Serangan Israel Kembali Membara di Gaza, Belasan Warga Palestina Tewas
Jakarta – Wilayah Gaza kembali dilanda gelombang serangan militer Israel yang mematikan, menewaskan sedikitnya 11 warga Palestina dalam serangkaian serangan yang terjadi baru-baru ini. Sumber-sumber dari rumah sakit di Gaza mengonfirmasi bahwa serangan paling awal dilaporkan terjadi di kamp pengungsi Jabalia, yang terletak di Gaza Utara, pada Minggu, 15 Februari 2025. Serangan di kamp pengungsi ini dilaporkan merenggut nyawa lima warga Palestina.
Tidak berhenti di situ, pasukan militer Israel juga melancarkan serangan di wilayah selatan Khan Younis, yang juga mengakibatkan kematian lima warga Palestina. Selain itu, serangan juga menyasar wilayah Tal-al-Hawa, yang berada di sebelah timur Kota Gaza. Dalam serangan yang terjadi di Tal-al-Hawa ini, dilaporkan tewasnya seorang komandan penting dari Jihad Islam Palestina (PIJ), yaitu Sami al-Dahdouh.
Hamas Mengutuk Keras Serangan Israel
Menanggapi eskalasi kekerasan ini, Juru Bicara Hamas, Hazem Qassem, mengeluarkan pernyataan keras yang mengutuk serangan terbaru Israel. Ia menyebut tindakan tersebut sebagai “pembantaian baru” dan “eskalasi kriminal”. Menurutnya, serangan ini merupakan pelanggaran berulang kali yang dilakukan oleh Israel terhadap perjanjian gencatan senjata yang telah disepakati.
“Upaya untuk menciptakan ketenangan di Gaza tidak ada artinya, dan pendudukan terus melanjutkan agresinya meskipun semua pihak berbicara tentang perlunya mematuhi perjanjian gencatan senjata,” tegas Hazem Qassem, menyoroti kesia-siaan upaya perdamaian jika agresi terus berlanjut.
Korban Terus Berjatuhan Sejak Gencatan Senjata
Catatan dari pihak berwenang di Gaza menunjukkan gambaran suram mengenai korban jiwa sejak gencatan senjata diberlakukan pada Oktober tahun lalu. Hingga saat ini, setidaknya 601 warga Palestina dilaporkan telah tewas akibat serangan Israel, sementara 1.607 lainnya mengalami luka-luka. Angka ini terus bertambah seiring dengan berlanjutnya serangan.
Serangan Bertepatan dengan Pengumuman Dewan Perdamaian Trump
Menariknya, serangan militer terbaru ke Gaza ini terjadi bersamaan dengan pengumuman dari mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Trump mengumumkan bahwa pertemuan perdana dari Dewan Perdamaian yang baru saja dibentuknya akan diselenggarakan pada hari Kamis di Washington, DC.
Dalam sebuah unggahan di platform media sosial miliknya, Truth Social, Trump mengungkapkan optimismenya terhadap pembentukan dewan tersebut. Ia menyatakan bahwa para anggota dewan telah berkomitmen untuk menyumbangkan lebih dari 5 miliar dolar Amerika Serikat (US$5 miliar) yang akan dialokasikan untuk upaya rekonstruksi di Gaza. Wilayah Gaza sendiri diketahui mengalami kehancuran parah akibat konflik yang berkepanjangan.
Lebih lanjut, Trump juga menyebutkan rencana untuk mengerahkan ribuan personel dari Pasukan Stabilisasi Internasional dan Kepolisian Lokal. Tujuannya adalah untuk memastikan keamanan dan perdamaian bagi seluruh warga Gaza. Rencana ini, yang diumumkan di tengah eskalasi kekerasan, menimbulkan pertanyaan mengenai efektivitas dan dampaknya terhadap situasi di lapangan.
Tantangan Rekonstruksi dan Perdamaian di Gaza
Situasi di Gaza terus menghadirkan tantangan yang kompleks, baik dari sisi kemanusiaan maupun keamanan. Serangan yang terus-menerus menghambat upaya pemulihan dan pembangunan kembali infrastruktur yang hancur. Di sisi lain, inisiatif perdamaian yang diumumkan oleh tokoh internasional seperti Trump diharapkan dapat membawa perubahan positif, namun keberhasilannya akan sangat bergantung pada kemampuan untuk mencapai gencatan senjata yang berkelanjutan dan penegakan hukum internasional.
Dukungan finansial yang dijanjikan, seperti yang diungkapkan oleh Trump, merupakan langkah awal yang penting. Namun, tanpa adanya jaminan keamanan dan stabilitas politik, proses rekonstruksi akan menghadapi hambatan yang signifikan. Pertemuan Dewan Perdamaian yang akan datang menjadi momen krusial untuk mendiskusikan strategi konkret dalam mengatasi akar permasalahan konflik dan menciptakan jalur yang lebih jelas menuju perdamaian yang langgeng bagi rakyat Gaza.
Perlunya penegakan perjanjian gencatan senjata yang ketat dan akuntabilitas atas pelanggaran menjadi kunci utama untuk menghentikan siklus kekerasan. Komunitas internasional diharapkan dapat memainkan peran yang lebih proaktif dalam menekan semua pihak untuk menghentikan agresi dan memprioritaskan keselamatan warga sipil serta upaya membangun kembali kehidupan yang layak di Gaza.







