Elektrifikasi Rumah Tangga sebagai Strategi Mengurangi Ketergantungan Impor LPG
Elektrifikasi rumah tangga melalui migrasi ke kompor induksi menjadi langkah strategis yang dianggap efektif dalam menekan ketergantungan Indonesia terhadap impor LPG. Hal ini penting mengingat konsumsi LPG nasional mencapai sekitar 8 juta metrik ton per tahun, dengan sebagian besar dipenuhi melalui impor. Penggunaan energi listrik untuk memasak dinilai lebih efisien dan mampu mengurangi beban subsidi energi pemerintah.
Sugeng Suparwoto, Wakil Ketua Komisi XII DPR RI, menjelaskan bahwa penggunaan kompor induksi memiliki potensi menghemat hingga 30 persen biaya operasional rumah tangga dibandingkan penggunaan energi fosil seperti LPG subsidi. Dengan demikian, tingkat ketergantungan impor akan berkurang secara signifikan. Selain itu, sistem kelistrikan nasional saat ini dinilai cukup kuat untuk mendukung migrasi tersebut, dengan pasokan energi primer pembangkit yang terjaga.
“Kita punya pasokan listrik yang andal dari kekuatan domestik. Dengan mengubah energi berbasis impor seperti LPG menjadi energi berbasis listrik, kita tidak hanya menghemat anggaran, tetapi juga memperkuat kedaulatan energi nasional tepat dari dapur masyarakat,” ujar Sugeng.

Infografis sumber impor LPG Indonesia. – (Infografis )
Perkembangan Wacana Elektrifikasi di Masa Lalu
Wacana transisi dari kompor LPG menjadi kompor listrik telah muncul sebelumnya, termasuk pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Namun, pada September 2022, PT PLN (Persero) membatalkan program pengalihan kompor LPG 3 kilogram (kg) ke kompor listrik. Alasan utamanya adalah untuk menjaga kenyamanan masyarakat dalam pemulihan ekonomi pascapandemi Covid-19.
Eddy Soeparno, Wakil Ketua MPR, menyatakan bahwa transisi dari kompor gas ke kompor listrik membutuhkan biaya yang lebih murah jika dibandingkan dengan biaya subsidi impor LPG. Ia menyoroti bahwa harga LPG dipengaruhi oleh harga minyak dunia yang kian meningkat. Harga minyak jenis Brent dan West Texas Intermediate (WTI) saat ini berada di atas 100 dolar AS per barel, jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata harga minyak pada Januari 2026, di mana jenis Brent (ICE) sebesar 64 dolar AS per barel.
“Sebagaimana diketahui, Indonesia mengimpor 75–80 persen kebutuhan LPG yang harganya sejalan dengan harga minyak mentah,” ucap Eddy.
Tantangan dan Peluang Masa Depan
Meski ada tantangan dalam implementasi, Eddy menegaskan bahwa dirinya akan mendukung upaya pemerintah dalam mempercepat proses elektrifikasi. Hal ini mencakup sektor transportasi, industri, serta penggunaan kompor listrik di rumah tangga.
Beberapa manfaat yang bisa diperoleh dari elektrifikasi antara lain:
- Penghematan Anggaran: Penggunaan listrik untuk memasak dapat mengurangi biaya operasional rumah tangga dan beban subsidi energi pemerintah.
- Peningkatan Kedaulatan Energi: Dengan mengurangi ketergantungan pada impor, Indonesia dapat memperkuat kedaulatan energi nasional.
- Stabilitas Harga Energi: Listrik memiliki stabilitas harga yang lebih baik dibandingkan energi fosil yang fluktuatif karena harga minyak dunia.
Dengan adanya dukungan dari berbagai pihak, termasuk legislatif dan pelaku usaha, elektrifikasi rumah tangga melalui kompor induksi bisa menjadi solusi jangka panjang dalam menghadapi tantangan energi nasional.







