Paskah: Apa Makanan dan Minuman Yesus di Perjamuan Terakhir?

Perjamuan Terakhir Yesus: Apa yang Dikonsumsi?

Dalam Alkitab, terdapat catatan mengenai perjamuan terakhir yang diadakan oleh Yesus bersama murid-muridnya. Pada saat itu, Yesus sudah mengetahui bahwa dirinya akan dibunuh saat merayakan Paskah bersama para murid. Dalam Injil Matius 26:2, Yesus berkata, “Kamu tahu bahwa dua hari lagi akan dirayakan Paskah, dan Anak Manusia akan diserahkan untuk disalibkan.” Selanjutnya, dalam ayat 17, dikatakan bahwa murid-murid Yesus datang kepadanya dan bertanya, “Di mana Engkau kehendaki kami mempersiapkan perjamuan Paskah bagi-Mu?”

Yesus menjawab, “Pergilah ke kota kepada si Anu dan katakan kepadanya: Pesan Guru: Waktu-Ku hampir tiba; di dalam rumahmulah Aku mau merayakan Paskah bersama-sama murid-murid-Ku.” Murid-murid Yesus kemudian melakukan seperti yang diperintahkan dan mempersiapkan perjamuan Paskah. Setelah hari malam, Yesus duduk makan bersama kedua belas murid itu.

Bacaan Lainnya

Yesus lalu mengambil roti dan anggur, yang kemudian diserahkan kepada murid-muridnya sebagai simbol tubuh dan darah Yesus. Ia juga meminta murid-muridnya untuk melakukan perjamuan kudus (ekaristi) itu “sebagai peringatan akan Aku.”

Roti Tidak Beragi dan Anggur

Alkitab menyebutkan dua hidangan utama dalam perjamuan tersebut, yaitu roti tidak beragi dan minuman anggur. Roti tak beragi adalah jenis roti panggang tanpa ragi yang terbuat dari tepung dan air. Pada masa itu, umum bagi masyarakat untuk mencampur gandum giling dengan oat, barley, gandum hitam (rye), dan biji-bijian lain yang tersedia.

Dalam tradisi Yahudi, Paskah adalah hari peringatan atas pembebasan bangsa Yahudi dari Mesir Kuno. Saat itu, roti tanpa ragi menjadi hidangan wajib dan mudah disajikan selama pelarian mereka.

Bahan-Bahan Sederhana

Mengingat Yesus adalah seorang Yahudi yang miskin, begitu pula para muridnya, maka dapat diasumsikan bahwa bahan-bahan sederhana itulah yang tersedia bagi mereka. Sejarawan André Leonardo Chevitarese menjelaskan bahwa di meja Paskah saat itu, terdapat roti tak beragi dan minuman anggur. Bukan untuk diminum hingga mabuk, karena bisa dibayangkan, itu bukanlah jamuan yang mewah yang melimpah.

André juga memandang bahwa meja perjamuan kudus itu tidak menyajikan hidangan mewah dan melimpah. Melainkan hanya beberapa potong roti, anggur berkualitas rendah dan sedikit buah-buahan. “Bagaimanapun, anggur tetap ada. Namun, bukan anggur impor, melainkan anggur produksi lokal dengan kualitas rendah.”

Buah-buahan yang kemungkinan besar tersaji di meja Yesus saat itu adalah delima, kurma, dan anggur.

Anggur Kuno

Meskipun ada konsensus bahwa anggur telah ditemukan sekitar 6.000 tahun yang lalu, hanya sedikit orang yang berani mengasumsikan seperti apa rasa anggur yang diminum oleh Yesus dan para pengikut. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pada masa itu, minuman anggur memiliki kualitas rendah tanpa standar yang konsisten. Anggur sering kali dicampur dengan tanaman herbal aromatik, madu, dan buah-buahan.

Hal ini dilakukan karena beberapa alasan:
* Memberikan sensasi segar;
* Menyamarkan rasa yang kurang sedap;
* Mengurangi rasa asam dan rasa teroksidasi akibat proses penyimpanan yang tidak memadai.

Dalam bukunya yang berjudul Ancient Wine: The Search for the Origins of Viniculture, arkeolog Patrick Edward McGovern menjelaskan bahwa sudah menjadi kebiasaan untuk mencampurkan kuncup tanaman kaper, kunyit, lada, dan berbagai jenis rempah-rempah ke dalam minuman anggur. Dan pada saat akan diminum, minuman itu juga dicampur dengan air.

Pada masa itu belum ada botol maupun tong yang memadai untuk mengawetkan anggur. Proses pencampuran itu menjadi solusi untuk menyimpan buah anggur hasil panen agar bisa dimanfaatkan sepanjang tahun. Hal itu menunjukkan bahwa anggur kering—dan bukan anggur segar—lah yang akhirnya digunakan, serupa dengan minuman yang dibuat dari kismis saat ini yang menghasilkan alkohol lebih kuat serta rasa antara manis dan pahit.

Roti Sehari-hari

Dalam bukunya berjudul Six Thousand Years of Bread: Its Holy and Unholy History, peneliti Heinrich Eduard Jacob mengupas secara mendalam bagaimana Yesus, dan kemudian Kekristenan, menggunakan makna roti dalam ajaran-ajarannya. Johannes Roos, pembuat roti asal Jerman yang juga merupakan pelatih tim nasional pembuatan roti Brasil, meyakini bahwa dalam kehidupan sehari-hari Yesus mengonsumsi roti beragi—dan bukan hanya roti tidak beragi yang disebutkan dalam Alkitab.

“Roti yang dimakan pada periode itu adalah roti gandum utuh [integral], dengan campuran tepung dari berbagai jenis, seperti gandum, sorgum, spelt… Difermentasi secara alami dengan proses yang lambat,” ujar Roos dalam wawancara dengan BBC News Brasil. “Menurut saya rotinya lebih gelap, dengan tekstur gilingan yang lebih kasar.”

Roos lalu melangkah lebih jauh dengan menciptakan sebuah resep roti kontemporer, yang merupakan interpretasi ulang modern dari roti yang dikonsumsi di Yerusalem 2.000 tahun yang lalu.

Sakramen

Di kalangan teolog dan peneliti kekristenan, tidak ada keraguan bahwa roti dan anggur, yang sarat dengan makna religius, adalah bagian utama dalam Perjamuan Terakhir. “Kita sedang membicarakan perayaan Paskah yang tengah berlangsung. Ini adalah perayaan khas orang Yahudi, sebuah pesta yang ditetapkan sejak zaman kuno untuk menandai keluarnya mereka dengan tergesa-gesa dari Mesir. Ketika dalam pelarian itu mereka memakan rempah pahit, membagi-bagikan roti, dan memakan domba yang dikorbankan,” jelas sejarawan, filsuf, dan teolog Gerson Leite de Moraes.

“Perayaan ini memperingati momen pembebasan. Roti tidak beragi ini mengenang kepergian dan pelarian itu, karena itu adalah roti orang miskin, roti bagi orang yang terburu-buru dan memiliki sumber daya terbatas.” Anggur adalah minuman umum yang menjadi bagian dari makanan dan adat istiadat, serta kebiasaan setiap orang.

Moraes menyatakan bahwa, meskipun beberapa kaum moralis religius yang tidak meminum alkohol merasa terganggu, adalah fakta sejarah bahwa Yesus sering meminum anggur. “Hal ini harus dipahami tanpa memunculkan skandal apapun. Pada titik tertentu, Yesus akhirnya dituduh sebagai pemabuk, merangkul pelacur, berpartisipasi dalam pesta-pesta, berjalan bersama orang-orang sederhana dan miskin… Yesus adalah seorang yang periang, dan momen terakhinya adalah saat di mana ia berada sebagai orang Yahudi yang umumnya merayakan Paskah.”

Hal yang penting, menurut Moraes, adalah bagaimana Yesus akhirnya memberi makna baru pada perjamuan itu—dan dengan demikian, mendirikan kekristenan. “Ia mengubah proses [Paskah]. Ia memanfaatkan seluruh situasi itu untuk memaknai ulang perjamuan, mengubah pertemuan sekelompok orang Yahudi tersebut dengan menetapkan sakramen baru. Dan tepat itulah yang mendasari gereja: Ekaristi, Perjamuan Kudus. Dari sebuah pesta Paskah Yahudi, Ia menetapkan sebuah sakramen baru. Ia memberi makna baru pada roti dan anggur.”

Pos terkait