Categories: Berita

Mengukur Kesembuhan Trauma di Tengah Luka yang Belum Sembuh

Kebijakan Pemerintah Daerah dalam Rangka HUT Kota Takengon: Antara Trauma Healing dan Realitas Lapangan

Rencana pemerintah daerah untuk menggelar pacuan kuda dalam rangka memperingati HUT Kota Takengon ke-449 tidak hanya sekadar seremonial, tetapi juga dianggap sebagai ruang untuk pemulihan trauma sekaligus penggerak ekonomi. Narasi ini terdengar ideal: menyembuhkan luka sekaligus menghidupkan kembali kehidupan masyarakat.

Namun, di sinilah letak permasalahan utamanya: apakah trauma healing bisa direduksi menjadi sebuah acara hiburan massal? Dan apakah momentum ini benar-benar tepat?

Antara Narasi dan Realitas Lapangan

Pemerintah menyebut bahwa acara ini bukanlah euforia. Namun, realitas sosial sering kali berbicara sebaliknya. Event besar dengan anggaran ratusan juta rupiah yang melibatkan keramaian, kompetisi, dan hiruk-pikuk publik secara sosiologis sulit dilepaskan dari nuansa perayaan.

Di sudut-sudut lain Aceh Tengah, masih terdengar suara yang jauh dari kata pulih:

  • Rumah yang belum sepenuhnya diperbaiki
  • Fasilitas umum yang belum kembali normal
  • Warga yang masih bertahan dalam ketidakpastian

Bahkan, suara seperti “jangan tunggu kami mati” dalam pemberitaan lain menjadi alarm keras bahwa pemulihan belum selesai, bahkan bagi sebagian orang belum benar-benar dimulai.

Di titik ini, publik berhak bertanya: apakah kebijakan ini lahir dari sensitivitas terhadap luka, atau lebih karena dorongan mengejar momentum?

Trauma Healing: Antara Konsep dan Simplifikasi

Menghadirkan pacuan kuda sebagai medium trauma healing patut dikritisi secara jernih. Sebab, trauma healing bukanlah tontonan, ia adalah proses pemulihan yang mendalam dan berkelanjutan. Trauma tidak sembuh hanya dengan distraksi sesaat. Ia membutuhkan:

  • Rasa aman yang nyata
  • Keberadaan sosial yang empatik
  • Pendampingan psikososial
  • Pemulihan kondisi hidup secara konkret

Jika trauma healing dimaknai sekadar “menghibur agar lupa”, maka itu bukan penyembuhan melainkan penundaan rasa sakit.

Dalam perspektif Islam, empati bukan sekadar sikap, tetapi ukuran iman. Rasulullah SAW bersabda:
“Tidak beriman seseorang hingga ia mencinta saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Maka, menghadirkan kegembiraan di tengah duka yang belum selesai harus diuji dengan satu pertanyaan sederhana: Apakah kita sudah merasakan apa yang mereka rasakan?

Ekonomi Bangkit, Tapi untuk Siapa?

Argumen kedua yang diajukan adalah kebangkitan UMKM. Ini tentu penting dan layak didukung. Namun perlu kejujuran: apakah seluruh lapisan masyarakat terdampak akan merasakan manfaat ekonomi tersebut?

Pengalaman menunjukkan, event seperti ini seringkali lebih menguntungkan pelaku usaha yang sudah siap. Sementara korban terdampak berat justru belum punya daya untuk ikut serta.

Jika demikian, maka yang terjadi bukan pemerataan pemulihan, melainkan ketimpangan dalam momentum kebangkitan. Pemulihan ekonomi yang berkeadilan seharusnya dimulai dari:

  • Mereka yang paling terdampak
  • Yang kehilangan mata pencaharian
  • Yang masih berjuang dari titik nol

Prioritas: Luka Disembuhkan, Bukan Ditutupi

Dengan anggaran sekitar Rp480 juta, publik wajar berharap setiap rupiah diarahkan pada kebutuhan paling mendesak. Ditengah kondisi saat ini, pilihan kebijakan menjadi sangat moral sifatnya: Apakah kita ingin terlihat pulih, atau benar-benar pulih?

Menunda bukan berarti menolak. Mengkritisi bukan berarti menghambat. Justru di sinilah letak tanggung jawab bersama agar kebijakan tidak sekadar tepat secara administratif, tetapi juga tepat secara nurani.

Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 6)

Namun kemudahan itu tidak datang dari euforia, melainkan dari kesabaran, ketepatan langkah, dan keberpihakan pada yang paling membutuhkan.

Menjaga Marwah Kepedulian

Aceh Tengah dikenal dengan kearifan lokal dan religiusitas yang kuat. Dalam tradisi kita, kepedulian bukan hanya nilai, ia adalah identitas. Karena itu, kebijakan publik seharusnya tidak hanya diukur dari niat baik, tetapi juga dari:

  • Sensitivitas sosial
  • Ketepatan waktu
  • Keberpihakan yang nyata

Pacuan kuda tetaplah bagian dari budaya dan kebanggaan daerah. Ia bisa menjadi simbol kebangkitan jika ditempatkan pada waktu yang tepat. Tetapi ketika luka masih terbuka, maka yang lebih dibutuhkan bukanlah perayaan, melainkan kehadiran. Bukan keramaian, tetapi kepedulian.

Sebab pada akhirnya, pemulihan sejati bukan tentang mengalihkan perhatian dari luka, tetapi memastikan luka itu benar-benar pulih.

Redaksi

Recent Posts

Astaga, lahan KAI untuk rusun Tanah Abang diserobot pihak lain

Pemerintah Akan Bangun Rumah Susun di Tanah Abang, Jakarta Pusat Pemerintah Indonesia berencana membangun rumah…

3 bulan ago

Denada & Ressa: Haru Bertemu dalam Tangis

Denada Akhirnya Bertemu Putra Kandung Setelah 24 Tahun Terpisah: Momen Penuh Haru dan Klarifikasi Setelah…

3 bulan ago

Ben Kasyafani Pilih Jadi Sahabat untuk Sienna Saat Putuskan Lepas Hijab, Ini Alasannya

Pendekatan Orang Tua yang Berbeda dalam Menghadapi Perubahan Anak Keputusan Sienna untuk melepas hijab belakangan…

3 bulan ago

Mengapa Lulusan RPL Jadi Incaran di Dunia Teknologi?

JAKARTA – Transformasi digital bukan lagi sekadar tren, melainkan kebutuhan utama di hampir semua sektor…

3 bulan ago

Veda Sadar Diri, Juara Red Bull Rookies Cup Tampil Gesit di COTA

Alvaro Carpe, pembalap Red Bull KTM Ajo, kembali mengungkap perjuangannya dalam meraih podium secara dramatis…

3 bulan ago

5 Fakta Mencengangkan Persib Bandung Kalahkan Semen Padang: 2 Rekor Tak Terduga, Bintang Persija Terpengaruh

Lima Fakta Mencengangkan Persib Bandung yang Mengalahkan Semen Padang Pertandingan antara Persib Bandung dan Semen…

3 bulan ago