Di tepi lokasi longsor Kampung Pasir Kuda, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB), seorang wanita bernama Emak Waty hanya bisa terdiam. Pandangannya kosong, sesekali tertuju pada hamparan tanah yang telah menimbun rumah-rumah warga. Air mata tak henti-hentinya mengalir membasahi wajahnya yang sembab.
Di balik wajah lelahnya, tersimpan harapan besar untuk menemukan keluarganya. Empat anggota keluarga Emak Waty dilaporkan hilang sejak longsor terjadi pada Sabtu (24/1/2026) dini hari. Kedatangannya ke lokasi bukan sekadar untuk melihat, melainkan untuk menanti kabar tentang mereka. Kabar duka ini pertama kali ia ketahui secara tak sengaja.
“Pas jam 5 pagi (24/1), saya lihat dari status (WhatsApp) tetangga ada kejadian longsor di kampung anak saya. Saya telepon enggak ada yang jawab. Terus dapat informasi kalau rumah anak saya tertimbun,” ujarnya, dengan suara bergetar.
Empat anggota keluarga Emak Waty yang diduga tertimbun longsor adalah anak, menantu, dan dua cucunya. Rumah mereka berada tepat di area yang paling parah tertimbun longsor.
Mendengar kabar tersebut, Emak Waty hanya memiliki satu tujuan: mencari keluarganya. Meskipun suaminya melarang karena khawatir akan longsor susulan, ia tetap bersikeras pergi ke lokasi.
“Saya langsung ke sini pakai sepatu. Suami marah, katanya takut ada longsor lagi. Tapi saya tidak peduli, saya tidak memikirkan keselamatan saya. Yang saya pikirkan cuma anak-anak saya ini,” tuturnya dengan nada pilu.
Setibanya di lokasi, Emak Waty langsung berusaha mencari informasi ke berbagai tempat. Ia menyusuri kampung, bertanya kepada warga, bahkan mendatangi parit-parit di sekitar lokasi longsor, semuanya demi menemukan keluarganya. Dalam keterbatasannya, ia hanya bisa pasrah menunggu proses pencarian yang dilakukan oleh tim SAR gabungan.
“Saya sudah ke sana, ke sini, ke situ cari-cari info ke mana-mana, tapi belum ada. Yang nyari pun juga dari tim SAR, belum ada. Mau nyari sendiri bagaimana lagi,” ucapnya dengan nada putus asa.
Emak Waty menceritakan bahwa dua dari empat anggota keluarganya yang hilang adalah anak-anak. Tasa, cucunya yang pertama, adalah seorang siswa SMK, sementara Putri masih duduk di bangku taman kanak-kanak. Keduanya adalah cucu kesayangannya. Emak Waty mengaku memiliki kedekatan emosional dengan mereka, meskipun jarang bertemu langsung, mereka sering berkomunikasi melalui telepon genggam.
“Kontekan (komunikasi) lewat handphone. Terakhir cucu saya, Tasa minta uang Rp 300 ribu untuk beli barang. Saya memang tidak bertemu, soalnya jauh. Dia suka jualan sama ayahnya,” kenangnya.
Kini, kenangan kebersamaannya dengan keluarganya hanyalah tinggal kenangan. Sambil menatap lokasi longsor, Emak Waty hanya bisa memanjatkan doa. Ia berharap mendapatkan petunjuk tentang keberadaan keluarganya.
“Saya tidak akan lelah-lelah cari. Tolong kasih petunjuk. Apapun yang terjadi asal ketemu,” pintanya dengan suara lirih.
Tragedi Longsor di Cisarua
Peristiwa longsor yang menimpa Kampung Pasir Kuning, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat pada Sabtu (24/1/2026) dini hari, telah menyisakan duka mendalam bagi banyak keluarga.
Material tanah dan air deras dari lereng Gunung Burangrang menerjang pemukiman warga secara tiba-tiba saat sebagian besar penduduk tengah terlelap tidur. Material longsor tersebut menimbun puluhan rumah warga beserta seluruh isinya.
Desa Pasirlangu, salah satu dari delapan desa di Kecamatan Cisarua, menjadi wilayah yang terdampak paling parah.
Berikut adalah beberapa fakta mengenai Desa Pasirlangu:
Desa Pasirlangu dikenal sebagai salah satu penghasil paprika terbesar di Indonesia. Namun, kini desa tersebut tengah berduka akibat bencana longsor yang telah merenggut nyawa dan menghancurkan rumah-rumah warga.
Pemerintah Akan Bangun Rumah Susun di Tanah Abang, Jakarta Pusat Pemerintah Indonesia berencana membangun rumah…
Denada Akhirnya Bertemu Putra Kandung Setelah 24 Tahun Terpisah: Momen Penuh Haru dan Klarifikasi Setelah…
Pendekatan Orang Tua yang Berbeda dalam Menghadapi Perubahan Anak Keputusan Sienna untuk melepas hijab belakangan…
JAKARTA – Transformasi digital bukan lagi sekadar tren, melainkan kebutuhan utama di hampir semua sektor…
Alvaro Carpe, pembalap Red Bull KTM Ajo, kembali mengungkap perjuangannya dalam meraih podium secara dramatis…
Lima Fakta Mencengangkan Persib Bandung yang Mengalahkan Semen Padang Pertandingan antara Persib Bandung dan Semen…