JAKARTA – Dana Pensiun BCA (Dapen BCA) menilai kembali mengalami peningkatan minat terhadap Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), terutama karena meningkatnya imbal hasil dari instrumen tersebut. Namun, penempatan dana dilakukan secara selektif dan bersifat taktikal, bukan sebagai alokasi utama.
Direktur Utama Dapen BCA, Budi Sutrisno, menjelaskan bahwa SRBI kembali menjadi pilihan yang relevan sebagai instrumen investasi jangka pendek. Hal ini terutama untuk menjaga fleksibilitas portofolio dalam situasi pasar yang masih berfluktuasi.
“Potensi masuk kembali ke SRBI mulai terbuka, tetapi cenderung bersifat taktikal dan selektif, bukan sebagai alokasi utama,” ujar Budi kepada media pada Kamis (16/4/2026).
Menurutnya, kenaikan imbal hasil serta peningkatan frekuensi lelang SRBI oleh Bank Indonesia menjadi faktor utama yang mendorong daya tarik instrumen tersebut. Meski demikian, untuk penempatan jangka panjang, dana pensiun tetap memprioritaskan instrumen lain yang lebih sesuai dengan target kewajiban.
Budi menjelaskan bahwa SRBI saat ini memiliki daya tarik dari sisi imbal hasil yang mulai kompetitif, risiko yang relatif rendah, serta fleksibilitas dalam pengelolaan likuiditas. Dalam kondisi pasar saham dan SBN yang masih mengalami tekanan, SRBI menjadi alternatif defensif untuk menjaga stabilitas nilai portofolio.
Selain itu, karakteristik SRBI yang berdurasi pendek dinilai sesuai untuk kebutuhan likuiditas, baik untuk pembayaran manfaat pensiun maupun sebagai penempatan sementara sebelum dialokasikan ke instrumen lain.
Budi menegaskan bahwa dalam kondisi ketidakpastian pasar yang masih tinggi, SRBI lebih berperan sebagai instrumen pendukung atau liquidity buffer, bukan sebagai sumber imbal hasil utama dalam portofolio dana pensiun. Adapun, per Maret 2026, investasi Dapen BCA di SRBI tercatat sebesar Rp 703 miliar atau setara 11,63% dari total portofolio.
Sebagai informasi, Bank Indonesia semakin sering melakukan lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sejak Februari 2026. Tingkat imbal hasil pun merangkak naik, hingga membuat industri dana pensiun (dapen) kembali melirik instrumen tersebut.
Daya tarik SRBI sebelumnya sempat memudar pada tahun lalu, akibat yield yang melandai. Ini tercermin dari data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang mencatat penempatan investasi dapen di SRBI anjlok dari Rp 16,87 triliun di 2024, menjadi hanya Rp 3,28 triliun di akhir 2025. Memasuki 2026, investasi di keranjang tersebut mulai berbalik arah. Hingga Februari, dapen tercatat memarkir dana Rp 4,01 triliun di SRBI.
Faktor yang Mendorong Kembali Minat terhadap SRBI
Peningkatan imbal hasil:
SRBI kembali menarik minat investor karena kenaikan tingkat imbal hasil yang terjadi seiring aktivitas lelang yang lebih intensif oleh Bank Indonesia.Risiko relatif rendah:
Instrumen ini menawarkan tingkat risiko yang lebih rendah dibandingkan instrumen investasi lainnya, seperti saham atau obligasi jangka panjang.Fleksibilitas likuiditas:
SRBI memiliki durasi pendek, sehingga cocok digunakan sebagai alat pengelolaan likuiditas dalam portofolio dana pensiun.Alternatif defensif:
Di tengah fluktuasi pasar, SRBI menjadi pilihan yang aman untuk menjaga stabilitas nilai portofolio.
Perkembangan Investasi Dapen BCA di SRBI
Per Maret 2026:
Investasi Dapen BCA di SRBI tercatat sebesar Rp 703 miliar, atau 11,63% dari total portofolio.Tren sepanjang 2026:
Setelah turun drastis pada 2025, investasi di SRBI kembali meningkat. Hingga Februari 2026, jumlah dana yang diparkir di SRBI mencapai Rp 4,01 triliun.Perbandingan dengan tahun sebelumnya:
Penempatan dana di SRBI turun dari Rp 16,87 triliun di 2024 menjadi hanya Rp 3,28 triliun di akhir 2025.
Tantangan dan Pertimbangan
Ketidakpastian pasar:
Meskipun SRBI menawarkan stabilitas, kondisi pasar yang tidak pasti tetap menjadi pertimbangan utama dalam pengambilan keputusan investasi.Prioritas instrumen jangka panjang:
Dapen BCA tetap memprioritaskan instrumen yang lebih sesuai dengan target kewajiban jangka panjang, meskipun SRBI tetap menjadi pilihan pendukung.Kebijakan Bank Indonesia:
Aktivitas lelang SRBI yang lebih intensif memberikan dampak positif terhadap daya tarik instrumen ini bagi dana pensiun.







