JAKARTA.
Implementasi kebijakan biodiesel B50 diharapkan menjadi katalis positif bagi kinerja perusahaan kelapa sawit atau crude palm oil (CPO), mengingat potensi peningkatan permintaan domestik dan penguatan harga CPO global. Pemerintah telah menetapkan bahwa penerapan aturan biodiesel 50% (B50) akan mulai berlaku pada 1 Juli 2026. Kebijakan ini dinilai akan mengubah struktur permintaan CPO di dalam negeri secara signifikan.
Menurut Abdul Azis Setyo Wibowo dari Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, implementasi B50 memiliki potensi sebagai sentimen positif bagi emiten CPO. “Kebijakan ini meningkatkan permintaan domestik secara signifikan, sehingga dapat menopang harga CPO,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa peningkatan serapan domestik akan memperketat keseimbangan pasokan global, yang akhirnya bisa mendukung stabilitas hingga penguatan harga CPO.
Luthfi Novardiansyah dari Panin Sekuritas menilai bahwa kebijakan mandatori B50 akan memberikan dampak positif terhadap sektor CPO secara keseluruhan. Hal ini diperkuat oleh tren harga CPO yang sudah berada dalam fase bullish pada kuartal I 2026, yaitu di level MYR 4.588 per metrik ton atau naik 13,3% year to date (YTD).
Ia menambahkan, harga CPO berpotensi melanjutkan penguatan seiring eskalasi tensi di kawasan Timur Tengah yang belum mereda serta keterbatasan pasokan akibat meningkatnya permintaan domestik. “Ini pun berpotensi mendorong harga CPO global ke depan,” katanya.
Menurut Luthfi, emiten yang memiliki eksposur langsung terhadap penjualan biodiesel atau fatty acid methyl ester (FAME) akan menjadi pihak yang paling diuntungkan dari kebijakan ini. Beberapa emiten yang disebut memiliki potensi dampak positif antara lain:
SMAR diketahui memiliki dua pabrik biodiesel dengan kapasitas produksi FAME sebesar 1,05 juta ton per tahun, yang berkontribusi sekitar 21,5% terhadap total pendapatan. Sementara itu, TBLA mencatatkan lonjakan volume produksi FAME pada kuartal III 2025 sebesar 545 ribu metrik ton, naik 113% year on year (YoY). Kontribusi FAME terhadap total pendapatan perusahaan mencapai 47,5% pada periode 9M25.
Adapun JARR mencatatkan kontribusi penjualan utama yang berasal dari FAME sebesar 82,6% terhadap total pendapatan pada 2025.
Ke depan, Abdul Azis menilai kebijakan B50 berpotensi mendorong kenaikan average selling price (ASP) serta volume penjualan emiten CPO. “Sehingga, secara kinerja bisa berpotensi meningkatkan kinerja baik dari top line maupun bottom line,” katanya.
Dengan kombinasi kenaikan permintaan domestik, potensi penguatan harga global, serta eksposur tinggi terhadap biodiesel, sektor CPO diperkirakan tetap menjadi salah satu sektor yang menarik dicermati investor. Dalam risetnya, Abdul Azis juga merekomendasikan trading buy untuk PT Perusahaan Perkebunan London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) dengan target harga Rp 1.550–Rp 1.560 per saham. Adapun level support berada di kisaran Rp 1.415–Rp 1.400 per saham.
Pemerintah Akan Bangun Rumah Susun di Tanah Abang, Jakarta Pusat Pemerintah Indonesia berencana membangun rumah…
Denada Akhirnya Bertemu Putra Kandung Setelah 24 Tahun Terpisah: Momen Penuh Haru dan Klarifikasi Setelah…
Pendekatan Orang Tua yang Berbeda dalam Menghadapi Perubahan Anak Keputusan Sienna untuk melepas hijab belakangan…
JAKARTA – Transformasi digital bukan lagi sekadar tren, melainkan kebutuhan utama di hampir semua sektor…
Alvaro Carpe, pembalap Red Bull KTM Ajo, kembali mengungkap perjuangannya dalam meraih podium secara dramatis…
Lima Fakta Mencengangkan Persib Bandung yang Mengalahkan Semen Padang Pertandingan antara Persib Bandung dan Semen…