Gaji Besar, Pekerjaan Rahasia?

Kebijakan Kerja Baru dan Tantangan ASN di Masa Krisis Energi

Pada suatu hari, lebih dari satu dasawarsa silam, seorang kawan yang bekerja sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) di sebuah kecamatan jauh dari kota kabupaten berbincang dengan saya perihal kebijakan lima hari kerja dalam seminggu. Dengan senyum, ia berkata, “Kalau kami di sini, sudah lama kerja lima hari seminggu. Jarang orang datang minta layani di hari Sabtu”.

Roda zaman terus berputar. Hari ini, Senin, 6 April 2026, pemerintah mulai menerapkan sistem kerja yang disesuaikan dengan kondisi dunia yang tengah menghadapi krisis energi akibat perang Iran versus AS-Israel. Tujuan utamanya adalah untuk menghemat energi transportasi. Oleh karena itu, setiap hari Jumat, sebagian ASN akan bekerja dari rumah (WFH), tidak perlu datang ke kantor. Selain itu, anggaran perjalanan dinas dipotong (50 persen untuk domestik dan 70 persen untuk internasional). Penggunaan kendaraan dinas, pemakaian listrik dan air juga dibatasi dan dikontrol.

Bacaan Lainnya

Setiap kebijakan seringkali mengundang kontroversi. Ada yang setuju dan ada yang tidak. Bagi yang setuju, alasan pemerintah bisa diterima. Namun, bagi yang menolak, mereka berargumen bahwa mengurangi penggunaan listrik bukanlah solusi yang tepat karena listrik kita lebih banyak menggunakan batu bara, bukan minyak. Ada juga yang bilang, jika kerja dari rumah dilaksanakan hari Jumat, yang terjadi bukan kerja, melainkan liburan panjang akhir pekan. Terlepas dari pro dan kontra ini, bagi para ASN, suka atau tidak, mereka harus menerima dan melaksanakannya.

Perubahan Pemikiran tentang Iman dan Etos Kerja

Pada masa Orde Baru, pernah ada diskusi yang menggebu-gebu perihal iman pada takdir Tuhan. Waktu itu pemerintah tengah mendorong agar agama dapat menjadi pendukung modernisasi atau pembangunan. Para cendekiawan dan ulama mulai ramai mengkritik teologi Asy’ariyah yang dianut mayoritas Muslim Indonesia. Kata mereka, teologi ini cenderung fatalis, pasrah pada takdir dan kuasa Tuhan. Karena itu, ia harus diganti dengan teologi muktazilah yang mengakui kebebasan manusia untuk membentuk nasibnya. Inilah etos kerja yang tepat untuk masyarakat modern.

Namun, banyak pula yang menolak. Sebagian penganut Asy’ariyah bilang, jika dibandingkan dengan teologi Protestan Calvinis, yang bagi Max Weber adalah “spirit” kapitalisme, maka teologi Asy’ariyah lebih mendingan dalam hal memberi ruang bagi kebebasan manusia. Kritik yang lebih tajam justru datang dari arah lain. Yang satu bilang, kaum Muslim Indonesia ini miskin bukan karena malas dan fatalis. Yang jadi soal adalah monopoli dan keserakahan orang kaya dan berkuasa. Yang lain lagi bilang, yang malas kerja itu bukan masyarakat biasa, tetapi pegawai pemerintah (ASN)!

Masalah Kehadiran dan Disiplin ASN

Salah satu sebab kemalasan ASN itu adalah pengawasan yang lemah. Dulu di masa Orde Baru pernah ada istilah “waskat” singkatan dari pengawasan melekat. Maksudnya, setiap ASN harus diawasi oleh atasan langsung yang mengetahui kerja anak buahnya tiap hari. Namun, kebijakan ini tidak sepenuhnya efektif. Penghambatnya adalah ketika itu gaji ASN sangat kecil sehingga sebagian mereka berusaha mencari tambahan penghasilan di luar kantor. Selain itu, “waskat” tidak efektif ketika “yang mengawasi dan diawasi sama-sama sepakat” alias TST, “tahu sama tahu”.

Pada masa Reformasi, dimulai oleh Presiden Abdurrahman Wahid, gaji ASN dinaikkan berlipat. Setelah itu, dari presiden ke presiden, gaji ASN semakin naik. Guru dan dosen pun mendapatkan tunjangan sertifikasi. Namun, apakah ASN bekerja lebih giat? Tak bisa digeneralisasi. Ada yang rajin, dan ada pula yang tetap malas. Kini pengawasan pun ditingkatkan dengan berbagai cara, mulai dari bukti kehadiran elektronik dengan sidik jari atau wajah, hingga evaluasi atas kinerja secara berkala, yang disebut SKP (Sasaran Kinerja Pegawai). Kenaikan pangkat diatur berdasarkan kinerja ini.

Tantangan dalam Reformasi Birokrasi

Namun, mereformasi birokrasi di negeri ini tidaklah mudah. Bagi orang yang malas, bukti kehadiran elektronik tetap bisa diakal-akali. Ada yang datang hanya untuk memindai jari atau wajah, dan setelah itu pergi entah ke mana. Ada yang konon bisa ‘mewakilkannya’ ke teman lain. Sebenarnya, atasan langsung si ASN yang malas itu juga tahu, namun dia tidak menegur dengan tegas. Mungkin dia takut. Mungkin pula, dan ini cukup banyak, dia tipe orang yang menghindari konflik, bermental cari selamat dan ingin baik pada semua orang sehingga dia tidak berani menegur bawahannya.

Penyebab Kemalasan ASN

Jika dicermati, tampaknya ada berbagai sebab yang membuat ASN itu malas. Pertama, dia besar pasak daripada tiang, lebih besar pengeluaran daripada pendapatan sehingga gajinya tergadai di bank. Tiap bulan gajinya dipotong oleh bank dan yang tersisa sangat sedikit bahkan nol. Akibatnya, dia malas bekerja. Kedua, ada lagi yang “balas dendam”. Semula dia honorer yang sering ditumpuki pekerjaan. Setelah diangkat jadi ASN, dia mulai bertingkah dan malas-malasan. Ketiga, karena sudah terbiasa cari tambahan di luar, maka saat gaji sudah besar pun, dia lebih suka sibuk di luar!

Pentingnya Pengawasan dan Disiplin

Namun, bukan berarti bahwa mayoritas ASN suka malas-malasan. Sependek pengamatan saya, para ASN itu umumnya rajin datang ke kantor. Yang malas itu tidak banyak, tetapi karena seringkali yang malas itu tidak ditindak, maka yang sedikit itu kadangkala memengaruhi yang banyak. Karena itu, pengawasan atasan langsung, penegakan disiplin dan sanksi yang tegas bagi yang malas, serta keteladanan pimpinan, adalah kunci penting untuk meningkatkan kinerja ASN. Orang yang selalu cari aman dan takut menegur atau sulit berkata “tidak” sebaiknya jangan jadi pimpinan!

WFH Bukan Libur

Selain itu, bekerja dari rumah bukan berarti libur kerja. Ini bekerja! Sebagian ASN memang ada yang berpikir, WFH itu libur. Ini tampak di zaman Covid-19 dulu. Sekarang, keadaannya sudah berbeda. Kita sudah terbiasa dengan layanan elektronik. Kita juga bisa mengerjakan dan mengirim hasil pekerjaan secara elektronik dari manapun. Misalnya, di UIN Antasari, sejak 2022 lalu, layanan surat dan administrasi untuk mahasiswa sudah serba elektronik melalui aplikasi SalamAntasari! Sejak awal 2025, kami juga adalah UIN pertama yang menggunakan aplikasi Srikandi untuk persuratan.

Kesimpulan

Akhirnya, dalam pengamatan saya, ASN yang rajin senantiasa sejahtera hidupnya, dan seringkali lancar pula kariernya. Siapa yang ikhlas memberi lebih, akan mendapatkan lebih pula, bahkan berlipat ganda. yang diterima dengan kerja yang sungguh-sungguh adalah gaji yang halal, dan karena itu berkah. Berkah itu gaib, tak terlihat mata, tetapi buktinya akan nyata terasa. Sebaliknya, yang tak jelas kerjanya, yang misterius, tapi gajinya besar alias serius, maka gajinya itu haram atau syubhat, tak berkah bahkan bisa mendatangkan musibah! (*)

Pos terkait