Kritik terhadap Narasi Provokatif yang Mengancam Stabilitas Nasional
Wakil Ketua Umum Partai Golkar, Idrus Marham, menyampaikan peringatan keras terhadap penyebaran narasi provokatif yang dinilai tidak objektif dan cenderung memicu polarisasi di tengah situasi global yang penuh tekanan. Ia menilai, narasi tersebut berpotensi mengganggu stabilitas nasional jika tidak segera ditangani dengan bijak.
Menurut Idrus, isu-isu yang muncul dari pernyataan tokoh publik yang bersifat multitafsir atau tidak utuh dapat mempercepat penyebaran disinformasi dan memperdalam perpecahan antar kelompok masyarakat. Hal ini, kata dia, bukan sekadar perbedaan pandangan, tetapi juga berkaitan dengan etika komunikasi politik yang harus dipertimbangkan secara matang.
“Dalam konteks politik yang dinamis, narasi seperti itu bisa ditafsirkan liar. Ini bukan hanya soal benar atau salah, tetapi soal dampak yang ditimbulkan,” ujarnya.
Idrus menekankan bahwa demokrasi Indonesia memiliki mekanisme konstitusional yang jelas dalam pergantian kekuasaan, sehingga isu pemakzulan tidak bisa dibangun dari opini atau spekulasi. Proses pemakzulan, menurutnya, adalah proses serius yang melibatkan lembaga-lembaga resmi seperti DPR, Mahkamah Konstitusi, hingga MPR.
“Pemakzulan itu proses serius, melalui DPR, Mahkamah Konstitusi, hingga MPR. Tidak bisa digiring lewat opini publik atau narasi tidak utuh yang provokatif,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa dalam era digital, informasi yang tidak utuh rentan disalahpahami dan dapat membentuk persepsi publik secara keliru. Hal ini berpotensi merusak kepercayaan terhadap institusi demokrasi.
Peran Tokoh Publik dalam Menjaga Keseimbangan Politik
Idrus menyoroti pentingnya tanggung jawab moral dari para tokoh publik dalam menyampaikan pernyataan. Ia menilai, setiap pernyataan yang dikeluarkan, khususnya dari kalangan intelektual, harus mempertimbangkan dampak sosial dan politik yang lebih luas.
“Kalimat yang dipotong bisa mengubah makna dan menjadi awal disinformasi. Kehati-hatian adalah keharusan,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa dalam situasi global yang penuh tekanan, mulai dari konflik geopolitik hingga ketidakpastian ekonomi, stabilitas politik menjadi kebutuhan mendesak. “Ketika dunia sedang tidak pasti, yang dibutuhkan adalah kepemimpinan yang solid dan ruang publik yang sehat, bukan narasi yang memecah belah,” katanya.
Pentingnya Objektivitas dalam Berdemokrasi
Idrus menutup pernyataannya dengan mengingatkan agar perbedaan politik tidak menghilangkan objektivitas dan kedewasaan dalam berdemokrasi. Ia menekankan bahwa demokrasi harus dijaga dengan akal sehat, etika, dan tanggung jawab, bukan provokasi yang berpotensi memperlebar polarisasi di tengah tantangan bangsa.
Selain itu, ia juga menekankan bahwa masyarakat harus menjaga solidaritas dan tidak mengambil keuntungan dari situasi yang berpotensi memecah belah persatuan.





