Kondisi MH (12), siswa kelas 6 SDN 2 Padaherang yang menjadi korban penganiayaan oleh seorang pria paruh baya, kini mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan secara fisik. Meski demikian, pihak keluarga masih merasa khawatir akan dampak trauma psikologis jangka panjang yang mungkin membekas di ingatan korban.
Orang tua korban, Hasan Rosyidin (43), mengungkapkan bahwa meskipun luka fisik pada tubuh anaknya sudah mulai mengering, proses pemulihan mental membutuhkan waktu yang lebih lama. Ia menyampaikan kekhawatiran bahwa peristiwa kekerasan yang dialami MH bisa memengaruhi perkembangan kepribadiannya hingga dewasa.
“Alhamdulillah, secara fisik sudah terlihat sehat dan lukanya mulai mengering. Namun, yang kami khawatirkan adalah traumanya. Luka luar mungkin bisa sembuh dalam beberapa hari, tapi luka psikologis bisa membekas hingga ia dewasa,” ujar Hasan saat ditemui di kediamannya.
Hasan mencatat adanya perubahan perilaku yang cukup signifikan pada keseharian anaknya. Jika sebelumnya MH dikenal sebagai anak yang aktif dengan rutinitas padat mulai dari sekolah formal hingga sekolah agama, kini korban cenderung lebih tertutup dan menarik diri dari lingkungan sosial.
“Sekarang lebih banyak diam di rumah dan menyendiri. Biasanya aktivitasnya padat, sore sekolah agama dan malam belajar. Tapi saat ini lebih banyak diam dan memilih bermain game,” ungkapnya.
Ketakutan terbesar keluarga adalah munculnya reaksi panik atau cemas berlebihan (trigger) ketika korban berhadapan dengan situasi yang mengingatkannya pada kejadian tragis tersebut, seperti melihat senjata tajam atau kehadiran orang asing di lingkungan sekitarnya.
Terkait upaya pemulihan mental, Hasan menyebutkan bahwa sejumlah instansi telah menunjukkan perhatian serius. Dinas Pendidikan serta Dinas Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KBP3A) Kabupaten Pangandaran telah berkoordinasi untuk memberikan pendampingan psikologis profesional.
“Rencananya akan ada psikolog yang datang untuk mendampingi, kemungkinan Senin atau Selasa. Kami masih menunggu jadwal pastinya,” jelas Hasan.
Pihak keluarga juga mendesak adanya evaluasi menyeluruh terhadap sistem keamanan di lingkungan pendidikan. Hasan berharap pihak sekolah dan pemerintah daerah meningkatkan standar pengamanan, seperti perbaikan pagar sekolah, guna memastikan tidak sembarang orang bisa masuk ke area belajar-mengajar.
“Kami berharap ini menjadi kejadian yang pertama dan terakhir. Keamanan sekolah adalah tanggung jawab bersama,” tegasnya.
Diberitakan sebelumnya, pelaku berinisial AS (65) telah diamankan oleh Polsek Padaherang bersama Satreskrim Polres Pangandaran melalui Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) untuk menjalani proses hukum lebih lanjut. Kasus ini kini menjadi sorotan publik di Pangandaran, terutama terkait jaminan keselamatan anak di lingkungan sekolah.
Pemerintah Akan Bangun Rumah Susun di Tanah Abang, Jakarta Pusat Pemerintah Indonesia berencana membangun rumah…
Denada Akhirnya Bertemu Putra Kandung Setelah 24 Tahun Terpisah: Momen Penuh Haru dan Klarifikasi Setelah…
Pendekatan Orang Tua yang Berbeda dalam Menghadapi Perubahan Anak Keputusan Sienna untuk melepas hijab belakangan…
JAKARTA – Transformasi digital bukan lagi sekadar tren, melainkan kebutuhan utama di hampir semua sektor…
Alvaro Carpe, pembalap Red Bull KTM Ajo, kembali mengungkap perjuangannya dalam meraih podium secara dramatis…
Lima Fakta Mencengangkan Persib Bandung yang Mengalahkan Semen Padang Pertandingan antara Persib Bandung dan Semen…