Dalam hiruk pikuk kehidupan modern, sering kali kita terjebak dalam rutinitas yang membuat spiritualitas kita terasa datar. Persekutuan, ibadah, bahkan doa, bisa saja berubah menjadi sekadar kewajiban yang dijalankan tanpa kedalaman makna. Namun, bagaimana jika kita menyadari bahwa di balik kesibukan itu, ada sesuatu yang lebih berharga yang mulai terkikis: rasa hormat dan kekaguman yang kudus terhadap Tuhan?
Renungan harian pada Rabu, 18 Februari 2026, yang merujuk pada Kisah Para Rasul 2:43, mengajak kita untuk merenungkan tema “Hormat dan Kekaguman.” Pesan utamanya adalah perbedaan fundamental antara sekadar “tahu tentang Tuhan” dan “mengenal Tuhan” secara pribadi. Ketika kehadiran Tuhan dianggap sebagai hal yang biasa, persekutuan kita akan kehilangan daya spiritualnya, menjadi komunitas yang sibuk secara organisasi namun kering secara rohani.
Alkitab mencatat sebuah gambaran yang kuat: “Maka ketakutanlah mereka semua.” Kata “takut” di sini bukanlah ketakutan yang disebabkan oleh ancaman atau bahaya. Sebaliknya, dalam bahasa aslinya, kata ini mengandung makna rasa gentar dan hormat yang mendalam, yang timbul dari kesadaran akan kehadiran Allah yang kudus. Ini adalah pengakuan dogmatis bahwa Allah adalah Misterium Tremendum – Tuhan yang Mahabesar dan Suci, yang pantas untuk dihormati dengan segenap keberadaan kita.
Ketika jemaat pada masa itu menunjukkan sikap hormat yang tulus kepada Allah, kuasa-Nya dinyatakan secara nyata melalui berbagai tanda dan mujizat yang dilakukan oleh para rasul. Penting untuk dipahami bahwa mujizat bukanlah tujuan utama, melainkan sebuah dampak alami dari rasa hormat dan kedaulatan Allah yang diakui oleh umat-Nya.
Pertanyaan yang perlu kita ajukan pada diri sendiri saat ini adalah: bagaimana kita memposisikan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari? Pemuda Kristen sering kali terjebak dalam sikap yang terlalu santai atau bahkan meremehkan hal-hal yang seharusnya dianggap kudus.
Mari kita lakukan introspeksi mendalam:
Jika kerinduan kita adalah melihat perubahan besar dan “mujizat” karakter terjadi dalam diri kita dan dalam persekutuan yang kita jalani, maka langkah pertama yang harus kita lakukan adalah mengembalikan rasa hormat yang kudus itu. Persekutuan yang dibangun di atas dasar penghormatan kepada Allah akan menjadi tanah yang subur bagi pekerjaan Roh Kudus.
Roh Kudus akan bekerja dengan bebas untuk mentransformasi kehidupan setiap individu yang hadir di dalamnya. Ketika kekaguman kepada Tuhan menjadi fondasi, maka segala aktivitas rohani akan memiliki makna yang lebih dalam, dan kehadiran-Nya akan dirasakan secara nyata.
Kekaguman yang tulus kepada Tuhan bukan hanya sekadar emosi sesaat, melainkan sebuah sikap hidup yang membentuk cara pandang dan tindakan kita. Ketika kita benar-benar mengagumi kebesaran, kekudusan, dan kasih-Nya, maka:
Oleh karena itu, mari kita renungkan kembali hubungan kita dengan Tuhan. Apakah kita hanya sekadar “tahu” tentang Dia, ataukah kita sungguh-sungguh “mengenal” Dia dalam kekudusan dan keagungan-Nya? Dengan mengembalikan rasa hormat dan kekaguman yang kudus, kita membuka pintu bagi kuasa Roh Kudus untuk bekerja secara dahsyat dalam hidup kita dan dalam persekutuan kita.
Pemerintah Akan Bangun Rumah Susun di Tanah Abang, Jakarta Pusat Pemerintah Indonesia berencana membangun rumah…
Denada Akhirnya Bertemu Putra Kandung Setelah 24 Tahun Terpisah: Momen Penuh Haru dan Klarifikasi Setelah…
Pendekatan Orang Tua yang Berbeda dalam Menghadapi Perubahan Anak Keputusan Sienna untuk melepas hijab belakangan…
JAKARTA – Transformasi digital bukan lagi sekadar tren, melainkan kebutuhan utama di hampir semua sektor…
Alvaro Carpe, pembalap Red Bull KTM Ajo, kembali mengungkap perjuangannya dalam meraih podium secara dramatis…
Lima Fakta Mencengangkan Persib Bandung yang Mengalahkan Semen Padang Pertandingan antara Persib Bandung dan Semen…