Sebuah insiden penembakan yang menggemparkan terjadi di Dennis M. Lynch Arena, Pawtucket, Rhode Island, Amerika Serikat, pada Senin, 16 Februari 2026. Peristiwa tragis ini merenggut nyawa tiga orang, termasuk pelaku, dan melukai tiga orang lainnya. Kejadian ini berawal sekitar pukul 14.00 waktu setempat, saat arena tersebut sedang menjadi saksi pertandingan hoki putra tingkat sekolah menengah atas.
Kepala Departemen Kepolisian Pawtucket, Tina Goncalves, mengonfirmasi bahwa salah satu korban tewas ditemukan di dalam arena, sementara korban kedua meninggal dunia saat dalam perjalanan menuju atau di rumah sakit. Keduanya diidentifikasi sebagai orang dewasa. Pelaku penembakan, yang diduga kuat sebagai tersangka utama, juga ditemukan tewas di lokasi kejadian. Pihak berwenang menduga pelaku meninggal akibat luka tembak yang dilakukannya sendiri.
Penyelidikan awal yang dilakukan oleh pihak kepolisian mengindikasikan bahwa penembakan ini kemungkinan besar merupakan tindakan yang ditargetkan. Ada dugaan kuat bahwa insiden tersebut dipicu oleh perselisihan dalam lingkup keluarga. Namun, Kepala Kepolisian Goncalves enggan memberikan rincian lebih lanjut mengenai motif ini, mengingat penyelidikan masih dalam tahap awal dan sangat sensitif.
“Kami memiliki sejumlah saksi yang saat ini berada di kantor polisi. Kami akan menyusun kronologi kejadian terlebih dahulu sebelum merilis informasi, untuk memastikan bahwa informasi yang disampaikan akurat dan benar,” ujar Goncalves. Ia juga menambahkan bahwa ketiga korban yang mengalami luka tembak dan dibawa ke rumah sakit dilaporkan dalam kondisi kritis. Tim medis masih berjuang menyelamatkan nyawa mereka.
Insiden horor ini terjadi di tengah pertandingan antara tim hoki dari Coventry-Johnston co-op dan St. Raphael–Providence Country Day–North Smithfield co-op. Beruntung, pihak sekolah dari kedua tim tersebut telah menyatakan bahwa seluruh siswa dan staf yang berada di lokasi kejadian dalam keadaan aman dan tidak mengalami cedera fisik.
Yang membuat insiden ini semakin mengerikan adalah fakta bahwa peristiwa penembakan tersebut terekam dalam siaran langsung acara olahraga tersebut. Video yang diperoleh dari layanan penyiaran memperdengarkan suara sekitar 13 tembakan yang dilepaskan secara beruntun. Rekaman tersebut juga menunjukkan kepanikan yang melanda para pemain dan penonton, yang seketika berlarian mencari perlindungan.
Eric Rueb, seorang jurnalis olahraga sekolah menengah atas di Rhode Island, membagikan potongan video tersebut di media sosial dengan keterangan yang menggambarkan kengerian suasana. “Anda tidak bisa melihat apa pun – tetapi suaranya tidak salah lagi – dan reaksi serta kekacauan yang terjadi setelahnya menceritakan segalanya,” tulisnya.
Tragedi di Pawtucket ini kembali menyoroti isu kekerasan senjata api yang terus menghantui Amerika Serikat. Selang beberapa waktu sebelum insiden ini, pada 13 Desember 2025, dua mahasiswa juga tewas dalam aksi penembakan massal di Brown University, yang juga berlokasi di Providence, Rhode Island. Pelaku penembakan di Brown University, yang berusia 48 tahun, berhasil melarikan diri dari lokasi kejadian. Ia kemudian dilaporkan membunuh seorang profesor dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) sebelum akhirnya mengakhiri hidupnya sendiri.
Wali Kota Pawtucket, Donald Grebien, menyatakan keprihatinannya yang mendalam atas kejadian ini. Ia menyebut penembakan di Dennis M. Lynch Arena sebagai “tragedi yang mengerikan.” Grebien menegaskan bahwa pemerintah kota akan bekerja sama sepenuhnya dengan aparat penegak hukum dan kantor jaksa agung dalam penyelidikan yang sedang berlangsung untuk mengungkap semua fakta di balik insiden ini.
“Pawtucket adalah komunitas yang kuat dan tangguh, tetapi malam ini kami adalah kota yang berduka. Kami akan berdiri bersama untuk mendukung semua pihak yang terdampak di hari-hari sulit ke depan, dan kami akan terus memberikan pembaruan kepada publik seiring tersedianya fakta-fakta yang telah terkonfirmasi,” tegas Grebien.
Insiden ini menambah daftar panjang kekerasan senjata api di Amerika Serikat, memicu kembali perdebatan sengit mengenai pengendalian senjata dan dampaknya terhadap keselamatan publik. Berbagai peristiwa serupa, seperti penembakan di kampus Amerika Serikat yang menewaskan dua orang, serta penembakan di sekolah Kanada yang merenggut sepuluh nyawa, dan insiden di Minneapolis yang memicu gelombang protes di AS, terus menjadi pengingat akan urgensi penanganan masalah ini.
Perak Meroket di Tengah Optimisme Perdamaian Timur Tengah Harga perak menunjukkan lonjakan signifikan, mencapai sekitar…
Desain Eksterior yang Elegan Suzuki Baleno Hatchback 2018 menawarkan tampilan yang menarik dengan desain eksterior…
Penurunan Peringkat Janice Tjen dan Alex Eala di WTA Janice Tjen dan Alex Eala, dua…
Lirik Lagu "Saat Kubenci Dunia dan Seisinya" dari Album "Perayaan Patah Hati - Babak 2"…
JAKARTA — Seorang pendiri sekaligus ketua perusahaan chip daya, Epiworld International, berhasil menjadi miliarder setelah…
Penyesuaian Harga BBM Non Subsidi yang Mengubah Dinamika Pasar PT Pertamina (Persero) akhirnya mengumumkan penyesuaian…