Penertiban Judi Panco Remaja di Mataram: Respons Cepat Kepolisian Atasi keresahan Warga
Aktivitas sekelompok remaja yang terlibat dalam permainan judi panco di wilayah Pagutan, Mataram, Nusa Tenggara Barat, telah menimbulkan keresahan di kalangan masyarakat. Menanggapi keluhan warga, aparat kepolisian bergerak cepat untuk menertibkan praktik ilegal yang kerap berlangsung di malam hari, terutama selama momentum bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah.
Kepala Polsek Mataram, AKP Mulyadi, menjelaskan bahwa penertiban ini merupakan tindak lanjut langsung dari laporan masyarakat yang merasa terganggu dengan aktivitas sekelompok remaja tersebut. “Kami menerima laporan adanya sekelompok remaja yang melakukan adu panco dengan indikasi adanya taruhan. Menindaklanjuti hal tersebut, personel gabungan segera turun ke lokasi yang diduga kerap menjadi tempat berkumpul mereka untuk melakukan penertiban,” ujar Mulyadi.
Patroli malam yang dipimpin langsung oleh AKP Mulyadi menyasar sebuah lokasi terbuka yang dilaporkan menjadi titik kumpul favorit para remaja untuk melakukan judi panco. Lokasi tersebut berada di Kelurahan Karang Buaya, Kecamatan Pagutan, Kota Mataram.
Dalam operasi penertiban tersebut, pihak kepolisian berhasil mengamankan sebanyak 14 remaja. Selain itu, tujuh unit kendaraan roda dua yang diduga digunakan oleh para remaja ini juga ikut diamankan. Seluruh remaja yang diamankan kemudian dibawa ke Markas Polsek Mataram untuk menjalani proses pendataan dan pembinaan lebih lanjut.
Pembinaan dan Peringatan bagi Remaja yang Terlibat
Sebagai bagian dari upaya pembinaan, pihak kepolisian mengambil langkah dengan memanggil orang tua dari masing-masing remaja yang terlibat. Di hadapan petugas dan orang tua mereka, para remaja diberikan imbauan mengenai bahaya kenakalan remaja serta dampak negatif yang ditimbulkan oleh aktivitas perjudian.
“Kami menekankan kepada mereka betapa pentingnya menjauhi segala bentuk perjudian dan kenakalan remaja yang dapat merusak masa depan,” jelas Mulyadi.
Setiap remaja kemudian diwajibkan untuk membuat surat pernyataan yang berisi komitmen untuk tidak mengulangi perbuatan serupa di masa mendatang. Setelah proses pembuatan surat pernyataan selesai, seluruh remaja dikembalikan kepada orang tua atau perwakilan keluarga masing-masing dengan harapan adanya pengawasan yang lebih ketat di rumah.
Peran Orang Tua dan Komitmen Kepolisian dalam Menjaga Kondusivitas
Melalui kegiatan penertiban ini, AKP Mulyadi juga menyampaikan imbauan penting kepada seluruh masyarakat mengenai krusialnya peran orang tua dalam memantau dan mengawasi pergaulan anak-anak mereka. Pengawasan ekstra, terutama saat anak berada di luar rumah pada malam hari, menjadi kunci untuk mencegah keterlibatan dalam kegiatan negatif.
Lebih lanjut, Mulyadi menegaskan komitmen pihak kepolisian untuk terus menggiatkan patroli malam hari. Upaya ini akan semakin ditingkatkan, khususnya selama bulan Ramadhan, untuk memastikan situasi keamanan dan ketertiban masyarakat di wilayah hukum Polsek Mataram tetap kondusif.
“Upaya ini merupakan bagian dari respons cepat kepolisian dalam menjaga stabilitas dan kenyamanan masyarakat, terutama di bulan puasa ini. Kami ingin memastikan tidak ada aktivitas yang mengganggu ketentraman warga,” pungkasnya.
Pihak kepolisian berharap dengan adanya tindakan tegas dan program pembinaan ini, kasus serupa dapat dicegah dan generasi muda dapat tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik, terhindar dari pengaruh buruk lingkungan dan aktivitas ilegal.
Dampak Keresahan dan Pentingnya Keamanan Lingkungan
Aktivitas judi panco yang melibatkan remaja ini tidak hanya sekadar permainan biasa, namun berpotensi menimbulkan dampak yang lebih luas. Keresahan warga yang muncul menunjukkan bahwa kegiatan tersebut telah mengganggu rasa aman dan ketertiban umum. Lingkungan yang seharusnya menjadi tempat yang nyaman bagi masyarakat, terutama di bulan Ramadhan yang identik dengan ibadah dan ketenangan, justru dirusak oleh praktik ilegal tersebut.
Perjudian, sekecil apapun bentuknya, memiliki potensi untuk menjerumuskan para pelakunya ke dalam masalah yang lebih besar, seperti jeratan utang, konflik, hingga tindak kejahatan lainnya. Bagi para remaja, yang masih dalam tahap pencarian jati diri dan rentan terhadap pengaruh negatif, keterlibatan dalam aktivitas semacam ini dapat sangat merusak perkembangan moral dan masa depan mereka.
Oleh karena itu, tindakan cepat dari aparat kepolisian sangatlah penting. Penertiban bukan hanya sekadar memberikan sanksi, tetapi juga merupakan upaya preventif untuk mencegah penyebaran praktik ilegal dan menciptakan efek jera. Selain itu, keterlibatan orang tua dalam proses pembinaan menjadi elemen krusial. Dukungan dan bimbingan dari keluarga akan membantu para remaja untuk bangkit dari kesalahan dan kembali ke jalan yang benar.
Situasi ini juga menyoroti pentingnya sinergi antara kepolisian, masyarakat, dan keluarga dalam menciptakan lingkungan yang aman dan kondusif. Laporan dari masyarakat menjadi mata dan telinga bagi aparat kepolisian di lapangan, sementara peran aktif orang tua dalam mengawasi anak-anak mereka adalah benteng pertahanan pertama dari kenakalan remaja. Dengan kerja sama yang solid, diharapkan Mataram dapat terus menjadi wilayah yang aman dan nyaman bagi seluruh warganya.






