Afrika-Eropa: Siapa yang Terjepit dalam Perdagangan?

Mengapa Perdagangan Bebas Eropa-Afrika Masih Menghasilkan Ketimpangan Setelah Setengah Abad?

Meskipun volume perdagangan antara Afrika dan Eropa terus meningkat dan hubungan ekonomi kedua kawasan tampak semakin erat selama lebih dari setengah abad, ketimpangan justru masih menjadi isu yang dominan. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan mendasar: mengapa kemitraan ekonomi yang terjalin begitu lama belum mampu menciptakan keseimbangan yang lebih adil?

Bacaan Lainnya

Surplus Ekspor yang Menipu: Studi Kasus Ghana

Salah satu contoh nyata yang menggambarkan kompleksitas situasi ini datang dari Ghana. Negara di Afrika Barat ini dikenal sebagai produsen emas, kakao, dan minyak, komoditas yang memiliki permintaan global tinggi. Secara teori, ini seharusnya menghasilkan pendapatan ekspor yang signifikan melebihi biaya impor.

Namun, realitas di lapangan menunjukkan gambaran yang berbeda. Ghana memberikan akses pasar kepada mitra dagangnya dengan imbal hasil yang tidak selalu optimal bagi perekonomian lokal.

Ambil contoh industri perunggasan. Sekitar 80% ayam yang dikonsumsi di Ghana bukanlah hasil produksi peternak lokal, melainkan diimpor dalam bentuk beku dari Eropa, Amerika Serikat, atau Brasil. Fenomena ini terjadi karena di negara-negara pengekspor tersebut, produsen seringkali hanya memanfaatkan bagian dada ayam untuk pasar domestik, sementara bagian lainnya dijual ke pasar internasional.

Meskipun ayam impor dikenakan bea masuk sebesar 30%, harganya tetap bisa mencapai 35% lebih murah dibandingkan produk lokal, seperti yang diungkapkan oleh sebuah studi pada tahun 2023. Kondisi ini membuat usaha peternakan ayam di Ghana semakin sulit untuk berkembang.

Charles K. Donkor, ketua Poultry Farmers Association di wilayah Ashanti, yang mengelola peternakan dengan 200 karyawan, menyuarakan keprihatinannya. “Jika Anda memproduksi ayam, orang tidak membelinya. Jadi Anda tidak bisa memproduksinya,” ujarnya. Peternakannya saat ini lebih fokus pada pemeliharaan ribuan ayam petelur untuk memenuhi kebutuhan telur, bukan daging. “Kami tidak bisa menciptakan lapangan kerja bagi anak muda dengan cara seperti ini,” tambahnya.

Latar Belakang Perjanjian Perdagangan: Dari Lomé hingga Samoa

Untuk memahami akar permasalahan ini, penting untuk menengok kembali sejarah hubungan ekonomi antara Eropa dan Afrika. Selama kurang lebih setengah abad, berbagai perjanjian dan kesepakatan telah dirancang dengan tujuan menciptakan perdagangan yang saling menguntungkan, setidaknya di atas kertas.

Semua bermula pada tahun 1975 dengan ditandatanganinya Konvensi Lomé antara Komunitas Eropa saat itu dan Organisasi Negara-Negara Afrika, Karibia, dan Pasifik (OACPS atau ACP Group). Sekitar setengah dari 79 negara anggota perjanjian ini berasal dari kawasan Afrika Sub-Sahara.

Konvensi Lomé, beserta perjanjian penerusnya seperti Cotonou (2000) dan Samoa (2023), menjadi kerangka utama bagi berbagai perjanjian perdagangan bebas, baik di tingkat regional maupun bilateral. Melalui skema ini, sebanyak 44 dari 54 negara Afrika memperoleh akses bebas bea ke pasar Uni Eropa. Banyak di antara mereka juga memanfaatkan ketentuan perdagangan negara berkembang yang dikenal sebagai “Everything But Arms” (EBA).

Namun, implementasi dari keseluruhan pengaturan ini tidak selalu menghasilkan manfaat yang merata bagi kedua belah pihak.

Analisis Arus Perdagangan: Peningkatan Volume, Ketimpangan Berlanjut

Analisis mendalam terhadap arus perdagangan selama 25 tahun terakhir, meskipun data terbaru belum sepenuhnya tersedia, menunjukkan tren yang jelas. Sejak pergantian milenium, volume perdagangan antara Afrika dan Eropa mengalami peningkatan signifikan di kedua arah.

Dalam beberapa tahun terakhir, ekonomi Afrika secara agregat cenderung memiliki surplus perdagangan dengan Eropa. Ini berarti nilai ekspor barang dari Afrika ke Eropa lebih besar daripada nilai impor barang dari Eropa ke Afrika. Namun, surplus ini seringkali tidak mencerminkan diversifikasi ekonomi yang kuat.

Surplus ekspor tersebut sebagian besar didorong oleh ekspor komoditas mentah seperti minyak dan gas, terutama dari negara-negara seperti Libya dan Aljazair. Nigeria dan Angola juga menyumbang arus besar devisa dari Eropa melalui perdagangan bahan bakar fosil. Antara tahun 2020 hingga 2022, nilai ekspor komoditas ini ke Uni Eropa meningkat lebih dari dua kali lipat, sebagian dipicu oleh lonjakan harga minyak mentah pasca-invasi Rusia ke Ukraina. Pantai Gading menjadi pengecualian positif dengan surplus besar yang dihasilkan dari ekspor kakao dan karet.

Di sisi lain, lebih dari separuh negara Afrika justru mencatat neraca perdagangan negatif dengan Eropa.

Ketergantungan Struktural: Afrika Masih Lebih Bergantung pada Pihak Luar

Selain neraca perdagangan keseluruhan, faktor penting lainnya adalah sifat fluktuasi arus perdagangan. Ekspor Afrika ke Eropa cenderung lebih berfluktuasi, sementara arus perdagangan dari Eropa ke Afrika cenderung lebih stabil.

Hal ini disebabkan oleh komposisi ekspor kedua kawasan. Afrika banyak mengekspor bahan mentah yang harganya sangat dipengaruhi oleh pasar global, sedangkan Eropa umumnya mengekspor produk manufaktur atau barang yang telah melalui proses pengolahan.

Akibatnya, Afrika memiliki ketergantungan yang jauh lebih besar pada Eropa sebagai pasar pembeli dibandingkan sebaliknya. Anja Berretta, kepala Africa Regional Economic Program di Konrad Adenauer Foundation, menjelaskan bahwa ekspor barang dari Afrika ke Eropa hanya berkisar antara 25-30%, sementara pasar Afrika memiliki signifikansi yang sangat kecil bagi perekonomian Eropa.

“Produk yang datang dari Afrika sebagian besar adalah produk belum diproses, misalnya di sektor pertanian atau bahan mentah lainnya. Sebaliknya, Afrika mengimpor barang industri atau produk yang sudah memiliki tingkat manufaktur tertentu dari Eropa,” ujar Berretta. Data perdagangan mengkonfirmasi pola ini, terutama dalam kelompok produk terbesar seperti sayuran, mineral, dan barang olahan, yang menunjukkan pergerakan produk yang sangat satu arah.

Potensi Kemitraan yang Lebih Besar dan Diversifikasi Industri

“Saat ini terdapat ketidakseimbangan yang merugikan Afrika,” kata Berretta. “Ini bukan hanya dengan Eropa, tetapi juga dengan Cina, Amerika, dan wilayah lain di dunia. Namun, menurut pandangan saya, tidak bisa dikatakan bahwa Afrika secara struktural sengaja dipertahankan tetap kecil.”

Ia menambahkan bahwa sebagian besar ekonomi Afrika gagal menginvestasikan kembali keuntungan dari komoditas pada tahun-tahun sebelumnya ke pasar domestik mereka, sehingga tidak berhasil melakukan diversifikasi industri. Ghana dan Mauritius disebut sebagai contoh positif karena kebijakan industri mereka diarahkan pada diversifikasi untuk meredam fluktuasi harga komoditas.

Joseph Matola, pakar ekonomi di South African Institute of International Affairs (SAIIA), melihat adanya peluang untuk memperluas perdagangan yang saling menguntungkan di balik ketimpangan ini. Uni Eropa, misalnya, sedang berupaya melakukan diversifikasi dan mengurangi ketergantungan pada Amerika Serikat, serta secara aktif mencari pasar lain, termasuk pemasok mineral kritis yang banyak dimiliki oleh Afrika.

Enam Tahun AfCFTA: Tantangan dan Harapan untuk Perdagangan Bebas Afrika

Matola juga menekankan pentingnya pemerintah Afrika untuk memprioritaskan ekspor produk yang telah diproses guna menciptakan nilai tambah dan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.

Untuk mendukung upaya ini, Uni Eropa melalui inisiatif Global Gateway telah menjanjikan dukungan investasi sebesar €150 miliar (sekitar Rp2.595 triliun) untuk infrastruktur dan produksi energi di Afrika.

Selain itu, Afrika sedang berupaya mengoperasikan sepenuhnya African Continental Free Trade Area (AfCFTA) yang mulai berlaku pada tahun 2021.

Zona perdagangan bebas yang mencakup 55 negara ini masih menghadapi tantangan besar untuk mewujudkan potensinya dalam menghapus berbagai hambatan pertukaran ekonomi. Berretta menilai proyek ini memiliki potensi besar bagi eksportir Eropa, karena AfCFTA bertujuan untuk menstandarkan pasar dan mengurangi hambatan perdagangan non-tarif.

“Yang saya maksud terutama adalah waktu tunggu yang sangat lama di perbatasan, peraturan bea cukai yang kadang sangat berbeda, serta infrastruktur yang sangat buruk,” jelasnya. Ia memberikan contoh pengiriman barang dari Namibia ke Kenya yang bisa memakan waktu sangat lama. Perbaikan dalam aspek-aspek ini akan membuat pasar Afrika menjadi jauh lebih menarik.

Mengenai apakah zona perdagangan bebas ini pada akhirnya akan mendorong pemerintah Afrika untuk menggabungkan kekuatan diplomatik mereka dalam negosiasi ekonomi, Matola optimistis. “Mereka seharusnya menggunakan AfCFTA sebagai platform negosiasi, bukan bertindak sendiri-sendiri. Akan sangat membantu jika banyak negara Afrika melakukan hal tersebut,” ujarnya.

Pos terkait