo mulai menerima berbagai ancaman melalui nomor telepon asing.
- Teror Melalui Pesan Singkat: Tiyo menerima sejumlah pesan berisi ancaman melalui aplikasi perpesanan WhatsApp.
- Penguntitan dan Pemotretan: Lebih jauh lagi, Tiyo juga dilaporkan dikuntit dan difoto dari jarak jauh oleh dua orang yang tidak dikenal.
- Perembetan ke Keluarga dan Anggota BEM: Aksi teror ini tidak berhenti pada Tiyo sendiri, melainkan juga mulai merambah ke anggota keluarganya serta anggota BEM UGM lainnya, menimbulkan kekhawatiran yang meluas.

Saran Anies Baswedan: Laporkan Teror ke Pihak Berwajib
Sebagai mantan Gubernur DKI Jakarta periode 2017-2022, Anies Baswedan secara tegas mendorong Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto untuk segera melaporkan segala bentuk teror yang dialaminya kepada pihak kepolisian. Langkah ini dianggap penting agar pelaku teror dapat segera diidentifikasi dan ditindak.
“Yang penting laporkan, dan negara wajib mencari tahu siapa yang melakukan teror,” tegas Anies.
Ia menambahkan bahwa ketika masyarakat yang menyampaikan kritik justru menjadi korban teror, hal tersebut akan menimbulkan rasa ketidakamanan yang signifikan. Padahal, rasa aman merupakan kebutuhan esensial bagi setiap warga negara dalam menjalankan kehidupan bermasyarakat.
“Sementara rasa aman kan dibutuhkan di negeri ini,” pungkasnya, menekankan kembali pentingnya negara hadir untuk melindungi warganya dalam menyampaikan aspirasi dan kritik.







