bali.
BULELENG – Dinas Kesehatan (Dinkes) Buleleng memberikan perhatian khusus terhadap peningkatan kasus demam berdarah dengue (DBD) yang mencapai 109 kasus pada 9 April 2026.
Dari hasil penyelidikan epidemiologi di lapangan, petugas masih menemukan banyak jentik nyamuk di lokasi sekitar pasien. Sejauh ini, Kecamatan Gerokgak mencatatkan angka tertinggi, diikuti oleh Buleleng, Kubutambahan, Tejakula, dan Sukasada. Di sisi lain, empat kecamatan di Kabupaten Buleleng terpantau masih aman dari temuan kasus DBD.
“Begitu kami terima laporan, langsung kami menurunkan tim penyelidik epidemiologi (PE). Dari hasil pemeriksaan ditemukan sejumlah titik jentik,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Buleleng dr. Sucipto, Senin (13/4) kemarin.
Temuan tersebut memperkuat kekhawatiran adanya transmisi lokal di kawasan padat penduduk. Petugas kemudian menyisir rumah-rumah warga sekitar. Pengendalian darurat pun dilakukan melalui fogging selektif. Namun, Kadinkes Buleleng dr. Sucipto menegaskan fogging bukanlah solusi utama.
“Yang paling penting tetap pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Fogging tidak menjamin memutus siklus penularan, hanya membasmi nyamuk dewasa, potensi jentik masih ada, belum lagi adanya pencemaran udara,” kata dr. Sucipto.
Ia juga menyoroti kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan sekitar. Pasalnya, pemberantasan sarang nyamuk dengan mencegah tumpukan sampah dan genangan air seharusnya menjadi prioritas pencegahan di masyarakat.
Menurut dr. Sucipto, kepadatan penduduk, cuaca ekstrem, dan rendahnya kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan menjadi faktor utama pemicu. “Lingkungan padat dan banyak tempat genangan air yang tidak dibersihkan bisa menjadi sarang jentik. Ini yang harus diwaspadai,” ucapnya.
Kadinkes Buleleng terus mendorong masyarakat untuk lebih aktif agar tidak mengabaikan gejala awal DBD. “Jika anggota keluarga mengalami demam tinggi lebih dari tiga hari, disertai bintik merah di kulit, mual, muntah, atau mimisan, segera periksakan ke fasilitas kesehatan terdekat,” tutur Kadinkes Buleleng dr. Sucipto.
Beberapa faktor utama yang berkontribusi terhadap peningkatan kasus DBD di Buleleng antara lain:
Dalam upaya pencegahan dan penanganan DBD, Dinkes Buleleng melakukan beberapa langkah strategis:
Masyarakat diminta untuk lebih waspada terhadap gejala awal DBD, seperti demam tinggi selama tiga hari, bintik merah di kulit, mual, muntah, atau mimisan. Jika mengalami gejala tersebut, segera kunjungi fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan diagnosis dan pengobatan yang tepat.
Untuk mencegah penyebaran DBD, masyarakat disarankan:
Dengan kerja sama antara pemerintah dan masyarakat, diharapkan penyebaran DBD di Buleleng dapat diminimalkan dan kasus-kasus baru dapat dicegah sejak dini.
Pemerintah Akan Bangun Rumah Susun di Tanah Abang, Jakarta Pusat Pemerintah Indonesia berencana membangun rumah…
Denada Akhirnya Bertemu Putra Kandung Setelah 24 Tahun Terpisah: Momen Penuh Haru dan Klarifikasi Setelah…
Pendekatan Orang Tua yang Berbeda dalam Menghadapi Perubahan Anak Keputusan Sienna untuk melepas hijab belakangan…
JAKARTA – Transformasi digital bukan lagi sekadar tren, melainkan kebutuhan utama di hampir semua sektor…
Alvaro Carpe, pembalap Red Bull KTM Ajo, kembali mengungkap perjuangannya dalam meraih podium secara dramatis…
Lima Fakta Mencengangkan Persib Bandung yang Mengalahkan Semen Padang Pertandingan antara Persib Bandung dan Semen…