Aktivitas fisik berat, seperti angkat beban atau proses melahirkan, sering kali dianggap sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Namun, bagi sebagian orang dengan kondisi mata tertentu, aktivitas ini perlu diperhatikan lebih serius. Terutama bagi mereka yang memiliki mata minus tinggi.
Menurut dr. Dearaini, Sp.M, dokter spesialis mata dari Eka Hospital Permata Hijau, ada kaitan antara aktivitas dengan tekanan fisik tinggi dan kondisi retina pada mata. Banyak orang mengira mata minus hanya berdampak pada kemampuan melihat jauh. Padahal, pada kondisi tertentu, ada hal lain yang perlu diperhatikan.
Pada mata dengan minus tinggi, struktur bola mata mengalami perubahan. “Jadi orang-orang dengan mata minus tinggi yang diatas 5 tadi itu dia memiliki bola mata yang lebih panjang dibandingkan dengan normal. Terus retina nya juga lebih tipis,” ungkapnya dalam media briefing di Blok M Jakarta Selatan, Selasa (14/4/2026).
Kondisi ini membuat retina menjadi lebih rentan dibandingkan mata normal. Retina sendiri merupakan bagian penting dalam proses penglihatan, sehingga gangguan pada area ini bisa berdampak besar.
Aktivitas yang melibatkan tekanan tinggi pada tubuh, seperti mengejan saat melahirkan atau mengangkat beban berat, bisa meningkatkan risiko pada retina yang sudah tipis. Namun, bukan berarti semua aktivitas harus dihindari sepenuhnya. Yang terpenting adalah memahami kondisi tubuh masing-masing.
Dr. Dearaini menjelaskan bahwa tekanan fisik tertentu dapat memperparah kondisi retina jika sebelumnya sudah ada masalah. “Jadi kalau misalnya retina udah ada robekan kecil itu bisa diperparah, misalnya melahirkan kan ‘ngejen’, lalu ngangkat benda berat kan juga nah itu takutnya bisa meningkatkan resiko robekan retina semakin banyak,” paparnya.
Artinya, risiko biasanya meningkat jika sudah ada robekan kecil sebelumnya. Meski demikian, kondisi ini tidak selalu berujung pada gangguan serius. Dalam beberapa kasus, robekan retina bisa berukuran kecil dan masih dapat ditangani dengan tindakan medis. Namun, jika robekan semakin luas, dampaknya bisa lebih besar terhadap penglihatan.
Karena itu, penting untuk tidak mengabaikan tanda-tanda awal. Salah satunya adalah munculnya floaters atau bayangan seperti bintik-bintik yang melayang di penglihatan. Bagi yang memiliki mata minus tinggi, olahraga tetap boleh dilakukan, termasuk aktivitas seperti gym. Namun, sebaiknya disesuaikan dengan kondisi dan tidak berlebihan.
Dr. Dearaini menyarankan agar tetap berhati-hati, terutama dalam memilih beban. Beban ringan masih relatif aman, tetapi penting untuk tidak memaksakan diri.
Selain itu, pemeriksaan mata secara berkali-kali juga menjadi langkah penting untuk memastikan kondisi retina tetap baik. Alih-alih merasa takut, langkah terbaik adalah memahami kondisi tubuh sendiri. Tidak semua orang dengan minus tinggi akan mengalami masalah retina, tetapi kewaspadaan tetap diperlukan.
Pemeriksaan ke dokter mata menjadi langkah bijak, terutama jika muncul gejala yang tidak biasa. Dengan begitu, aktivitas sehari-hari tetap bisa dilakukan dengan aman tanpa mengorbankan kesehatan mata.
Pemerintah Akan Bangun Rumah Susun di Tanah Abang, Jakarta Pusat Pemerintah Indonesia berencana membangun rumah…
Denada Akhirnya Bertemu Putra Kandung Setelah 24 Tahun Terpisah: Momen Penuh Haru dan Klarifikasi Setelah…
Pendekatan Orang Tua yang Berbeda dalam Menghadapi Perubahan Anak Keputusan Sienna untuk melepas hijab belakangan…
JAKARTA – Transformasi digital bukan lagi sekadar tren, melainkan kebutuhan utama di hampir semua sektor…
Alvaro Carpe, pembalap Red Bull KTM Ajo, kembali mengungkap perjuangannya dalam meraih podium secara dramatis…
Lima Fakta Mencengangkan Persib Bandung yang Mengalahkan Semen Padang Pertandingan antara Persib Bandung dan Semen…