Kedatangan jenazah Kopda Anumerta Farizal Rhomadhon di rumah duka, Padukuhan Ledok, Kulon Progo, pada Sabtu (4/4/2026) malam mengundang suasana duka yang mendalam. Pria yang gugur dalam misi perdamaian di Lebanon Selatan akibat ledakan proyektil di Desa Adchit al-Qusayr, menjadikan keluarga dan masyarakat khususnya di daerah ini merasakan kehilangan yang sangat berat.
Istri dari Kopda Farizal, Fafa, tidak kuasa menahan air mata saat jenazah suaminya tiba di rumah duka. Di hadapan peti jenazah yang berbalut bendera Merah Putih, ia menyampaikan kerinduan yang terpendam. Sembari mengelus rambut putri kecilnya yang masih berusia dua tahun, ia berkata dengan suara bergetar: “Ya Allah, kangen ayah Nak, kangen sama ayah ya Nak.” Ucapan itu menjadi perwujudan rasa rindu yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Pemulangan jenazah Kopda Farizal dilakukan melalui rangkaian panjang. Sebelum tiba di kediaman, jenazah beserta jenazah Serka (Anm) Muhammad Nur Ichwan lebih dulu diterbangkan dari Jakarta dan tiba di Pangkalan Udara (Lanud) Adisutjipto Yogyakarta sekitar pukul 21.20 WIB. Pada Sabtu petang, prosesi penghormatan terakhir secara kenegaraan juga telah dilangsungkan di Bandara Soekarno-Hatta.
Presiden Prabowo Subianto hadir langsung dalam upacara tersebut, tiba di lokasi pada pukul 18.46 WIB. Komandan Brigade Infanteri 25/Siwah, Kolonel Inf Dimar Bahtera, yang turut hadir di rumah duka memastikan bahwa seluruh rangkaian pemulangan jenazah berjalan dengan lancar dan sesuai jadwal.
Kopda Farizal Rhomadhon gugur pada Minggu (29/3/2026) akibat ledakan proyektil di dekat posisi pasukan di sekitar Desa Adchit al-Qusayr, Lebanon Selatan. Ia merupakan bagian dari Kontingen Garuda UNIFIL bersama Mayor Inf (Anm) Zulmi Aditya Iskandar dan Serka (Anm) Muhammad Nur Ichwan. Ketiga prajurit tersebut gugur dalam dua insiden berbeda saat menjalankan tugas di Lebanon di bawah mandat PBB.
Pemerintah Indonesia menyampaikan duka mendalam atas gugurnya para prajurit serta menegaskan komitmen untuk terus mendorong investigasi atas insiden yang menimpa pasukan perdamaian. Menteri Luar Negeri Sugiono menyampaikan duka cita yang sedalam-dalamnya bagi keluarga yang ditinggalkan.
Menlu Sugiono menegaskan bahwa Pemerintah Indonesia melalui Perwakilan Tetap di New York telah meminta Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk menggelar rapat darurat. Ia mengutuk keras serangan terhadap penjaga perdamaian dan menuntut dilakukan investigasi menyeluruh.
“Mereka adalah penjaga perdamaian, bukan peacemaking. Mereka tidak diperlengkapi untuk operasi ofensif, sehingga harus ada jaminan keamanan bagi para prajurit penjaga perdamaian,” jelas Menlu. Indonesia juga mendorong PBB untuk melakukan evaluasi terhadap sistem perlindungan pasukan penjaga perdamaian, khususnya di UNIFIL.
Menutup pernyataannya, Menlu kembali menyampaikan duka cita dan harapan agar para prajurit yang gugur mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan. “Sekali lagi, kami menyampaikan duka cita yang sedalam-dalamnya. Semoga arwah yang gugur diterima di sisi Tuhan dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran,” katanya.
Seluruh rangkaian pemulangan jenazah berjalan dengan khidmat dan penuh doa. Para warga sekitar, anggota TNI, dan keluarga besar almarhum turut hadir dalam prosesi penghormatan tersebut. Mereka memberikan dukungan moral dan spiritual kepada keluarga yang ditinggalkan.
Inisiatif Wali Kota Pekanbaru dalam Mengurangi Sampah Rumah Tangga Wali Kota Pekanbaru, Agung Nugroho, telah…
PTKIN Semakin diminati oleh Calon Mahasiswa Baru Pergurungan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) kini semakin…
Penataan Pasar Wage Purwokerto: Langkah Penting untuk Kesejahteraan Pedagang Setelah bertahun-tahun berjualan di area trotoar…
Latihan Soal SBdP Kelas 6 SD Semester 2 Kurikulum Merdeka Tahun 2026 Latihan soal SBdP…
Ibadah Fajar Paskah di Mimika Berlangsung Khidmat Ibadah Fajar Paskah di Kabupaten Mimika, Provinsi Papua…
Upaya Diplomasi di Tengah Ketegangan Laut Merah: Iran Tawarkan Paket Negosiasi Kompleks Situasi keamanan maritim…