Warga Tangerang Selatan diminta untuk tetap waspada terhadap potensi hujan lebat yang diprediksi akan terjadi pada 7-13 April 2026. Fenomena ini berkaitan dengan peralihan dominasi monsun dari Asia ke Australia, yang memicu dinamika cuaca ekstrem di wilayah Banten, termasuk Tangsel.
BMKG Wilayah II Tangsel, Hartanto menjelaskan bahwa peralihan monsun menyebabkan perubahan pola angin dan sirkulasi udara di wilayah Indonesia bagian barat. Saat monsun Asia mulai melemah dan monsun Australia mulai dominan, terbentuk pola konvergensi yang meningkatkan peluang hujan lebat.
Konvergensi adalah pertemuan massa udara dari berbagai arah yang memaksa udara naik, sehingga terbentuk awan hujan. Di Tangsel, proses ini diperkuat oleh pemanasan siang hari yang intens, mendorong pertumbuhan awan konvektif. Awan konvektif adalah jenis awan yang tumbuh tinggi secara vertikal akibat udara panas yang naik. Awan ini kerap memicu hujan dengan intensitas tinggi, bahkan disertai petir dan angin kencang.
“Inilah alasan kenapa hujan tiba-tiba bisa sangat ekstrem di kota-kota seperti Tangsel,” kata Hartanto.
Selain konvergensi, labilitas atmosfer juga berperan penting. Labilitas atmosfer terjadi saat suhu udara di permukaan lebih panas dibanding lapisan atas, sehingga udara mudah naik dan memicu pembentukan awan hujan. Dalam tiga hari terakhir, wilayah Banten mengalami hujan dari kategori ringan hingga sangat lebat. Di Kabupaten Lebak tercatat curah hujan mencapai 105 mm per hari pada 4 April 2026.
Fenomena serupa diperkirakan akan terjadi di Tangsel pada 7-8 April, meskipun intensitasnya sedikit lebih rendah. Ia memprediksi hujan sedang hingga lebat akan terjadi di Tangsel pada 7 April, dan meningkat menjadi lebat hingga sangat lebat pada 8 April. Kondisi ini berpotensi memicu genangan, pohon tumbang, dan gangguan transportasi.
“Warga harus tetap waspada, terutama pengendara kendaraan bermotor. Hujan lebat disertai angin dan petir bisa meningkatkan risiko kecelakaan,” tambah Hartanto.
Selain itu, masyarakat disarankan menghindari berteduh di bawah pohon atau papan reklame dan membatasi aktivitas di ruang terbuka saat hujan lebat disertai petir. Informasi real-time dapat diakses melalui aplikasi InfoBMKG dan media sosial resmi BMKG.
Fenomena peralihan monsun ini merupakan siklus tahunan yang normal, namun intensitas hujan bisa berbeda setiap tahun tergantung kondisi atmosfer. “Pahami mekanismenya agar warga tidak panik dan bisa mengambil langkah antisipasi yang tepat,” pungkasnya.
Kesadaran masyarakat terhadap perubahan cuaca sangat penting dalam mengurangi risiko bencana. Dengan memahami mekanisme cuaca ekstrem dan mengambil langkah-langkah pencegahan, warga Tangsel dapat lebih siap menghadapi situasi yang mungkin terjadi.
Pemerintah Akan Bangun Rumah Susun di Tanah Abang, Jakarta Pusat Pemerintah Indonesia berencana membangun rumah…
Denada Akhirnya Bertemu Putra Kandung Setelah 24 Tahun Terpisah: Momen Penuh Haru dan Klarifikasi Setelah…
Pendekatan Orang Tua yang Berbeda dalam Menghadapi Perubahan Anak Keputusan Sienna untuk melepas hijab belakangan…
JAKARTA – Transformasi digital bukan lagi sekadar tren, melainkan kebutuhan utama di hampir semua sektor…
Alvaro Carpe, pembalap Red Bull KTM Ajo, kembali mengungkap perjuangannya dalam meraih podium secara dramatis…
Lima Fakta Mencengangkan Persib Bandung yang Mengalahkan Semen Padang Pertandingan antara Persib Bandung dan Semen…