Fara adalah salah satu dari sekian banyak manusia patung yang mengenakan kostum noni Belanda di Kota Tua, Jakarta Barat. Ia bekerja sebagai pemakai kostum untuk berfoto bersama pengunjung, terutama selama libur Lebaran. Dengan kostumnya yang khas—gaun panjang dengan rok mengembang, sarung tangan hingga siku, dan payung—Fara menjadi daya tarik utama bagi anak-anak dan remaja yang ingin berfoto.
Enam hari lalu, Fara pulang ke Semarang untuk menjenguk orangtuanya. Namun, kini ia harus segera kembali bekerja demi memenuhi kebutuhan keluarga. Perjuangan Fara begitu besar, terutama dalam menghidupi dua anaknya. Ia tidak pernah menolak permintaan foto, meski terkadang merasa lelah.
Pada hari Minggu (22/3/2026), Fara baru saja kembali dari mudik. Ia meninggalkan rumah pada malam hari dengan naik travel dan tiba di Jakarta sekitar pukul 08.30 WIB. Setelah makan siang dan melakukan make up, ia langsung siap bekerja pukul 09.30 WIB. Meski lelah, Fara tetap semangat karena pengunjung cukup ramai.
Selama bulan Ramadan, pengunjung Kota Tua jauh lebih sedikit. Akibatnya, Fara sering tidak mendapat ajakan berfoto sama sekali. Hal ini membuat pendapatannya sangat minim. Namun, ia tetap bersemangat karena saat ini pengunjung cukup banyak.
Fara tidak memasang tarif resmi untuk sesi foto bersama. Ia memilih tarif yang seikhlasnya, mengingat kondisi ekonomi warga beragam. Ia juga menyediakan topi yang bisa digunakan pengunjung selama sesi foto tanpa biaya tambahan. Biasanya, pengunjung menaruh uang Rp 10.000 untuk satu sesi foto.
Mudik ke Semarang yang dilakukan Fara merupakan pertama kalinya dalam tiga tahun terakhir. Sejak 2023, Fara dan keluarganya tidak melakukan mudik karena kondisi ekonomi yang tidak stabil. Awalnya, suami Fara dirumahkan akibat dampak pandemi, sehingga keluarga kesulitan mencari nafkah.
Selama tiga tahun terakhir, Fara seperti tidak pernah memiliki libur. Ia bekerja sebagai manusia patung setiap hari, kecuali saat Kota Tua tutup atau saat harus mengantar anak piknik sekolah. Awalnya, Fara hanya berjualan es teh di Kota Tua pada 2012. Kemudian, ia mencoba menjadi manusia patung karakter hantu kuntilanak, tetapi dilarang oleh pengelola.
Akhirnya, Fara beralih menjadi manusia patung RA Kartini. Namun, untuk menarik lebih banyak pengunjung, ia berganti karakter menjadi manusia patung noni Belanda hingga saat ini.
Menurut Fara, karakter hantu kuntilanak menghasilkan uang paling banyak, sedangkan noni Belanda berada di urutan kedua. Meskipun demikian, Fara enggan menyebutkan jumlah pendapatan harian. Ia hanya menyatakan bahwa pendapatan dari pekerjaannya cukup untuk menyambung hidup empat anggota keluarga selama suaminya menganggur.
Saat ini, suami Fara sudah kembali bekerja selama tiga bulan. Fara berharap suaminya sukses dan anaknya bisa melanjutkan studi. Ia dan keluarga terus berjuang untuk membangun masa depan yang lebih baik.
Pemerintah Akan Bangun Rumah Susun di Tanah Abang, Jakarta Pusat Pemerintah Indonesia berencana membangun rumah…
Denada Akhirnya Bertemu Putra Kandung Setelah 24 Tahun Terpisah: Momen Penuh Haru dan Klarifikasi Setelah…
Pendekatan Orang Tua yang Berbeda dalam Menghadapi Perubahan Anak Keputusan Sienna untuk melepas hijab belakangan…
JAKARTA – Transformasi digital bukan lagi sekadar tren, melainkan kebutuhan utama di hampir semua sektor…
Alvaro Carpe, pembalap Red Bull KTM Ajo, kembali mengungkap perjuangannya dalam meraih podium secara dramatis…
Lima Fakta Mencengangkan Persib Bandung yang Mengalahkan Semen Padang Pertandingan antara Persib Bandung dan Semen…