Raphinha Kritik Wasit Barcelona: Standar Ganda?

Barcelona Terpuruk: Raphinha Kritik Perlakuan Wasit Pasca Kekalahan Beruntun

Kekalahan beruntun dalam dua pertandingan krusial telah mengguncang Barcelona. Setelah tersungkur di semifinal Copa del Rey, tim asuhan Hansi Flick kembali menelan pil pahit di LaLiga, kali ini dari tim sekota, Girona, dengan skor 2-1. Kekalahan ini tidak hanya mengikis kepercayaan diri tim, tetapi juga memicu kontroversi terkait keputusan wasit yang dinilai merugikan Barcelona. Raphinha, salah satu pemain kunci, secara terbuka menyuarakan kekecewaannya, merasa bahwa timnya diperlakukan dengan aturan yang berbeda dari tim lain.

Peristiwa yang memicu kemarahan Raphinha terjadi dalam dua pertandingan terakhir. Pertama, saat Barcelona dihancurkan 4-0 oleh Atlético Madrid dalam leg pertama semifinal Copa del Rey. Dalam pertandingan tersebut, gol Pau Cubarsi dianulir setelah pemeriksaan VAR yang memakan waktu tujuh menit, dengan alasan offside. Keputusan ini menimbulkan pertanyaan, terutama karena dianggap tidak konsisten dengan penafsiran VAR pada pertandingan lain.

Bacaan Lainnya

Selang beberapa hari, di Stadion Montilivi, Barcelona kembali merasakan ketidakadilan yang sama. Gol kemenangan Girona yang dicetak oleh Fran Beltran pada menit ke-86 dianggap kontroversial. Barcelona merasa bahwa sebelum gol tersebut tercipta, terjadi pelanggaran yang jelas terhadap Jules Kounde oleh Claudio Echeverri. Namun, wasit tidak meniup peluit tanda pelanggaran dan insiden tersebut juga tidak dianggap layak untuk ditinjau ulang oleh VAR.

Pernyataan Tegas Raphinha: “Aturan Berbeda”

Menyikapi rentetan kejadian ini, Raphinha tidak bisa menahan diri untuk tidak mengungkapkan isi hatinya melalui media sosial. Ia menuliskan, “Kami masih perlu banyak memperbaiki diri, tetapi bukan hanya kami (namun seharusnya wasit juga).” Pernyataan ini menggarisbawahi keyakinannya bahwa keputusan wasit turut berperan dalam hasil akhir pertandingan.

Lebih lanjut, Raphinha menyatakan, “Sangat rumit ketika aturan berbeda, baik untuk Anda maupun melawan Anda, tetapi jika kita harus bermain melawan semua orang untuk menang, tidak apa-apa. Kita akan terus melakukannya.” Kalimat ini menyiratkan frustrasi mendalam atas persepsi adanya standar ganda dalam perwasitan yang dialami Barcelona. Ia merasa bahwa timnya harus berjuang tidak hanya melawan lawan di lapangan, tetapi juga melawan situasi yang terasa tidak adil.

Upaya Formal Barcelona: Pengaduan ke RFEF dan CTA

Kekecewaan Barcelona tidak berhenti pada pernyataan pemain. Klub telah mengambil langkah formal dengan mengajukan pengaduan resmi kepada Federasi Sepak Bola Spanyol (RFEF) dan Komite Perwasitan (CTA) pada akhir pekan lalu. Pengaduan ini berisi tuduhan inkonsistensi perwasitan yang mereka anggap merajalela dalam sepak bola Spanyol.

Dalam surat lima poin yang dikirimkan, Barcelona merinci beberapa poin krusial:

  • Inkonsistensi Keputusan Disiplin: Barcelona menyoroti bagaimana kartu kuning dan kartu merah seringkali diberikan dengan kriteria yang berbeda dalam situasi yang serupa.
  • Kriteria Kontradiktif dalam Keputusan Handball: Klub merasa bahwa penentuan handball seringkali tidak konsisten, terkadang menguntungkan satu tim dan merugikan tim lain tanpa alasan yang jelas.
  • Akumulasi Kesalahan Perwasitan: Barcelona mengklaim bahwa kesalahan-kesalahan perwasitan yang terjadi secara beruntun telah berdampak signifikan pada hasil pertandingan.
  • Kurangnya Transparansi Penggunaan VAR: Ada keluhan mengenai bagaimana teknologi VAR digunakan, termasuk durasi pemeriksaan yang terkadang sangat lama dan kurangnya penjelasan yang memadai atas keputusan akhir.
  • Kriteria Tidak Konsisten di Lapangan: Secara umum, Barcelona merasa bahwa interpretasi aturan di lapangan oleh wasit seringkali tidak seragam dari satu pertandingan ke pertandingan lain.

Sikap Hansi Flick: Keseimbangan Antara Kritik dan Evaluasi Internal

Meskipun kekecewaan melanda, pelatih Barcelona Hansi Flick berusaha untuk tetap tenang dan menghindari kritik berlebihan terhadap wasit secara langsung. Flick menyadari bahwa performa timnya saat ini belum optimal dan ada banyak hal yang perlu diperbaiki dari sisi internal. Namun, ia tidak bisa mengabaikan fakta adanya pelanggaran yang “jelas” sebelum gol kemenangan Girona tercipta.

Flick mengakui bahwa insiden yang melibatkan Echeverri dan Kounde seharusnya berbuah tendangan bebas bagi Barcelona. Kegagalan wasit untuk melihat atau meninjau insiden ini melalui VAR menjadi poin krusial yang ia soroti. Baginya, hal ini menunjukkan adanya celah dalam penerapan aturan permainan.

Dampak Kekalahan dan Strategi Pemulihan

Kekalahan dari Girona membuat Barcelona tergelincir ke posisi kedua klasemen LaLiga, tertinggal dua poin dari pemuncak klasemen, Real Madrid. Situasi ini tentu menjadi pukulan berat bagi ambisi Barcelona untuk meraih gelar juara.

Menyadari kondisi fisik dan mental para pemain yang terkuras, Flick memutuskan untuk memberikan waktu istirahat selama dua hari kepada timnya. Tujuannya adalah agar para pemain dapat memulihkan tenaga dan pikiran sebelum kembali fokus pada pertandingan liga berikutnya melawan Levante pada Minggu, 22 Februari mendatang. Harapannya, periode istirahat ini akan menjadi momentum bagi Barcelona untuk bangkit dan memperbaiki performa mereka di sisa musim ini.

Pos terkait