JAKARTA – Pengembangan kawasan Toba Caldera Resort terus berjalan meski masih ada harapan dan aspirasi dari masyarakat sekitar mengenai dampak ekonomi yang lebih nyata. Sejumlah kepala desa di Kecamatan Ajibata menyampaikan bahwa hingga saat ini, pengembangan kawasan tersebut belum memberikan manfaat signifikan bagi masyarakat setempat.
Namun, di tengah dinamika tersebut, beberapa capaian mulai terlihat. Direksi Badan Pelaksana Otorita Danau Toba (BPODT) menegaskan bahwa pembangunan destinasi besar seperti Danau Toba membutuhkan persiapan yang komprehensif.
“Pembangunan destinasi tidak bisa hanya diukur dari percepatan investasi jangka pendek. Infrastruktur, regulasi kerja sama, kesiapan masyarakat, serta positioning destinasi menjadi kunci,” ujar Direktur Pemasaran Wahyu Dito.
Dari sisi investasi, beberapa komitmen telah diwujudkan, meskipun sebagian masih dalam tahap perencanaan. Beberapa investor yang terlibat antara lain Labersa Group, Agung Concern Group, Tobanta Nauli Indah, Dunia Outbond, serta NIMO Group. Selain itu, investasi di sektor pendukung seperti amenitas, penginapan, dan ekosistem pariwisata lokal juga mulai berkembang secara bertahap.
Salah satu kendala utama adalah terbatasnya jangka waktu kerja sama investasi yang saat ini hanya mencapai 30 tahun. Hal ini dinilai sebagai tantangan dalam menarik minat investor. BPODT telah mengusulkan revisi regulasi yang dinilai menghambat proses investasi tersebut.
Kajian akademis penyempurnaan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) 202 tahun 2022 telah diserahkan oleh Direktur Utama BPODT kepada Menteri Keuangan pada 3 Desember 2025 dan mendapat respons positif. “Saat ini proses revisi sedang berjalan, dengan harapan jangka waktu kerja sama investasi dapat diperpanjang hingga 80 tahun,” ujar Plt. Direktur KUKP Arditama.
Di sisi lain, kunjungan wisatawan ke kawasan Danau Toba, termasuk Toba Caldera Resort, menunjukkan tren peningkatan, meskipun dampak ekonominya belum merata. Eksposur kawasan juga meningkat melalui berbagai agenda internasional seperti ajang lari lintas-alam Trail of the Kings by UTMB dan kejuaraan F1 Powerboat Lake Toba. Kegiatan ini dinilai efektif dalam menarik perhatian wisatawan dan media global.
BPODT juga mendorong peningkatan aksesibilitas, antara lain melalui penambahan rute penerbangan ke Bandara Sisingamangaraja XII dan digitalisasi penyeberangan di Danau Toba. Upaya promosi turut diperkuat dengan pendekatan kreatif, termasuk kerja sama produksi film bertema budaya dan pariwisata Danau Toba.
Tiga film yang telah diproduksi yakni Harta Tahta Boru ni Raja, Antara Mama Cinta dan Sorga, dan Wasiat Warisan. Film terakhir bahkan sempat menempati posisi teratas dalam Top 10 Movies in Indonesia di Netflix, platform video OTT terbesar di dunia, pada hari pertama penayangannya.
Dalam penguatan sumber daya manusia, BPODT bekerja sama dengan para pakar pendidikan dari Sumatera Utara dalam menyusun materi muatan lokal kepariwisataan berbasis Geopark. Produk dari program ini telah diserahkan kepada Pemerintah Provinsi Sumatera Utara pada Juli 2025. Program tersebut diharapkan mampu meningkatkan literasi pariwisata dan budaya bagi masyarakat, khususnya generasi muda di kawasan Danau Toba. Dukungan juga datang dari lembaga komunitas Batak Center dan berbagai pihak untuk mendorong implementasinya di sekolah-sekolah, mulai dari tingkat TK hingga SMA.
Di tempat terpisah, Jimmy Panjaitan turut menyatakan dukungannya terhadap masyarakat sekitar Toba Caldera Resort dengan memprioritaskan perekrutan tenaga kerja lokal. “Kita tahu, di BPODT masih didominasi oleh tenaga kerja lokal, di luar PNS dan PPPK yang melalui seleksi pusat, setidaknya sekitar 90 persen kami merekrut penduduk sekitar Kaldera, dan akan bertambah seiring berkembangnya Toba Caldera Resort ini,” ujar Jimmy.
BPODT menyambut baik aspirasi dan masukan dari masyarakat sebagai bagian dari mekanisme kontrol yang konstruktif dalam proses pembangunan dan menjadikannya motivasi untuk berupaya lebih lagi. Dengan dinamikanya, pengembangan kawasan Danau Toba saat ini dinilai berada dalam fase transisi, fondasi mulai terbentuk, pertumbuhan mulai terlihat di berbagai aspek, seiring dengan meningkatnya ekspektasi publik terhadap percepatan hasil pembangunan.







