Pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), khususnya sektor kuliner, mengalami tantangan besar akibat kenaikan harga plastik. Lonjakan harga ini terasa setelah perayaan Lebaran, sehingga pelaku usaha harus memutar otak agar tetap bertahan dalam situasi biaya operasional yang meningkat.
Pemilik Kedai Siru, Reni Novianty Refly, mengungkapkan bahwa kenaikan harga plastik terjadi cukup drastis dan di luar perkiraan. Ia menyebutkan bahwa kondisi ini diperparah dengan kelangkaan barang di pasaran. Efeknya sudah terasa, tinggi banget naik harga plastik. Kalau barangnya ada sih enak, tapi ini banyak yang kosong di mana-mana.
Menurut Anthie, beberapa toko plastik bahkan mengalami kekosongan stok. Kalaupun tersedia, harga yang ditawarkan jauh lebih tinggi dari biasanya. Contohnya, mika 650 ml yang biasa beli Rp 23 ribu, sekarang sudah Rp 37 ribu. Ini lagi bingung cari di mana lagi karena banyak kosong.
Kondisi tersebut membuat Anthie mempertimbangkan untuk menaikkan harga jual produknya, meski dengan berat hati. Ia menegaskan langkah itu diambil agar kualitas dan rasa tetap terjaga. “Kayaknya bakal naikin harga dikit, biar rasa dan kualitas tetap terjaga. Karena beban operasional juga sudah besar,” tambahnya.
Ia juga mengaku harus menyiasati penggunaan kemasan. Jika sebelumnya menggunakan thinwall, kini terpaksa beralih ke mika sebagai alternatif yang tersedia.
Sedangkan pemilik Bake With TA, Wita, juga mengungkapkan bahwa kenaikan harga plastik sangat berasa bagi pelaku UMKM kuliner yang sebagian besar menggunakan plastik. “Kemasan kita rata-rata pakai bahan dari plastik, semuanya naik dari thinwall, mika hingga kantong plastik. Maka kita harus putar otak untuk mensiasati kenaikan harga plastik ini,” katanya.
Menurutnya, lonjakan harga plastik yang sampai 100 persen tentu akan berpengaruh dengan keuntungan. Maka harus mensiasati dengan ukuran dan penekanan di bahan lainnya. Dengan tetap mempertahankan kualitas.
Sementara itu, Pemilik Dapur Neka, Dedi, mengaku kondisi usahanya masih relatif aman untuk saat ini karena memiliki stok plastik yang dibeli sebelum Lebaran. “Untuk sekarang masih aman karena masih pakai stok lama. Memang kenaikan ini terjadi setelah Lebaran,” jelasnya.
Namun, Dedi mengaku mulai bersiap menghadapi kemungkinan terburuk jika stok tersebut habis, mengingat usaha kateringnya sangat bergantung pada kemasan plastik untuk sayur dan lauk. “Nanti kalau stok habis juga mulai pusing karena harga naik. Sekarang lagi prepare saja,” ungkapnya.
Bukan hanya harga plastik untuk kemasan UMKM yang mengalami kenaikan. Harga kantong kresek atau kantong plastik ikut melonjak drastis. Di Kayuagung, OKI, para pedagang pasar tradisional Kayuagung, dibuat kaget akibat harga kantong plastik (kresek) melonjak drastis.
Tak tanggung-tanggung, kenaikan harga komoditas plastik mencapai dua kali lipat hingga 100 persen hanya dalam kurun waktu sebulan terakhir. Kenaikan harga bahan dasar plastik ini terjadi merata untuk semua ukuran. Rata-rata kenaikan harga yang dilaporkan pedagang jauh melampaui batas normal.
“Kenaikannya sangat signifikan. Kami sebagai pedagang bingung mau jualnya bagaimana lagi,” keluh Andre salah satu pedagang plastik di Pasar Kayuagung, Senin (6/4/2026) siang. Dijelaskan perbedaan harga yang sangat mencolok antara harga bulan Maret lalu dengan harga saat ini untuk kantong plastik ukuran kecil dari normal Rp 35.000, kini menjadi Rp 70.000 per pax. Sedangkan kantong plastik kresek ukuran besar dari harga Rp 55.000, sekarang menyentuh Rp 110.000.
Menurut para pedagang, mereka mendapat informasi dari pihak agen pasokan bahan baku plastik terganggu akibat konflik geopolitik dunia yang belum mereda. “Kami sebagai pedagang kecil hanya bisa pasrah. Kata agen memang stok dari pusat sulit dan harga modalnya melonjak karena konflik dunia itu,” katanya.
Tak hanya di Kayuagung, pedagang di Pasar Inpres Muara Enim menjerit karena harga kantong plastik dalam sepekan ini naik yang cukup signifikan sehingga ikut mengurangi keuntungan dalam berdagang. “Kantong plastik ini bukan naik lagi, tapi sudah pindah harga. Apalagi beberapa harga Sembako mulai naik sejak sebelum Ramadan hingga usai Lebaran. Hampir aktivitas jual beli tidak lepas dari kantin plastik,” ujar Rostima Siregar, pedagang daging di Pasar Inpres Muara Enim.
Dikatakan Rostima, harga kantong plastik sudah mengalami lonjakan cukup signifikan sepekan terakhir. Untuk plastik bening, harga yang sebelumnya berkisar Rp 7.000–Rp 8.000 kini melonjak menjadi Rp 12.000 – Rp13.000 per pax. Sementara plastik hitam juga mengalami kenaikan meski tidak setinggi plastik bening, yakni sekitar Rp 1.000 – Rp 2.000.
Menurut Fredi (32) yang merupakan distributor plastik membenarkan akhir-akhir ini ada kenaikan harga kantong plastik. Seperti untuk harga plastik Hitam naik dari Rp 6.000 menjadi Rp 8.000 per pak, sedangkan plastik bening meningkat dari Rp 8.000 menjadi Rp 12.000 per pak. Menurutnya, kenaikan harga sudah terjadi sejak sebelum bulan puasa, namun berlangsung secara bertahap hingga setelah Lebaran.
Diduga penyebabnya lonjakan harga ini dipicu oleh kenaikan bahan baku plastik, khususnya biji plastik impor. “Kalau dari agen, katanya biji plastik impor terdampak situasi perang di Timur Tengah, jadi harga ikut naik,” jelasnya.
Fredi juga mengaku khawatir dengan kondisi ini karena berdampak pada penurunan penjualan. Sebab tingginya harga kantong plastik membuat pedagang mengurangi pembelian, sehingga distribusi ikut tersendat.
Menanggapi kenaikan harga plastik tersebut, Kepala Dinas Perdagangan OKI, Syahrul melalui Kabid Pengembangan Perdagangan, Juairiyani M.Si menjelaskan bahwa kenaikan sudah terjadi di awal bulan April 2026 silam. “Terpantau kenaikan harga plastik sejak awal bulan yang dirasakan oleh pedagang di pasar tradisional dan toko penjual plastik di OKI,” ujar saat ditemui di ruang kerjanya.
Menurutnya harga plastik melonjak akibat terjadinya konflik di wilayah Timur Tengah (Timteng) dalam kurun waktu beberapa waktu terakhir. “Jadi plastik ini didatangkan bahan bakunya (Naphtha) dari Timteng yang merupakan hasil dari penyulingan minyak bumi disana,” jelasnya.
[NAMA PEMERINTAH DAERAH] juga mengatakan, adanya konflik geopolitik yang terjadi maka membuat distribusi bahan baku tersebut menjadi terganggu. Hingga harga jual plastik melonjak tajam. “Karena konflik geopolitik, distribusi bahan baku menjadi terganggu dan akibat nilai tukar rupiah membuat harga impor menjadi naik. Hingga adanya meningkatnya permintaan,” bebernya.
DINAS Perdagangan Provinsi Sumatera Selatan akan melakukan pengecekan lapangan menyusul potensi terganggunya rantai pasok bahan baku plastik akibat konflik di Timur Tengah. Kepala Dinas Perdagangan Sumsel, Henny Yulianti, mengatakan gangguan tersebut tidak bisa dianggap sepele. Pasalnya, bahan baku plastik seperti polipropilena sangat bergantung pada minyak bumi.
“Sekitar 25 persen ekspor minyak dunia berasal dari kawasan Timur Tengah dan sebagian besar distribusinya melewati Selat Hormuz, sehingga berpotensi mengganggu rantai pasok global. Hal ini tentu berpotensi mengakibatkan rantai pasok ikut terganggu,” kata Henny, Senin (6/4/2026).
Ia menjelaskan, dampak kondisi geopolitik global tersebut tidak hanya dirasakan masyarakat, tetapi juga dunia industri yang bergantung pada bahan penolong berbasis plastik. Menurut Henny, pihaknya telah berkoordinasi dengan pemerintah pusat yaitu Direktorat Jenderal Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga (PKTN) Kementerian Perdagangan untuk memantau perkembangan serta menyiapkan langkah mitigasi.
“Intinya pemerintah tidak tinggal diam dengan kondisi saat ini. Pemerintah pusat tengah mencari jalur alternatif untuk menjaga kelancaran pasokan bahan baku plastik,” ungkapnya.
Di sisi lain, masyarakat diimbau untuk mulai mengurangi penggunaan plastik, khususnya dalam kebutuhan rumah tangga, misalnya dengan membawa kantong belanja sendiri. Ia menambahkan, langkah efisiensi tersebut tidak hanya sebagai respons terhadap potensi gangguan pasokan global, tetapi juga dapat membantu menghemat pengeluaran rumah tangga.
“Untuk masyarakat, pengurangan penggunaan plastik masih bisa dilakukan. Namun bagi industri, diperlukan langkah khusus karena dampaknya terhadap harga makanan sudah mulai terasa,” katanya.
Selain pengurangan plastik, masyarakat juga diminta melakukan penghematan dalam penggunaan bahan bakar minyak dan listrik sebagai langkah antisipasi terhadap dampak lanjutan dari gejolak global.
Pemerintah Akan Bangun Rumah Susun di Tanah Abang, Jakarta Pusat Pemerintah Indonesia berencana membangun rumah…
Denada Akhirnya Bertemu Putra Kandung Setelah 24 Tahun Terpisah: Momen Penuh Haru dan Klarifikasi Setelah…
Pendekatan Orang Tua yang Berbeda dalam Menghadapi Perubahan Anak Keputusan Sienna untuk melepas hijab belakangan…
JAKARTA – Transformasi digital bukan lagi sekadar tren, melainkan kebutuhan utama di hampir semua sektor…
Alvaro Carpe, pembalap Red Bull KTM Ajo, kembali mengungkap perjuangannya dalam meraih podium secara dramatis…
Lima Fakta Mencengangkan Persib Bandung yang Mengalahkan Semen Padang Pertandingan antara Persib Bandung dan Semen…